ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
PERINGATAN DARI OM DIAN


__ADS_3

Melihat kesedihan Tante Hana dan tangisan yang histeris membuat Satria senang dan puas dengan hasil kerjanya, di atas jembatan jalan utama, Satria mulai berteriak sekencang-kencangnya dan tertawa sekeras mungkin, hatinya merasa sangat senang tapi entah mengapa hatinya bersedih dan menangis, Satria sendiri tidak tahu penyebabnya.


"Ma, andai Aku bisa bagikan rasa ini padamu, Aku sayang Mama," ucap Satria dalam hati.


Setelah di rasa cukup tenang, Satria menuju ke tempat usahanya yang belum sempat di buka sejak di sewanya, karena hari belum terlalu siang Satria dengan santai mengendarai motornya.


"Permisi Bu," ucap Satria kepada pemilik tempat yang di sewanya.


"Iya, oh Kamu, kapan mulai buka tokonya sudah hampir sebulan toko tidak Kamu buka sama sekali, kalau gak niat jualan jangan sewa biar gak buang-buang uang," ucap pemilik tempat itu yang menyayangkan uang sewa Satria yang harus di terimanya tanpa di buka tempatnya dan hal itu membuat kerugian sendiri bagi Satria.


"Gak apa-apa Bu, kemarin-kemarin Saya banyak sekali kesibukan, tidak tahu kapan Saya bisa memulai usahanya karena sampai saat ini masalah Saya belum selesai," ucap Satria.


"Kalau begitu sewanya kalau urusan Kamu selesai saja, sekarang lebih baik selesaikan dulu semua," tutur Ibu pemilik.


"Tapi Saya takut kalau nanti urusan selesai, tempat Saya di sewakan ke orang lain," ucap Satria.


"Jangan khawatir Saya punya banyak lapak, nanti jika di sini ada yang sewa, akan Aku berikan lapak yang lain," ucap Ibu itu yang menolak uang sewa Satria yang belum siap buka usahanya.


"Kalau begitu Saya berterimakasih kepada Ibu, Aku harap Ibu benar-benar akan memberikan tempat usaha baru jika ini di sewa," ucap Satria.


"Iya, Kamu bisa pegang ucapan Saya," ucap Ibu pemilik.


Setelah itu bergegas Satria pergi dan kembali pulang, namun dalam perjalanan Dia di cegat seseorang yang tidak di kenalnya.


"Ayo ikut Kami sekarang," ucap dua pria kekar yang mencegatnya.


"Aku tidak kenal Kalian jadi buat apa Aku ikut Kalian," ucap Bagus sengit.


"Kami orang Tuan Dian, harap segera ikut Kami Kamu sudah di tunggu Om Dian di rumah," ucap pria itu.

__ADS_1


"Aku akan ke sana sendiri, Kalian pergi saja dulu," perintah Satria yang kemudian balik arah menuju rumah Om Dian.


Saat masuk ke dalam nampak Om Dian sudah menunggu kehadiran Satria.


"Kamu sudah datang," ucap Om Dian.


"Iya Om, ada apa Om panggil Saya?" tanya Satria.


"Apa Kamu yang melakukan pembakaran di 12 tempat usaha Tante Hana?" tanya Om Dian.


"Benar Om," jawab Satria singkat.


"Jangan teruskan, Saya khawatir akan terjadi masalah besar jika Kamu melakukan aksimu," sambung Om Dian.


"Tapi Om, masih ada 8 tempat lagi yang harus Aku bakar," ucap Satria keras kepala.


"Berhentilah sampai di sini, maka dengan mudah Aku bisa menutupi masalah ini, namun jika Kamu teruskan Om tidak akan bisa melindungi Kamu, karena ada preman bayaran lain yang di bayar oleh Tante Hana untuk kumpulkan segala bukti yang ada dan bersedia membayar berapapun untuk menemukan pelaku pembakaran.


