Albara Sang Penjelajah

Albara Sang Penjelajah
Ch. 51 - Penyerangan


__ADS_3

Ch. 51 - Penyerangan


Duar ...


Terdengar suara ledakan di dalam kota. tidak lama setelahnya, terdengar suara tembakan di kota itu. suara itu menandakan penyerangan sudah dimulai.


"Cepat! tutup gerbang ini! musuh menyerang! diulangi! musuh menyerang!!"


Puluhan tentara bersiap di posisi mereka, pintu gerbang ditutup dengan rapat. mereka menyiapkan senapan mesin mereka dan bersiap untuk menembak.


Ting! Tung! Ting! Tung! Ting!


Sirene terdengar di semua penjuru kota. para penduduk berhamburan masuk ke dalam rumah mereka. tidak sedikit dari mereka keluar secara diam-diam.


Tap Tap tap ...


Ratusan tentara berada di dalam benteng. mereka memperhatikan kedatangan ratusan tentara yang dipimpin oleh jenderal se mendekat.


"Lapor! setidaknya ... mereka mengepung kita dengan ratusan tentara mereka. jenderal, setidaknya mereka memiliki senjata artileri yang kuat. dinding benteng ini mungkin tidak cukup kokoh untuk menahan serangan artileri mereka!"


Seorang prajurit sedang mengawasi kedatangan tentara jenderal se. ia sangat khawatir melihat senjata yang mereka bawa untuk menghancurkan pertahanan mereka.


"Sersan ... cepat perintahkan agar seluruh prajurit yang berada di kota untuk fokus menghadapi mereka! kumpulkan pasukan, dan hubungi markas pusat! beritau mereka agar mengirimkan tentara bantuan!"


"Baik, laksanakan!"


Tap Tap Tap ...


Ia kemudian pergi dari hadapan jenderal sah fei. ia dengan gugup berlari pergi dari hadapanya.


"Sepertinya jenderal se berani menantang jenderal fe! aku tidak akan melepaskanmu kali ini, jenderal se! kau sudah berani menyerang kota ini! maka negara skar tidak akan diam saja!"


Jenderal sah fe sangat marah mengetahui jenderal se terlibat dalam penyerangan ini. ia dengan seluruh kemampuanya berjanji akan menghancurkan musuhnya.


Tap ... Tap ...


Setidaknya, 130 tentara reguler ditambah dengan 100 tentara infanteri beserta 200 milisi dan 20 senjata berat, bersiap untuk menyerbu benteng mereka.


Pasukan itu secara langsung berada di bawah komando jenderal se sebagai pemimpin mereka. jarak mereka dengan benteng diperkirakaan 200 meter dari tempat mereka berada saat ini.


"Sepertinya mereka sudah menuntup gerbang itu. sekarang, saatnya kita untuk segera bertindak!"


Jenderal se mengamati benteng itu dengan teropong miliknya, ia yakin mereka memiliki peluang untuk bisa memenangkan perang itu.


"Kakek ... semoga berhasil. aku dan asisten akan melihat aksi hebatmu ini ..."

__ADS_1


Albara bersama alisya duduk di dekat tempat itu. mereka mengamati pasukan kakeknya berharap mereka tidak akan direpotkan oleh kakeknya lagi.


"Tidak secepat itu cucuku ... kaulah yang membuat masalah ini, sekarang kau harus membantuku ... masalah ini lebih rumit dari yang aku kira. aku akan segera mengalahkan mereka, pasukan, jangan biarkan mereka kabur!"


"Apa? bukankah tugas kami sudah selesai? kami ... kau menipu kami ya? jelas kau hanya ingin bekerja sama denganku? kenapa kau meminta pasukanmu untuk mengawasi kami?" Tanya albara.


"Karena kalian istimewa. pasukan, saatnya merobohkan tembok itu! beritau divisi artileri, agar mereka menembakan meriam mereka tepat ke arah benteng itu!"


Tap ... tap ...


Jenderal se berjalan sambil membawa pedangnya menuju ke arah benteng itu. ia tanpa ragu sedikitpun berjalan dengan tenang menerobos tempat itu.


"Baik jenderal, laksanakan!"


Tap Tap Tap ...


"Pasukan! saatnya menghancurkan mereka!"


Tap Tap ...


Ratusan tentara berjalan mendekati benteng itu, mereka memulai serangan mereka dengan meledakan pintu gerbang itu.


Bom ...


"Tembak!!"


Duar ...


Duar ...


