Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch 8 - Hotel di tengah gurun


__ADS_3

Ch 8 - Hotel di tengah gurun


"Paman, siapa orang yang terakhir kali datang di kedai ini?" tanya albara, dengan penasaran.


"Tetakhir kali? Emm ... kalau tidak salah seorang tentara pernah datang ke kedai ini," ucap pemilik kedai itu.


"ha? seorang tentara? tentara yang melewati gurun ini hanya tentara dari pasukan atla ke-300. tetapi ini sunguh aneh, di berita tentara atla ke-300 hilang beberapa bulan yang lalu. kenapa dia bisa datang pada bulan sebelumnya?" tanya albara, di dalam pikiranya dengan penasaran.


"Paman, apa kau tau berapa jumlah tentara yang datang ke kedai paman?" tanya albara, dengan penasaran.


"Jumlah ya? Oh, jumlah mereka sangat banyak. tetapi hanya seseorang yang mau mampir ke kedai paman. kalau tidak salah, dia mengatan jika ia berasal dari tentara atla ke-300," ucap pemilik kedai itu.


"Ha? mustahil!" ucap albara sambil keheranan.


"Pasukan atla ke-300?" tanya alisya, dengan penasaran.


"Mustahil? memangnya ada apa?" tanya pemilik kedai itu.


"Paman, apa kau yakin mereka datang satu bulan yang lalu?" tanya albara, dengan penasaran menyanyakan itu.


"Paman yakin, kalau tidak salah. mereka menanyakan tentang penjelajah BluEx kepadaku. tetapi paman tidak mengetahui siapa penjelajah yang dimaksud oleh mereka," ucap pemilik kedai itu.


"Aneh, ada apa ini? sebenarnya apa yang sedang terjadi? mereka bilang kasus hilangnya pasukan Atla ke-300 terjadi beberapa bulan yang lalu. kenapa mereka datang ke kedai ini satu bulan yang lalu? apa mereka benar-benar hilang?" tanya Albara, dengan penasaran.


"Nak, sepertinya kau sangat penasaran dengan pasukan itu. apa kau bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi?" tanya pemilik kedai itu, dengan penasaran mengatakan itu.


"Tidak paman, tidak ada masalah. oh ya paman, apa kau menjual bahan bakar kendaraan? kami membutuhkan bahan bakar untuk melanjutkan perjalanan kami," ucap Albara.


"bahan bakar? tentu saja," ucap Pemilik kedai itu.


"itu saja yang aku beli. Alisya, ayo kita pergi," ucap albara, sambil berjalan meninggalkan kedai itu.


"Hah, baik," ucap alisya, dengan keheranan mengatakan itu.


Tap ... tap ... tap ...


mereka keluar dari kedai itu. pemilik kedai itu mengambil bahan bakar yang albara beli.


"nak, ini bahan bakar yang kau minta. paman akan menaruhnya di mobilmu," ucap pemilik kedai itu.


"Ja-jangan!" ucap albara, sambil merasa panik.


Tiba-tiba.


Brum ...


Pemilik kedai itu membawa pergi mobil Albara. ia merasa telah dibohongi, dengan cepat.


"Gawat, dia menipu kita. kita sekarsng dalam masalah," ucap albara, dengan merasa kesal mengatakan itu.


"Albara, bagaimana ini? apa kita harus berjalan kaki untuk bisa sampai di danau itu?" tanya alisya, dengan penasaran.


"Ha? benar, kita harus berjalan kaki," ucap albara, dengan merasa sedih mengatakan itu.

__ADS_1


Tap ... tap ... tap ...


Mereka berjalan kaki di hari yang panas itu. setiap langkah kaki mereka, dipenuhi rasa haus dan juga kelelahan.


"hah, i-ini sangat melelahkan. Alisya, apa kau baik-baik saja?" tanya albara, sambil kelelahan berjalan.


"A-aku tidak apa-apa, apa kita bisa menemukan tempat untuk beristirahat?" tanya alisya, dengan penasaran.


"Mungkin saja ada tempat yang bisa kita tinggali untuk sementara. tetapi, jaraknya lumayan jauh dari tempat kita berada saat ini," ucap albara, dengan merasa kelelahan.


"ha? baik," ucap alisya.


Tap ... tap ... tap ...


Hari semakin panas di gurun itu. perjalanan mereka lumayan jauh. kini, mereka melewati gurun itu dengan berjalan kaki.


Setelah puluhan menit berjalan kaki, mereka melihat ada sebuah desa yang berada tidak jauh dari mereka berada saat ini.