"Benar Om sudah rencanakan itu tapi tidak dalam waktu dekat ini, Om harus mencari momen yang pas agar tidak ada saksi hilangnya Dia," ucap Om Dian.


"Kalau begitu setelah Aku bakar 8 tempat lainnya bukankah Om bisa melakukannya, jadi Kita sama-sama puas melampiaskan dendam di hati," ucap Satria yang tidak ingin berhenti.


"Tapi jika Kamu lakukan itu, maka Tante Hana akan mencium gerak gerik Kamu," ucap Om Dian.


"Tidak Om Saya akan tetap bakar, barulah Saya puas," ucap Satria sambil berlalu meninggalkan Om Dian yang sudah berusaha untuk mencegahnya.


"Sepertinya masalah ini akan semakin besar, harusnya Kamu bisa mengerti bahwa tak perlu tuntas hanya perlu hilang agar tidak tercium oleh polisi, jika seperti ini Kamu bisa menjadi buron polisi dan preman sewaan Tante Hana dan Aku gak tahu apakah bisa Aku simpan Mamamu agar aman karena ada anak buahku yang telah berkhianat dan menjadi salah seorang preman bayaran," ucap Om Dian dalam hati dengan rasa khawatir yang teramat sangat.


Satria yang sudah sampai di rumah dan bertemu Mamanya, menghabiskan waktu bercanda dengan Mamanya berharap tengah malam nanti Mamanya akan tertidur pulas sehingga tidak menyadari saat Satria keluar rumah dengan tekad membakar sisa tempat usaha Tante Hana.

__ADS_1


Pada pukul sebelas malam nampak Mama Yuli terus menguap.


"Mama kalau mengantuk tidur saja duluan, biar nanti Aku yang bereskan, Satria masih asyik main game," ucap Satria kepada Mamanya, agar Mamanya tidur dan Satria bisa lakukan aksinya.


"Baiklah Satria karena Mama juga sudah tak tahan lagi," ucap Mama Yuli.


Kemudian Mama Yuli masuk ke kamar dan beranjak tidur.


Cukup lama Satria menunggu Mamanya tertidur lelap.


Setelah di rasa Mamanya sudah lelap Satria bereskan semua dan masuk ke kamar untuk mengambil lembaran alamat tempat usaha Tante Hana.


Satria ragu untuk pergi keluar rumah, karena teringat ucapan dan pesan Om Dian.


"Tapi Aku harus menuntaskan apa yang sudah Aku buat, Aku sudah tak bisa ampuni Tante Hana yang jahat itu, Dia harus hancur sehancur-hancurnya," ucap Satria dalam hati.


Karena tekad di hatinya cukup kuat, Akhirnya Satria keluar dari rumah menembus malam yang dingin, dengan segera di bakarnya tempat usaha Tante Hana satu persatu, setelah di rasa semua selesai untuk menghilangkan jejak, Satria juga membakar bajunya di tempat pembuangan sampah agar tidak ada seorang pun yang mencium jejaknya.


Satria tidak sadar ada sepasang mata yang perhatikan aksinya di tempat usaha terakhir pembakaran tempat Tante Hana.


Dengan perasaan tanpa rasa bersalah Satria pulang dan di ikuti oleh pria yang sedari tadi mengikutinya.


Setelah Satria masuk ke dalam rumah nampak Pria itu menghubungi seseorang dari kejauhan sehingga pengawal Rumah Satria tidak tahu kalau ada orang yang ikuti Satria.


Setelah menelpon pria itu segera pergi meninggalkan rumah Satria.


Satria yang sudah selesaikan aksinya, merasa senang dan ingin sekali merayakannya tapi bagaimana, Satria tidak tahu.


"Apa yang harus Aku lakukan untuk merayakannya," ucap Satria dalam hati.

__ADS_1


Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Satria putuskan untuk mengajak Mamanya makan di luar.


Satria pun tidur pulas karena sudah puas dan punya cara untuk merayakannya.


__ADS_2