Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch. 68 - Lamaran


__ADS_3

Di wilayah utahara, tepatnya di dekat istana pemanah. tampak lia dan yuna bersama-sama menghadapi syah se. mereka berdua tampak kewalahan menerima serangan secara beruntun.


Bruak ...


Berkali-kali mereka terpental, akan tetapi semangat mereka tetap membara. tampak kali ini mereka hampir kehabisan energi.


"Uhuk ... a-aku tidak kuat lagi melawanya! rasanya sangat sakit! menerima serangan seperti itu ... membuatku muak!" ucap lia, ia bersandar di sebuah dinding dekat istana pemanah yang menjadi medan perang mereka.


"Aku kehabisan energi, kenapa kita 4 pengendali tidak bisa mengalahkan kakek tua ini! apa yang salah darinya?!" Ujar yuna.


"Kalian ... apa hanya ini kemampuan kalian? walaupun kalian berjumlah 4 orang melawanku, tapi jangan lupa jika aku adalah pengendali terkuat ..." Syah se tampak kecewa melihat kemampuan mereka, ia ingin bertarung sekali lagi.


Wussh ...


Ia mengangkat tongkatnya, memanggil seluruh senjatanya, kekuatanya mulai bermunculan di tempat itu. bola sihir dengan berukuran besar datang menyerang lia dan yuna, kini mereka dalam bahaya.


"Apa? kekuatan apa ini?" Tanya lia, dengan keheranan melihat hujan meteor yang datang menuju ke arahnya.


"Tidak ada waktu! kita harus segera pergi dari tempat ini! Ayo! kita gunakan kekuatan teleportasi!" Seru yuna, menggengam tangan lia membawanya pergi dari tempat itu.


Wussh ... Mereka pergi ke wilayah utahara timur, tampak yuna berhasil membawa mereka sampai di tujuan.


"Uh ... aku yakin dia tidak akan bisa sampai ke tempat ini, lia ... kita harus mengumpulkan energi kita!" Ujar yuna, berjalan mendekat ke istananya.


"Baik," Jawab lia.


Buak ... Seseorang menyerangnya dari belakang dengan cepat, ia terpental jauh akibat menerima serangan itu.


"Uhuk ... Um ..." Gumam Yuna, bersandar di dinding tembok itu.


"Usaha yang bagus, kalian pikir bisa kabur dariku? setelah berani melawanku, seharunya kalian tau jika aku tidak mungkin akan membiarkan kalian kabur begitu mudah!" Jelas syah se, menggertak mereka dengan wajah datar.


"Ha? kau? beraninya kau menyerang yuna! akan aku balas serangan itu! Hiyaa!" Seru lia, menyerang syah se sebagai pembalasan akibat tindakanya.


Buak ... Syah se menghindar, ia menyerang balik lia sampai ia terpental menabrak dinding.

__ADS_1


Duar ... suara ledakan terdengar di tempat itu, syah se menyadari jika mereka bukanlah lia dan yuna, itu hanyalah pancingan agar ia datang.


"Kalian ... tidak aku sangka kalian menggunakan kekuatan seperti ini, ini semakin menarik," ujar syah se.


Tap ... Tap ... Tap ... di gurun sahai, tampak yuna dan lia berjalan melewati padang pasir itu, mereka tampak sedikit kelelahan akibat terlalu banyak menggunakan energi.


"Huh ... seharusnya dia terperangkap dalam jebakan kita, be-benarkan lia?" Tanya yuna.


"Be-benar ... a-aku yakin dia pasti sedang bertarung melawan kekuatan ilusiku. itu bisa menghemat waktu untuk kita memulihkan energi," Jawab lia.


Wussh ... tiba-tiba, pasir beterbangan di tempat itu. tiba-tiba dari atas langit, muncul kekuatan besar datang menghampiri mereka. tampak syah se datang dan menyerang mereka.


"Ha? di-dia? tidak mungkin baginya secepat itu mengalahkan ilusiku!" Jelas lia, keheranan melihat kedatangan syah se.


"Usaha yang bagus, sepertinya pertarungan ini akan menarik!" Ujar syah se merencanakan sesuatu di dalam pikiranya.


Duar ... Duar ... Suara ledakan terdengar di tempat itu, lia dan yuna berlari untuk menghindari serangan itu


"Ha? ha ... ti-tidak bisa menghindar lagi, a-aku, aku kehabisan energi," Lia dan yuna berbaring di padang pasir itu. tampak mereka benar, benar kehabisan energi untuk menghindari serangan itu.


