ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
KEDATANGAN TUKANG BANGUNAN


__ADS_3

Rencana dan konsep pembangunan toko sudah di rancang dengan sebaik mungkin oleh Satria dan Mama Yuli. Keesokan harinya saat siang hari Pak RT membawa tamu ke rumah Mama Yuli.


"Assalamualaikum," ucap salam Pak RT.


"Wa'allaikum salam," sahut Mama Yuli.


Setelah pintu di buka.


"Pak RT mari silahkan masuk," ucap Mama Yuli mempersilahkan.


Setelah Pak RT beserta temannya duduk di ruang tamu.


"Sebentar Pak," ucap Mama Yuli.


Tidak berapa lama Mama Yuli keluar membawa nampan berisi makanan ringan dan minuman.


"Silahkan Pak," ucap Mama Yuli menawarkan.


Satria juga ikut keluar menemui tamunya setelah tadi di beritahu mamanya agar segera keluar. Setelah Satria duduk.


"Begini Bu, perkenalkan ini teman saya Bapak Rojak tukang bangunan daerah sini, kebetulan proyek beliau baru selesai kemarin," ucap Pak RT memperkenalkan temannya.


"Iya Pak RT, terimakasih telah membantu saya membawa Bapak tukang kemari," ucap Mama Yuli berterimakasih.


"Sama-sama Bu," sahut Pak RT.


Setelah bicara dengan Pak RT, Mama Yuli kemudian bicara mengenai konsep bangunan dan rancangan yang di inginkan Mama Yuli kepada Pak Rojak. Nampak Pak Rojak mempelajari ulang keinginan Mama Yuli kemudian menghitung luas bangunan sesuai dengan letak tanah yang akan di bangun.


Perihal semua biaya serta banyaknya bahan mulai di hitung oleh Pak Rojak.


"Bagaimana Pak, kapan Bapak bisa memulainya," ucap Mama Yuli kepada Pak Rojak.


"Kapanpun saya bisa mulai Bu, tapi bisakah saya minta uang DP dan uang bahan untuk membuatnya," ucap Pak Rojak.

__ADS_1


"Saya ingin secepatnya pak, karena saya ingin secepatnya buka toko pak," ucap keinginan Mama Yuli.


"Tunggu di sini sebentar pak," ucap Mama Yuli.


Mama Yuli beranjak dari duduknya lalu segera masuk dan tak lama keluar membawa amplop yang berisi uang.


"Ini pak, di sini ada uang 5 juta sebagai DP," ucap Mama Yuli sambil menyerahkan amplop kepada Pak Rojak.


Segera Pak Rojak menghitung uang yang berada di dalam amplop, setelah beberapa saat lamanya.


"Jumlahnya pas 5 juta yah Bu," ucap Pak Rojak usai menghitungnya.


Setelah sepakat dengan harga dan juga hari mulai bangun maka kedua tamu pamit pulang. Setelah semua tamu pulang.


"Ma, apakah mama jadi bikin kue Iwel-Iwel?" tanya Satria kepada mamanya.


"Tentu saja sayang, sekarang bisa gak antar mama cari bahan pembuatannya setelah itu kita ke rumah pak RT buat belajar bikinnya," ucap Mama Yuli.


"Bisa ma, ayo kita berangkat sekarang," ucap Satria sambil meraih jaket yang telah di gantungnya.


Usai belanja mereka menuju rumah pak RT, setelah bertemu mereka mengatakan apa maksud dan tujuan mereka datang ke rumah pak RT.


Bu RT menyambut hangat dan segera mengajak mama Yuli ke dapur untuk membuat Iwel-Iwel.


Dalam satu jam, Iwel-Iwel telah matang dan siap di sajikan.


Seperti saat mereka makan tutut kali ini mereka menikmati makan Iwel-Iwel di teras Bu RT.


