
Setelah pulang dari rumah pak RT nampak senyum puas di bibir mama Yuli dan Satria.
"Ma, gak sangka makanan desa sangat enak meski sederhana," ucap Satria kepada mamanya.
"Iya nak, baru kali ini mama tahu namanya tutut dan cara makannya yang unik," sahut mama Yuli.
Sesampainya di rumah, Satria menggeliat.
"Ma, aku ngantuk tidur dulu, nanti sore ayo kita jalan-jalan lagi," ucap Satria kepada mamanya.
Mama Yuli mengangguk perlahan.
Satria berjalan masuk ke kamar. Sedangkan mama Yuli memikirkan bagaimana cara mencari uang di desa.
"Memang uang aku masih banyak, tapi kalau nganggur terus yang ada malah habis dan bagaimana ke depannya nanti," ucap mama Yuli pusing memikirkan kelanjutan hidup di desa, yang menurutnya peluang mendapatkan hasil sangat tipis.
"Orang desa ini banyak petani, apa aku jual pupuk sama bibit saja yah, atau aku jual sembako saja yah kan pasar jauh pasti banyak orang yang butuh sembako di sini," ucap mama Yuli dalam hati.
"Nanti sore aku akan bicarakan ini sama Satria," ucap mama Yuli.
Segera mama Yuli masuk ke kamar dan tidur.
Saat sore tiba nampak Satria sudah bangun terlebih dahulu, segera dia mandi dan bersiap, siapa tahu nanti saat dia selesai mamanya bangun.
Tidak berapa lama mama Yuli pun bangun, dia lalu ke dapur dan membuat kopi sebelum mandi, usai mandi.
"Satria," teriak mama Yuli memanggil Satria.
Satria segera datang.
"Ada apa ma, kenapa teriak segala apa ada sesuatu yang mengganggu mama," ucap Satria khawatir.
"Gak ada apa-apa koq, mama cuma mau tawarin kopi, dan mama ingin bicara sesuatu sama kamu," ucap mama Yuli.
Satria segera duduk di samping mamanya dan meminum kopi buatan mamanya.
"Mama ingin bicara apa?" ucap Satria penasaran.
"Mama ingin tanya sama kamu, andaikan kita buka usaha di desa kamu setuju tidak," ucap mama Yuli kepada Satria.
__ADS_1
Nampak Satria merenung, Satria merasa gak yakin usaha yang akan di lakukan bisa membuahkan hasil, terlebih hidup di sini sepertinya serba pas-pasan karena hidup mereka cuma petani.
"Mama ingin usaha apa kalau Satria boleh tahu?" ucap tanya Satria kepada mamanya.
"Mama ingin membuka toko pupuk dan bibit tanaman," ucap mama Yuli.
"Memang mama paham soal pertanian," ucap Satria.
"Mama gak paham sama sekali sih, tapi kita kan bisa tanya sama petaninya," ucap mama Yuli.
"Mama, mama, usaha mama ini sangat tidak masuk akal jangan usaha seperti itu jika kita tidak tahu menahu tentang persoalan pertanian," ucap Satria meremehkan ide mamanya.
Setelah berfikir sejenak mama Yuli nampaknya setuju dengan pemikiran Satria.
"Kalau usaha sembako menurut kamu bagaimana," ucap tanya mama Yuli kepada Satria.
"Kalau itu boleh ma, karena pasar jauh dan setiap orang pasti butuh sembako setiap harinya," ucap Satria setuju dengan ide mamanya yang satu ini.
"Baiklah kalau begitu besok kita cari tukang buat bangun toko depan rumah," ucap mama Yuli dengan semangat.
"Ok ma, besok kita minta tolong pak RT buat Carikan tukang bangunan," ucap Satria mendukung mamanya.
"Dan untuk sekarang, sebaiknya mama bersiap-siap untuk kita pergi jalan-jalan sore, yah siapa tahu kita bisa ketemu ide baru lagi," ucap Satria semangat.
Sambil menunggu mamanya selesai bersiap, Satria memutar musik lagu pop Melayu.
