
Ch. 60 - kau akan menjadi milikku
Menyadari jika albara berada di dalam istana kota utahara timur, ia dengan kaget melihat dirinya tidur di dalam ruangan itu. Tampak yuna sedang memperhatikanya, ia senang melihat albara yang kebingungan.
"Albara ... sekarang kau adalah milikku, benarkan?"
Yuna terus menggoda albara, ia tampak senang menggodanya. ia yakin jika hati albara akan diluluhkan olehnya.
"Maaf ya, aku sudah menyukai seseorang. aku bertanya kepadamu, dimana kau menyimpan libe?"
Albara dengan yakin mengatakan itu, ia dengan tersenyum hangat menanyakan itu kepada yuna. tampak ia serius dengan ucapanya.
"Hmph ... tidak aku sangka gadis cantik sepertiku ini bisa ditolak oleh pria seperti dirimu. sepertinya kau lebih menarik yang aku duga ... aku tertarik kepadamu, albara. sampai jumpa, lagi albara."
Yuna berdiri, tampak ia serius mengatakan itu. ia kemudian menghilang dari tempat itu.
"Hoi! jangan pergi! setidaknya katakan dimana libe disimpan! jika terus begini, maka lebih baik aku mencarinya sendiri."
Albara beranjak dari rajang itu, tampak ia mengambil semua barang-barang yang ia bawa. kini, ia siap untuk menjelajah di dalam istana itu.
"I-ini? kenapa pintu ini terkunci? bagaimana caraku untuk keluar dari dalam ruangan ini?"
Terlihat, ruangan itu terkunci dengan sangat baik. hanya ada satu jalan keluar, albara harus mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.
Buak ...
"Hiyaa!"
Berkali-kali ia berusaha untuk mendobrak pintu itu, akan tetapi usahanya gagal. pintu itu dilindungi oleh sihir, ia tidak mungkin bisa keluar dari jebakan itu.
"Apa-apaan ini? kenapa pintu ini tidak bisa dihancurkan? apa mungkin pintu ini terlindungi oleh sihir? jika benar, hanya ada satu jalan keluar ..."
Albara mengambil sebuah buku yang diberikan oleh adipati wei. tampak ia mencari jalan keluar untuk menghadapi masalah seperti itu.
"Disini tertulis, jika ada pelindung sihir yang mengelilingi sebuah ruangan, maka kita harus menghancurkan pelindung itu dengan sihir, jika tidak bisa ... maka hanya ada satu cara ... menggunakan senjata sihir."
Albara menutup buku itu, tampak ia sudah menemukan jawaban untuk masalahnya itu. ia mengambil pedang sataka yang diberikan lia.
"Baiklah, semoga pedang ini bisa menghancurkan pelindung itu. hiyaa!"
Dengan sekuat tenaga, ia berhasil menghancurkan pelindung itu. dengan cepat, pintu itu terbuka sendiri karena panghalang berhasil dihancurkan.
Krek ...
Brug ...
__ADS_1
Albara terpental keluar dari dalam ruangan itu, ia terjatuh karen tidak bisa mengedalikan kekuatan pedang itu.
"Uhuk ... aduh, sakit sekali, ternyata pedang ini berguna juga. baiklah, sekarang saatnya untuk mencari asisten terlebih dahulu!"
Ia berada di sebuah lorong istana itu, tampak lorong itu sedikit gelap. ia harus melewati lorong itu dengan keberanian.
"Heh ... aku lupa jika dia memiliki pedang sataka. Lia, aku yakin kau pasti tertarik dengannya, begitupun dengan aku. kita lihat bagaimana cara dia untuk melewati rintangan selanjutnya."
Di sebuah ruangan, yuna mengetahui jika albara berhasil melewati rintangan pertama yang telah ia siapkan untuknya. ia yakin jika rintangan kali ini akan jauh berbeda dari sebelumnya.
Tap ... Tap ... Tap ...
"Ini terlalu sunyi, kenapa di istana ini tidak ada orang? kemana gadis itu pergi? tempat ini pasti dipenuhi dengan jebakan. aku harus berhati-hati!"
Albara berjalan dengan langkah yang hati-hati, ia yakin jika di dalam istana itu terdapat ribuan jebakan yang telah terpasang.
Tap ... Tap ...
"Aneh ... aku pikir akan ada jebakan yang terpasang di istana ini. tapi, ini lebih mudah dari yang aku bayangkan."