"I-ini? akhinya ... " Batin syah se menyadari seseorang telah datang menemuinya.


"Dasar syah se ... kau membuat putri-putriku menangis, padahal aku sudah mempercayakan mereka kepadamu ... kau sudah membuat mereka menangis," Seorang wanita dengan mengenakan jubah bewarna perak, serta rambut bewarna perak muncul secara tiba-tiba.


Wush ... Angin bertiup semakin kencang pada saat kehadiranya, kekuatan besar menyelimuti tempat itu. Seorang wanita itu, adalah ibu dari para pengendali, ia adalah, Ratu Sei.


"Syah se ... lama tidak bertemu, tapi aku kecewa melihat semua ini. kau sudah membuat mereka menangis," ujar ratu sei.


"Sei ... akhirnya kau datang juga, aku memang menunggu saat kau datang. lama tidak berjumpa, sei."


"Huh ... setelah membuat ke 5 putriku jadi seperti ini, kau berani mengatakan itu kepadaku? saatnya aku membalas semua yang sudah kau lakukan!"


Kekuatan dari ratu sei mulai terlihat, petir menyambar dimana-mana. awan hitam menyelimuti tempat itu, kemarhan dari seorang ibu melihat anak-anaknya menderita terlihat dimatanya.


"Kekuatan ini sudah lama aku tidak melihatnya. pertarungan yang sebenarnya, akan segera terjadi."

__ADS_1


Syah se mengangkat tongkatnya, ia memanggil badai pasir terbesar dengan ketinggian 300 meter datang ke tempat itu. Pertarungan antara dua kekuatan besar akan segera terjadi di tempat itu.


"Badai salju ini akan segera mengalahkanmu, saatnya aku untuk membawa kedamaian di dunia ini."


Ratu sei menunjuk syah se, dengan cepat ribuan hujan salju menghujani syah se secara beruntun.


"Aku akan menepati janjiku!"


Disusul oleh syah se yang menyerang balik menggunakan badai pasirnya, kedua kekuatan besar ini akan bertarung dengan serius.


Di sisi lain, di tengah pertempuran yang sengit terjadi di danau, terlihat felisya diikat disebuah kursi dekat sebuah jendela ruangan di istana wise. ia secara langsung menyaksikan pertarungan itu dengan kedua matanya.


"Heh, mereka berperang tanpa mengajakku? sayang sekali aku harus diikat di tempat seperti ini."


Sebuah tali khusus yang terbuat dari sihir mengikatnya, ia tidak bisa memotong tali itu dikarenakan hanya senjata yang terbuat dari sihir yang bisa digunakan untuk menghancurkan sihir itu. ia mencari cara agar dirinya bisa kabur dari ruangan itu.


"Heh ... seseorang tanpa sengaja meninggalkan belati ini hanya untukku?"


Felisya melirik sebuah belati yang berada di sebuah meja dekat dirinya diikat. ia menyadari jika dirinya memiliki harapan untuk kabur.


Tap ... Tap ...


Albara berlari melewati setiap prajurit yang berniat untuk menghabisinya. ia dengan mudah menerobos masuk pertahanan pasukan atla.


"Haha ... seseorang sepertiku tidak akan mudah dikalahkan! aku sudah dilatih untuk mengalahkan orang seperti kalian!" Seru albara sambil melompat, berlari melewati puluhan prajurit.


"Eh, aku pikir dia akan sedih, aku pikir dia akan mudah dikalahkan! aku tidak tau kenapa dia bisa bersemangat setelah kejadian ini?!" Ucap alisya, geram melihat albara yang nampak bersemangat.


"Asisten ... kau tadi bilang jika aku akan sedih karena kau meninggalkanku? kau salah ... aku memiliki tujuan, agar bisa bersamamu suatu hari nanti ... sudah aku putuskan, aku akan menikahimu suatu hari nanti!"


Tanpa berfikir dua kali, albara menyatakan dirinya bersedia menikah dengan alisya. tatapanya sangat serius, ia berniat untuk menikahi alisya.


"Heh ... Omong kosong apa lagi ini? tuan ... walaupun begitu, aku akan menghabisimu karena berani mengatakan itu!" Seru alisya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2