"Uhuk ... dasar! kenapa bantuan belum datang! cepat! beritau divisi komunikasi agar segera meminta bantuan dari markas pusat!"


Jenderal sah fe kesulitan menghadapi serangan mereka. ia berlindung di balik tembok benteng itu bersama dengan puluhan tentaranya.


"Jenderal ... mereka menghancurkan peralatan komunikasi kita! warga kota juga memberontak! mereka tiba-tiba memiliki senjata untuk menyerang kita!"


"Apa katamu?"


Duar ...


Bukan hanya di luar benteng, pertempuran juga terjadi di dalam kota. ratusan warga mengangkat senjata melawan mereka.


Tap ... tap ...


Sepertinya terowongan itu sangat memudahkan penyerangan mereka. tidak disangka-sangka, komandan Qing terlibat dalam penyerangan itu.

__ADS_1


"Cepat ... kepung benteng ini! jangan biarkan mereka kabur! "


Ia bersama dengan pasukan serta warga kota menyerang benteng dan terlibat pertempuran yang sangat sengit.


Angin bertiup semakin kencang, Albara kagum melihat pertempuran itu. ia bersama dengan alisya memperhatikan penyerangan itu dengan teropong. albara melihat kakeknya dengan berani menerobos tempat itu.


"Dia memang sangat berani ... asisten, sepertinya tugas kita sudah selesai. sekarang saatnya untuk menanyakan tentang libe kepada seseorang ..."


"Baik tuan ..."


Albara pergi dari tempat itu, ia menemui adipati wei untuk membicarakan masalah penting bersama mereka.


Setelah 2 menit berlalu.


Mereka bertiga duduk di dalam sebuah tenda yang sudah disiapkan jenderal se sebelumnya. sepertinya, sebelum jenderal se melancarkan serangan, mereka terlebih dahulu mempersiapkan tempat itu untuk pasukan mereka.


Adipati wei memperhatikan mereka, ia yakin jika mereka berdua mencarinya dengan alasan. ia yakin mereka berdua memiliki alasan untuk menemuinya.


"Kalian berdua ... seseorang yang mencariku pasti memiliki alasan tersendiri. seseorang menemuiku, dia pasti memiliki sebuah tujuan ... katakan saja, aku akan menjawabnya sebisaku ..."


Adipati Wei memperhatikan mereka, ia dengan senang menanyakan itu kepada mereka tanpa keraguan sedikitpun di dalam hatinya.


"Kau memang benar paman, aku mencarimu karena aku memiliki alasan tersendiri ... paman pasti tau kan, aku mencarimu untuk menanyakan hal yang sudah aku cari selama ini ..."


Albara tanpa sungkan menanyakan itu, ia tidak ragu menanyakan itu, meskipun ia sendiri sedikit ragu jika adipati wei menceritakan semuanya.


"Tentang libe?"


Adipati wei memperhatikan mereka, ia tersenyum memperhatikan mereka karena ia tau apa yang sedang mereka cari.


"Ha? bagaimana paman bisa tau?" Tanya alisya dengan penasaran.


"Bagaimana? tentu saja ... bagi seorang penjelajah, hal yang paling mereka cari adalah libe ... aku tau kalian mencari libe untuk bisa pergi ke kota yang hilang ... benarkan, albara?"


Ia memperhatikan albara tanpa keraguan di dalam dirinya. ia sepertinya ingin meberitau albara semua yang ia tau menenai libe.


Albara tersenyum, ia dengan senang menjawab,"Kau memang benar paman ... aku sebenarnya hanya ingin menanyakan, bagaimana cara kerja libe? bagaimana cara agar kita bisa untuk pergi ke kota yang hilang dengan bantuan benda ini?"


Albara sangat penasaran, ia tanpa sungkan menanyakan itu.


"Albara, Aku sebenarnya ingin mengatakan semua yang aku ketahui. tetapi, seseorang yang ingin masuk ke gerbang menuju kota yang hilang harus memiliki sebuah tujuan. albara, aku bertanya kepadamu, apa kalian memiliki tujuan untuk pergi ke kota itu? apa yang kalian berdua ingin lakukan ke kota ini? beritau aku ... setelahnya, aku akan mengatakan semua yang aku tau kepada kalian ..."


Adipati wei sebenarnya mengetahui semua itu, ia menghela napas dan berusaha menjawab apa semua yang ia ketahui.


"Hehe ..."

__ADS_1


Albara tersenyum, begitupun dengan alisya, mereka terlihat senang mendengar perkataan adipati wei.


Bersambung ...


__ADS_2