
Ch. 64 - Pengendali ke-6
"Kita sudah sampai, ini adalah pusat kota wise utara. semuanya ... aku akan mengantar kalian pergi untuk menemui kakak."
Yumna tampak senang menyadari setelah beberapa jam mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di kota wise. ia dengan senang ingin mengantar mereka untuk menemui kakaknya.
"Tunggu ... kakak?"
Albara penasaran, ia dengan sedikit khawatir berusaha untuk tetap tenang saat memasuki kota.
"Huh ... sayang sekali kakak rena tidak ikut bersama kita, padahal dia janji akan selalu membantumu ..."
Lia tampak kecewa, ia menyadari jika rena tidak pergi bersama mereka ke kota itu.
"Kau benar ... dia tiba-tiba menghilang dalam perjalanan. apa yang ia sedang rencanakan?"
Yuna penasaran, ia ingin mengetahui alasan rena pergi secara mendadak, tanpa memberitau mereka.
2 jam yang lalu.
Di dalam perjalanan, tampak mereka berlima sedang berada di dalam mobil, mereka berkendara menuju ke kota wise selama hampir satu jam setelah mereka meninggalkan kota utahara. tampak, rena menyadari jika mereka sedang diikuti seseorang.
"Sepertinya ada orang yang menggangu, kebetulan aku bosan menunggu ... sebaiknya aku memberinya pelajaran!"
Ia menoleh ke arah luar jendela, dan melihat felisya sedang berlari serta melompat dari pepohonan dengan sangat cepat.
"Heh ... sepertinya aku ketahuan olehnya, sepertinya aku harus bertarung melawanya."
Menyadari jika ia ketahuan, felisya segera menyiapkan senjatanya. ia membawa pedang serta senjata api.
"Kena kau! beraninya kau mengikuti kami diam-diam! aku akan memberimu pelajaran!"
Dengan sangat cepat, rena berada di dsampingnya. ia dengan cepat menyerang felisya dengan sebuah serangan yang ia pernah gunakan untuk melawan yuna.
"Apa? cepat sekali!"
Buak ...
Felisya tidak berdaya menghadapi serangan itu, ia terpental, kaget serta keheranan menyadari rena menyerang dengan sangat cepat.
Duar ...
Ledakan terjadi di tempat itu, di dalam mobil. yuna terbangun dari tidurnya, ia mendengar suara ledakan itu.
"Hm ... suara apa itu? apa ada pertarungan di dekat tempat ini? energiku belum pulih, aku lebih baik kembali tidur ..."
Tanpa mencaritau, yuna dengan lelah kembali tidur bersandar di dalam mobil. tampak ia begitu kelelahan setelah energinya terkuras.
__ADS_1
"Uhuk ... kenapa kau bisa sekuat ini? siapa kau sebenarnya? kenapa kau bisa menyerang dengan begitu cepat?"
Dengan perlahan, felisya berusaha untuk berdiri setelah terpental menerima serangan itu. ia gemetaran, serta kesulitan untuk melawan.
"Heh ... kau lumayan kuat, seharusnya kau sudah pingsan setelah menerima serangan itu."
Dengan tangan kosong, rena mendekat tanpa mempedulikan resiko yang ia akan hadapi. ia penasaran dengan gadis yang mengikutinya, ia berencana untuk mencaritau alasan felisya mengikutinya.
"Dia! d-dengan kondisiku yang seperti ini ... a-aku tidak mungkin bisa melawan orang ini! a-aku harus bagaimana?"
Menyadari jika ia tidak bisa berbuat banyak, felisya berusaha untuk mencari cara agar ia bisa kabur. tampak ia kebingungan saat rena mendekat ke arahnya.
"He-he ... bersiaplah untuk menerima akibat karena berani mengikuti kami diam-diam ..."
Dengan sikap yang mencurigakan, rena sedang mempersiapkan sesuatu untuk felisya. ia berniat untuk melakukan sesuatu terhadapnya.
Tanpa ia sadari, rena terlibat kembali pertarungan sengit melawan felisya. yuna tidak menyadari kejadian itu, andai energinya kembali pulih, maka ia akan mengetahui alasan rena menghilang.
"Semuanya! kita sudah sampai! selamat datang di istana kota wise! semuanya ... semoga kalian betah!"
Dengan senyuman yang hangat, yumna menyambut kedatangan mereka. ia memperlihatkan istana serta kota wise.
