ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
MENGENANG MEMORI DI KOTA


__ADS_3

Dengan memakai tas ransel di punggungnya dan mengendarai motor yang di belinya waktu tinggal di kampung, Satria ingin melihat beberapa kenangan dirinya yang dulu, di lihatnya perusahaan yang dulu papanya bangun dan sekarang nampak aktif kembali tapi dengan papan nama yang berbeda.


motor terus di lajukan, saat tiba di pertokoan Satria melihat tokonya yang telah terbakar habis dan sampai sekarang kondisinya tetap menyedihkan.


Kembali Satria melajukan motornya menuju rumahnya yang dulu, saat ingin masuk nampak pagar sudah berganti gembok sehingga Satria hanya bisa melihat rumahnya dari balik pagar.


Satria lanjut menuju makam papanya, nampak makam papanya tidak terawat baik banyak rumput yang tumbuh di atas makam papanya, segera Satria memanggil juru kunci untuk membersihkan makam papanya dan di beri upah selembar uang merah kepada juru kunci itu.


Satria kembali melajukan motornya dan hendak mencari tempat tinggal untuk di tinggali ya nanti, di pilihnya sebuah kamar kost dengan kamar mandi dalam yang di lengkapi dengan AC dan spring bed.


Karena lelah Satria lalu beristirahat, rencananya besok Satria akan bersenang-senang dulu ke cafe, club dan ke tempat kenangan dia dulu sebelum mulai mencari lapak.


Karena terlalu capek, begitu baring langsung tertidur lelap.


Tak terasa Satria bangun sudah malam hari segera Dia mandi dan berganti pakaian serta mencari makan di sekitar tempat dia tinggal.


Satria melihat ada gerobak nasi goreng, segera dia belok dan pesan nasi goreng untuk di makan di tempat.


Nampak banyak antri pembeli, Setelah nasi goreng tersaji, Satria langsung memakannya dengan lahap karena sedari tadi perutnya kosong karena hanya sarapan pagi dan makan kue di sepanjang perjalanan ke kota.


"Masnya orang baru yah di sini," ucap seorang pria yang duduk di depan meja Satria.


"Iya mas," sahut Satria.


"Kalau boleh tahu masnya kerja di mana sekarang?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Saya belum kerja mas, baru sampai tadi," jawab Satria.


"Kalau masnya mau, mas bisa ikut saya kerja kuli karena bosku butuh kuli banyak," ucap pria itu tawarkan kerja kuli ke Satria.


"Kamu kira aku mau kerja kasar kayak kamu, gak level tahu gak, kalau aku mau aku bisa kerja kantor tapi aku malas," ucap Satria dalam hati.


"Bagaimana mas, masnya mau, kalau mau mas bisa tinggal di mes dari pada lontang lantung gak jelas di jalanan, hidup di kota itu keras mas, apalagi kalau kita gak punya ketrampilan atau ijasah mati kita," ucap pria itu sambil makan.


"Gak mas, terimakasih tawarannya," ucap Satria sambil berdiri dan saat hendak melangkah pergi dari tempat duduknya.


"Mas, mas di tawarin kerja pilih-pilih bisa-bisa jadi gelandangan kamu kalau gak punya tempat tinggal," ucap pria itu membuat Satria emosi.


"Maksud kamu apa sih, aku sudah sabar dari tadi tapi lama-lama kamu makan hati, apa maksudmu aku lontang-lantung gak jelas di tambah bilang aku jadi gelandangan, kamu ini pria tapi mulut kayak perempuan banci kamu yah," ucap Satria dengan nada marah.


"Kamu ngatain saya banci, aku tuh lihat kamu kasihan baru datang ke kota ini lah dari pada kamu hidup tidak jelas kan mending kerja jadi kuli seperti aku, coba kamu fikir pakai otak benar gak ucapanku barusan," ucap pria itu.


"Sudah mas sabar-sabar, sebenarnya ada apa sih ini sampai ribut kayak gini?" tanya pria yang memegangi tangan Satria.


Setelah emosi Satria agak reda, Dia lalu cerita akan ucapan pria yang hendak di pukulnya tadi.


"Kamu tuh Jon Jon, masih gak kapok juga bicara hal yang menyinggung perasaan orang, yah gak mungkin mas ini mau jadi kuli lah sekarang saja tinggal di sana tuh lihat, rumah tingkat yang berAc di sana itu yang sewanya sebulan sama dengan makan kamu setahun," ucap pria yang melerai pertengkaran mereka.


Melihat rumah sewa Satria segera pria yang bernama Jono itu pergi menjauh dengan langkah cepat, raut mukanya nampak sangat malu.


"Sudah kabur mas orangnya, maafin dia mas yah, jangan tersinggung dengan ucapan pria itu, biasa mulut kuli kalau bicara kasar," ucap pria itu menenangkan Satria.

__ADS_1


"Biar sudah mas, kalau gitu saya permisi pulang dulu," ucap Satria sambil berjalan menjauh dari pedagang nasi goreng dan melangkah menuju rumah kostnya.


Sampai di dalam kost'an, Satria segera main game di hp hingga tertidur lelap.


Dan tak lama pagi telah tiba, Satria segera mencari sarapan dan hendak pergi ke cafe langganannya dulu.


Satria naik motornya menuju cafe, sampai di sana Pramusaji langsung menyambutnya dan karena Satria pelanggan lama, maka banyak karyawan yang mengenalnya.


"Saya kira kakak ganteng gak ke sini lagi," ucap Pramusaji perempuan yang sering di kasih tip Satria bila di cafe ini.


"Baru ada waktu ke sini," ucap Satria.


"Kak, teman-teman kakak waktu saya tanya koq bilang kalau kakak sudah bangkrut dan sekarang tinggal di desa tapi sekarang koq tiba-tiba muncul di sini, apa kakak sudah kembali sukses?" tanya pramusaji penasaran.


"Aku memang bangkrut dan memang tinggal di desa dan kawan-kawanku semua yang datang ke sini adalah seorang pecundang dan penghianat, bilang kalau mereka ke sini, bahwa Satria sudah ke kota dan tak akan pernah anggap mereka sebagai kawan lagi jadi jangan sok kenal jika ketemu, karena lihat muka munafik mereka bikin muntah," ucap pesan Satria kepada pramusaji itu dengan jengkel.


Satria tak menyangka teman-temannya yang di kira setia ternyata hanya setia dengan harta Satria dan jika sudah miskin bahkan mereka tega tidak membntu kesulitan Satria malah membuat nama Satria buruk.


"Lihat saja kalian, akan aku balas kalian, dasar bren****," umpat Satria kepada ke empat kawannya yang di kira baik padanya.


Setelah Satria bayar Bill segera dia beranjak pergi menuju klub langganannya, seperti biasa Satria mencari ruangan sendiri karena lebih nyaman baginya untuk mabuk di tempat sendirian tanpa ada yang mencegah dia berapapun jumlahnya.


Satria sangat mabuk di club itu hingga pada akhirnya tertidur di club tersebut hingga pagi hari.


Bangun dari tidurnya di pagi hari, Satria menuju rumah kostnya hendak kembali lanjut tidur.

__ADS_1


Rasanya kali ini Satria sangat mabuk karena lama tidak minum alkohol.


Tapi Satria merasa puas dari pada tinggal di desa yang cuma makan tidur saja ,di kota lebih baik baginya.


__ADS_2