Karena terlalu banyak yang di buat usai makan bersama sisanya di bagi 2 sebagian buat Bu RT, dan sebagian yang lain di bawa pulang Mama Yuli bakal camilan di rumah nantinya.


"Bu, saya ucapkan banyak terimakasih atas ilmu masak yang ibu ajarkan kepada saya," ucap mama Yuli tulus kepada Bu RT.


"Iya Bu sama-sama," sahut Bu RT.

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang sebentar tentang semua hal yang ada di desa ini. Setelah cukup lama berbincang-bincang, Mama Yuli dan Satria pamit pulang.


Sesampainya di rumah, mama Yuli nampak membayangkan gambaran toko yang akan di kelolanya nanti.


"Ma, mama sudah catat semua yang akan mama jual nantinya di toko Mama," ucap Satria kepada mamanya.


"Belum nak, nanti saja kalau sudah selesai baru kita catat yang akan kita jual nantinya," ucap Mama Yuli sambil melihat suasana desa yang sepi.


"Sebenarnya mama sedikit ragu buka toko depan rumah, karena rumah di desa ini cukup jarang dan jarak rumah satu dan lainnya saling berjauhan, tapi mama juga bingung andaikan kita tidak buka usaha dan nganggur, lama-lama uang akan terkikis dan habis tanpa bekas," ucap Mama Yuli sambil memandang ke arah jalan.


"Ma, bukankah kita sudah terlanjur panggil tukang dan juga sudah bersedia keluarkan uang untuk semua biaya jadi mau gak mau kita harus lanjutkan," ucap Satria menyemangati mamanya yang nampak lemah.


"Atau bagaimana kalau kita buka gadai barang saja di desa ini, bukankah di desa ini semua petani pastinya jika kita buka hutang piutang akan banyak yang berminat," ucap Satria yakin dengan idenya yang sedikit rentan bahaya.


"Gak nak, Mama gak setuju, nanti jika kita buka usaha itu malah kita di musuhi warga kampung sini," ucap Mama Yuli yang ngeri membayangkan warga kampung marah saat di tagih hutang.


"Kalau begitu yah sudah toko sembako sesuai keinginan Mama saja," ucap Satria sambil berdiri dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Nampak mama Yuli masih santai duduk di teras rumahnya.


Bayangan kebakaran toko baju mulai mengusiknya di tambah ancaman dari surat kaleng yang di layangkan ke rumah mereka dulu, meski kini mereka tinggal di desa dan jauh dari kota namun rasa was-was dalam hatinya terus menganggunya.


"Tapi mungkin pengirim surat kaleng itu sudah kehilangan jejakku karena aku pindah kemarin cuma pamit kepada Hana saja, jadi jika ada teror lagi bisa di perkirakan Hana pelakunya, tapi dalam dua Minggu ini nampaknya aman saja, jadi bukan Hana pelaku teror," ucap mama Yuli dalam hati.


Cukup lama mama Yuli duduk diam di teras setelah di rasa sudah cukup, mama Yuli lalu masuk ke kamar dan membersihkan diri karena pulang dari rumah Bu RT belum sempat bersihkan diri.


Sedangkan Satria yang berada di kamarnya mulai bosan hidup di desa karena tidak ada hiburan sama sekali.


"Hidup di desa koq begini amat yah, apa lebih baik aku pergi ke kota untuk jalan-jalan besok, toh ada motor juga," ucap Satria pada dirinya sendiri.


Satria mulai bayangkan saat dulu bersenang-senang di klub, cafe atau tempat hiburan lainnya.


"Alasan apa yang akan aku katakan kepada mama agar bisa pergi ke kota, otakku mati lama-lama tinggal di sini, masa' hari-hari hanya makan, keliling kampung, antar mama belanja, sungguh aku sudah gak tahan lagi," ucap Satria yang semakin bete.

__ADS_1


"Besok aku harus bisa pergi ke kota bagaimanapun caranya," tekad Satria dalam hati.


__ADS_2