"I-ini ... istana ini cukup besar dari perkiraanku. bahkan, di istana ini terdapat beberapa menara. sepertinya kota ini aman dari serangan musuh."
Albara keheranan melihat istana itu, ia menyadari jika wilayah wise belum ditaklukan oleh negara skar. ia ingin mengetahui lebih banyak mengenai kota wise.
Dengan khawatir, lia menyadari jika di dalam istana itu terasa sebuah kekuatan besar yang ia rasakan. ia sepertinya mengenali kekuatan itu.
"Hm ... kekuatan besar? kau memang benar, kakak adalah seorang ..."
Yumna hampir membocorkan identitas kakaknya, ia menyadari jika dirinya hampir mengatakan itu dan terdiam.
"Kakak adalah seorang apa? kau mencurigakan sekali ... cepat katakan, aku penasaran ..."
Lia menyadari jika yumna menyembunyikan sebuah informasi darinya. ia mendesak agar yumna memberitau semua yang ia ketahui.
Tap ... Tap ...
Sebuah suara langkah kaki terdengar, seseorang mendekat ke arah mereka dengan sikap yang sedikit dingin.
"Aku adalah seorang putri penguasa wilayah, namaku adalah yumina ... senang bisa bertemu dengan kalian, lichen, yuna, dan, seorang penjelajah."
Tiba-tiba, yumina datang serta memperkenalkan dirinya kepada mereka. ia menyampa mereka dengan hormat. ia curiga dengan kedatangan mereka, serta menyadari sebuah sesuatu yang mencurigakan.
"He-he ... senang bisa bertemu dengan anda putri yumina ... nama saya adalah albara, senang bisa mengenalmu."
Albara dengan sedikit gugup mengatakan itu, ia memperkenalkan dirinya serta menyapa yumina.
__ADS_1
"Tidak perlu gugup, aku dengar ... adikku mengundang seseorang untuk datang ke kota ini ... kalian ada tamu penting, sebaiknya kita bicara di dalam istana ... benarkan."
Yumina memperhatikan yuna dan lia, ia merasakan sebuah kekuatan besar berada di dalam diri mereka berdua.
"Dia ini ... tatapanya sangat dingin."
Lia dan yuna waspada terhadap yumina, ia menyadari jika yumina bukanlah gadis biasa.
Di dalam istana, terdapat sebuah ruangan yang sangat besar. mereka duduk serta saling memperhatikan satu sama lain.
"Silahkan diminum tehnya, aku sudah mempersiapkan semua ini untuk kalian. kalian tidak perlu sungkan."
Di meja, terdapat sebuah teh serta camilan yang sudah disiapkan untuk mereka. yumina tampak sudah mempersiapkan semua itu sebelum kedatangan mereka.
"Baik, terimakasih."
Tanpa merasa curiga, albara meminum teh yang sudah disiapkan untuknya. lia tampak khawatir memperhatikan yumina, ia dan yuna waspada terhadap yumina.
"Kalian ..."
Yumina memperhatikan yuna dan lia, ia menyadari jika mereka berdua sangat waspada terhadapnya. ia merasa jika dirinya harus memulai pembicaraan.
"Jadi ... ada perlu apa kalian menemuiku, aku yakin kalian datang bukan tanpa alasan."
Tanpa ragu, ia memulai pembicaraan itu. ia penasaran dengan tujuan mereka datang ke kota itu.
"Kakak ... mereka ingin menemuimu untuk membahas masalah-"
Yumna dengan senang menjawab pertanyaan dari kakaknya, ia ingin memberitau tujuan mereka.
"Kami datang untuk membicarakan masalah pengendali ke-7. benarkan, yumna."
Tanpa ragu, lia mengatakan yang sejujurnya kepada yumina. ia yakin jika yumina akan menyadari sesuatu setelah mendengar itu.
"Pengendali ke-7? jadi ... dia sudah, maksudku, kalian memang sudah menemukanya."
Yumina meletakan segelas teh itu kembali di atas meja. ia kembali serius berbicara mengenai masalah itu.
"Benar ... aku tau, kau pasti mengetahui sesuatu mengenai itu, benarkan pengendali ke-6?"
Albara tersenyum, ia yakin jika yumina adalah seorang pengendali. ia sengaja menunggu saat yang tepat mengatakan itu.
"Apa?!"
Yuna, dan lia kaget mendengar itu, ia tidak percaya jika pengendali ke-6 berada tepat di hadapanya.
Bersambung ...
__ADS_1