Tidak berapa lama mama Yuli sudah keluar dari kamarnya.
"Ayo nak, kita jalan sekarang," ucap mama Yuli sambil menepuk bahu putranya.
"Ok ma, ayo kita berangkat sekarang," ucap Satria sambil mendorong mamanya perlahan-lahan.
Segera mereka menaiki motor dan berjalan menyusuri sore hari, nampak lenggang seperti kampung tidak berpenghuni, terkadang semilir angin yang menerpa tubuh Satria membuatnya bergidik.
"Ma, kampung ini sepi banget saat sore begini, apa dulu pernah ada sesuatu yang terjadi waktu sore hari yah," ucap Satria penasaran di sertai rasa takut.
Di kanan kiri jalan nampak lenggang.
"Jika ada perampok atau begal, tentu aku dan putraku akan mati konyol di sini, kampung sepi andaikan teriak mungkin tidak ada orang yang mendengar," ucap mama Yuli dalam hati.
__ADS_1
Motor melaju semakin jauh dari rumah, tapi semakin jauh semakin sepi.
"Ma, kita pulang balik saja yah, semakin ke sini nampak semakin ngeri, Satria jadi takut ma," ucap Satria sedikit panik.
"Yah sudah, ayo cepat putar balik, mama gak mau mati konyol di jalan seperti ini, terlebih kita orang baru pastinya tidak banyak orang yang mengenal kita," ucap mama Yuli sambil bergidik takut.
Segera Satria putar balik motornya secepat dia mampu, karena jalan banyak yang berlubang hal itu tentu saja menghambat kecepatan motor Satria, dan juga lampu jalan yang temaram menambah kepanikan mama Yuli dan Satria.
"Ayo nak, jangan sampai terjadi hal yang tidak kita inginkan di jalan ini," ucap mama Yuli.
Ucapan mama Yuli menambah kepanikan Satria hingga tidak berapa lama kemudian motor Satria mogok, Satria semakin kesal dengan mogoknya motor.
"Dasar motor jelek, baru beberapa kilo sudah mogok, gak tahu orang lagi panik gini," ucap Satria kesal.
"Sudah sayang kita dorong saja, biar mama bantu dorong dari belakang," ucap mama Yuli sambil mendorong sambil waspada mata mama Yuli terus menoleh ke belakang.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang.
"Bu, motornya kenapa," ucap seseorang itu.
Hal itu bukannya membuat mama Yuli dan Satria berhenti yang ada mereka malah mempercepat jalannya meski dengan nafas ngos-ngosan, mereka terus berusaha mendorong motornya secepat mungkin.
"Suara siapa itu tadi ma?" ucap Satria kepada mamanya dengan pelan.
"Kamu jangan banyak omong, ayo kita pulang secepatnya, lain kali kita gak usah jalan-jalan kalau sudah Maghrib, seram jalannya, mama takut," ucap mama Yuli sambil terus mendorong sekuat tenaga.
"Iya ma, Satria juga sudah jera, gak mau lagi jalan-jalan sore, karena kampung ini kampung yang menakutkan," ucap Satria sambil terus mendorong dan memandang ke arah jalan depan.
Setelah jauh berjalan sambil mendorong motor, nampak ada orang yang pernah bantu mama Yuli dan Satria angkat barang.
"Ibu motornya kenapa?" ucap tanya pria tadi.
"Gak tahu pak, tiba-tiba mogok begitu saja," sahut mama Yuli.
"Boleh saya cek dulu, siapa tahu nanti bisa jalan lagi," ucap pria tadi.
Di ceknya semua bagian motor, semua terlihat baik-baik saja, kemudian nampak pria tadi garuk-garuk kepala karena bingung, lalu di bukanya tangki bensin.
"Oalah bu, bensinnya habis," ucap pria tadi.
__ADS_1
Hal itu membuat Satria lemas dan menyesal tidak isi bensin, dan pria tadi segera ambil bensin di motornya untuk di isikan di motor Satria agar kembali jalan.
Motor Satria pun melaju menuju rumah setelah di isi bensin.