Albara dengan berhati-hati berjalan melewati setiap ruangan. ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Tap ... Tap ... Tap ...
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara langkah kaki beberapa orang. terlihat, bebera prajurit melewati tempat itu.
Beruntung albara berhasil bersembunyi sebelum mereka tiba. ia bersembunyi di dalam ruangan yang gelap.
Plang ...
"Gawat! kenapa aku bisa ceroboh seperti ini? bersembunyi tidak ada gunanya! sepertinya, aku harus bertarung!"
Tanpa sengaja, sebuah benda tidak sengaja dijatuhkan olehnya. suara itu terdengar oleh prajurit itu. mereka kemudian menyadari jika ada penyusup yang bersembunyi di istana.
"Penyusup!"
Seorang prajurit berteriak, ia melihat albara sedang mendekat ke arahnya. mereka terlibat pertarungan yang sangat sengit.
Buak ...
Brug ...
"Uh ... syukurlah mereka bisa dengan mudah dikalahkan. baiklah, aku harus cepat-cepat menemukan asisten!"
Albara dengan tergesa-gesa segera berlari dan meninggalkan ruangan itu. ia berlari di lorong serta melihat beberapa prajurit sedang berlari menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Itu dia! cepat tangkap orang itu! janan biarkan dia kabur! Hiyaaa!"
2 penjaga menemukanya, salah satu dari mereka mengayunkan pedang. tampak mereka bersiap untuk menyerang.
"Kenapa mereka bisa menemukanku? sepertinya, aku harus menggunakan cara lain untuk mengalahkan mereka."
Albara dengan cepat mengambil pistol yang dismpan di ransel. tampak ia menembakan beberapa amunisi ke arah mereka.
Brug ...
Dengan cepat mereka kembali dikalahkan, albara dengan mudah mengalahkan setiap penjaga yang menemukanya. ia dengan diam-diam mengalahkan ratusan penjaga di istana itu.
"Akh!"
Suara jeritan terdengar di sudut istana. tampak puluhan penjaga pingsan. mereka semua secara diam-diam dikalahkan.
"Heh ... 120 pasukanku berhasil dikalahkan olehnya. dia lebih kuat dari yang aku kira, tidak heran jika pengendali ke-1 kagum kepadanya. sekarang, aku menyambut kedatanganmu, dan keberhasilanmu, albara."
Dengan senang, yuna duduk di dalam sebuah ruangan yang disinari oleh cahaya matahari. ia tersenyum memperhatikan pintu yang menjadi satu-satunya jalan untuk menemuinya.
Krek ...
"Aku senang kau menyambut kedatanganku, yuna. tapi, apakah kau akan membalas apa yang sudah aku perbuat? aku sudah membuat kekacauan, apa kau tau itu?"
Pintu itu terbuka, tampak albara dengan senang memperhatikan yuna. ia dengan membawa pedang sataka berhadapan dengan yuna.
"Heh ... ternyata kau cukup menarik dari yang aku kira. aku yakin tujuanmu kesini adalah untuk mencariku, benarkan?"
Yuna berdiri, ia dengan senang memperhatikan albara dengan senyuman hangatnya.
"Benar ... aku datang untuk menanyakan dimana asisten berada sekarang! aku ingin menemuinya!"
Albara mendesak agar yuna segera memberitau keberadaan alisya. ia yakin jika yuna sedang mengurung mereka.
"Kalau aku tidak menjawab pertanyaanmu? apa kau akan berniat untuk menyerangku?"
Yuna dengan senang menggoda albara, ia dengan senang mendekat ke arah albara sambil memegang dagunya. tampak ia sedang menggunakan kekuatanya.
"Benar ... jika kau tidak mengatakanya, maka aku akan menggunakan cara lain agar kau bisa memberitau semuanya!"
Albara kembali mendesak agar yuna segera mengatakan tempat dimana alisya berada. ia dengan percaya diri mendekat.
"Baiklah, jika begitu. ayo kita membuat kesepakatan, jika aku kalah, maka kau akan mendapatkan jawaban dari pertanyaanmu. jika aku menang, kau akan menjadi milikku, apa kau berani?"
"Tentu saja."
__ADS_1
Tanpa keraguan, albara langsung menerima syarat itu. ia tidak menyadari jika yuna adalah pengendali terkuat di posisi ke-2.
Bersambung ...