"Alisya, lihat ada sebuah desa di tempat itu!" ucap albara, dengan merasa senang mengatakan itu.


"benar, syukurlah kita bisa menemukan desa," ucap alisya, dengan merasa senang.


"ayo kita pergi ke desa itu!" ucap albara, dengan merasa senang mengatakan itu.


Tap ... tap ... tap ...


Mereka sampai di desa itu. tetapi, setelah mereka melihat isi desa itu. mereka tidak bisa menemukan satupun penduduk di desa itu.


"Mungkin, kita harus mencari lagi," ucap alisya, dengan merasa kelelahan.


Albara melihat sebuah toko mencurigakan yang berada tidak jauh ia berada saat itu. dengan merasa penasaran, ia berlata," Alisya, ayo kita pergi ke toko itu. mungkin ada orang di tempat itu," ucap albara, dengan merasa penasaran.


"ha? baik," ucap alisya.


Tap ... tap ... tap ...


Mereka masuk ke dalam toko itu.


Krek ...


mereka melihat ada banyak penjelajah di toko itu.


"ini? kenapa ada banyak penjelajah di tempat seperti ini?" tanya albara, dengan penasaran.


"Albara, tempat apa ini?" tanya alisya, dengan penasaran.


"Aku juga penasaran tentang tempat ini. sebaiknya kita menanyakan langsung kepada pemilik tempat ini," ucap albara, dengan merasa sedikit penasaran.


Tap ... tap ... tap ...


"kalian mau memesan minuman apa?" tanya pemilik toko itu.


"Paman, tempat apa ini?" tanya albara, dengan penasaran.

__ADS_1


"Ini adalah bar milikku," ucap Pemilik bar itu.


"jadi ini adalah bar?" tanya albara, dengan keheranan.


"benar anak muda, sepertinya kalian penjelajah yang baru datang ke desa ini. apa ada yang bisa aku bantu?" tanya pemilik bar itu.


"Paman, apa kau mempunyai tempat agar kami bisa menginap?" tanya Albara, dengan penasaran mengatakan itu.


"Tempt untuk menginap ya. tentu saja, aku memiliki hotel di samping bar ini." ucap pemilik bar itu.


"Benarkah?" tanya albara, dan alisya dengan keheranan.


"tentu saja benar. tetapi kalian cukup beruntung, karena bisa menginap di hotelku malam ini. hotel itu hanya tersisa satu kamar saja, karena banyak penjelajah yang menginap di hotel milikku. jadi hanya tersisa satu kamar saja," ucap pemilik bar itu.


"Tidak masalah, asalkan kami bisa menginap untuk semalam saja. benarkan alisya?" ucap albara, dengan merasa senang mengatakan itu.


"Eh, be-benar," ucap alisya, dengan merasa gugup mengatakan ituu.


"baiklah anak muda, aku akan mengantar kalian menuju ke dalam hotel," ucap pemilik bar itu.


Mereka keluar dari bar, untuk pergi ke dalam hotel.


Tap ... tap ... tap ...


Krek ...


mereka masuk ke dalam hotel itu. pemilik bar itu mengantar mereka menuju kamar yang satu-satunya tersisa di hotel itu.


Setelah mereka sampai. Pemilik bar itu berkata," Ini satu-satunya kamar yang tersisa. apa kalian mau menginap di kamar ini?" tanya pemilik bar itu.


"Eh, ini ... aku mau!" ucap albara.


"A-aku juga mau!" ucap alisya, dengan merasa gugup mengatakan itu.


"Maaf, kamar ini lumayan sempit. karena ini adalah kamar satu-satunya tersisa," ucap pemilik bar itu.


"Tidak masalah," ucap albara.


"Baik anak muda, aku pergi dulu," ucap pemilik bar itu.


Ia pergi meninggalkan Albara dengan alisya.


"hah, waktunya beristirahat setelah berjalan cukup jauh," ucap albara sambil masuk ke dalam kamar itu.


"Tunggu, aku merasa ada satu yang kurang di kamar ini. apa ya?" tanya albara, dengan penasaran.


"Eh, albara, dimana aku harus tidur? kamar ini hanya memiliki satu ranjang saja," tanya alisya, dengan penasaran.


"Ha? benarkah?" tanya albara, dengan keheranan mengatakan itu.


Tetapi, albara menyadari jika kamar itu hanya memiliki satu ranjang.


(Bersambung ... )

__ADS_1


__ADS_2