ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
SATRIA MENGGANGGU LALU LINTAS


__ADS_3

Satria kini merasa dunianya hancur berkeping-keping tidak ada lagi tempatnya mengadu, setiap waktu senyum Mamanya, kata-kata Mamanya menghiasi hari-harinya ternyata kehilangan seorang Mama lebih menyakitkan dari pada kehilangan seorang Papa, dulu saat Papanya tiada Satria tidak sesakit ini, Dia masih mampu berdiri dan bertahan meski sedih dan tertatih-tatih bahkan Dia bisa memutuskan segala sesuatu dengan lebih bijaksana, tapi kehilangan Mama kakinya seperti tidak ada lagi pijakan, tangannya tidak lagi punya pegangan bahkan hatinya saat ini kosong dan hampa.


Mama Yuli selama ini adalah pendukung hidupnya, pendengar keluh kesahnya dan tempat Satria meminta doa di setiap langkahnya.


Kini hidup Satria sebatang kara, langkahnya lemah dan gontai, Satria menaiki motornya dan mulai kebut-kebutan di jalan berharap hidupnya yang hancur ini segera berakhir.


Namun Satria seperti memilik nyawa sembilan berulangkali hampir tertabrak ataupun menabrak yang ada malah Kendaraan yang lain menabrak dan seolah dirinya di lindungi oleh sesuatu yang tak terlihat.


"Aku tidak bisa mati, lalu Aku harus apa untuk menghapus rasa sakit di dadaku ini," ucap Satria kesal.


Akhirnya Satria masuk ke dalam Bar yang dulu Dia menjadi member spesial di Bar itu.


Petugas keamanan mengenali Satria dan menyuruhnya untuk segera masuk.


Seperti biasa Satria akan mendapatkan ruangan pribadi.


Di dalam ruangan Satria mulai mabuk, tak terhitung lagi berapa botol yang sudah di teguknya, di matanya hanya ada air mata di mulutnya hanya terucap kata Mama dan Papa.


Semalaman Satria mabuk di bar itu, pramusaji yang bertugas pagi berusaha bangunkan Satria namun Satria tidak bergeming dari tempatnya justru kembali meminta minuman beralkohol untuk melupakan segala sedihnya.


Kembali Satria mabuk di bar itu, hingga Dia sangat mabuk lalu tertidur dan setelah terbangun kembali Dia mabuk lagi, pemilik bar takut jika nantinya Satria meninggal di tempatnya jika terus begini, karena itu Satria di antarnya ke rumah lamanya karena hanya alamat itu yang tercatat di bar.


Dan sesuai perintah pemilik bar, Satria di larang kembali mabuk di bar.


Satria yang terbangun di depan pagar rumah lamanya saat panas matahari di rasakan Satria membakar kulitnya.


"Kenapa Aku di sini dan apa ini," ucap Satria yang masih dalam pengaruh alkohol menemukan sebuah kertas yang isinya.


Kepada Yang Terhormat Tuan Satria


Karena Anda mabuk terus-menerus di bar


maka sesuai ketentuan bar Kami, Anda di


larang datang lagi ke bar Kami, dan untuk


biaya miras yang sudah Anda minum maka

__ADS_1


motor beserta suratnya menjadi milik bar


dan tidak ada pengembalian atas sisa uang


penjualan motor.


TERTANDA


PEMILIK BAR


"Ambil sudah motorku," gerutu Satria.


"Kenapa Matahari ada di atas kepalaku," keluh Satria.


"Pergi menjauh sana Matahari, Aku panas tahu," ucap Satria yang belum sadar betul.


Satria berjalan dengan langkah gontai.


"Ma, matahari sekarang sangat panas, Mama jangan dekat-dekat dengannya nanti terbakar," celoteh Satria.


"Ha ha ha ha, dasar kaki gak punya mata, Kamu gak lihat ada batu di situ hah, bodoh banget Kamu jadi kaki," ucap Satria menyalahkan kakinya yang menyandung batu.


Satria merasakan perih di kakinya yang terluka karena tersandung.


Kembali Satria bangun dari jatuhnya, langkah kaki Satria terasa berat.


"Aku tidak mabuk, Kamu tahu," ucap Satria kepada sebatang pohon yang di tabraknya saat berjalan.


"Hey lihat Aku, Aku Satria anaknya Mama Yuli yang di bunuh oleh orang gila," teriak Satria dengan keras di tepi jalan raya.


Banyak kendaraan yang sengaja bunyikan klakson karena kelakuan Satria yang menghambat perjalanan Mereka.


Sebagian lagi berteriak dengan penuh amarah.


"Hey pemabuk jangan berkeliaran di jalanan," teriak salah satu pengemudi mobil yang sengaja menghentikan mobil di sebelah Satria.


"Tidak urus, turun sini kalau berani," sahut Satria sambil tertawa dan marah.

__ADS_1


"Dasar gila," sahut yang lain.


"Kamu yang gila," jawab Satria.


Satria yang sedang ngoceh di jalanan itu menjadi tontonan para warga sekitar, sebagian menyayangkan Satria yang masih muda menjadi pemabuk, ada juga yang sebagian merasa kasihan karena Satria kehilangan kedua orang tuanya.


Tidak lama kemudian Satria tidur di tengah jalan dan memejamkan matanya.


"Ma-Pa Aku ingin ikut Kalian, Aku capek Ma-Pa," gerutu Satria.


Tindakan Satria benar-benar sangat mengganggu hingga akhirnya petugas Satpol PP membawanya ke kantor untuk di amankan dengan cara di paksa.


"Aku bukan penjahat, Kalian mau apa, Aku cuma ingin menemui Mama-Papaku teriak Satria histeris sambil terus meronta dan berusaha melepaskan diri.


Semalaman Satria berada di kantor Satpol PP, Satria di beri makan dan minum, identitas Satria tidak punya karena gak tahu hilang ke mana, petugas juga bingung Satria di golongkan apa di kantor, Akhirnya Satria di sendirikan. Melihat Satria yang menangis sambil memanggil Mama-Papanya tak pelak membuat para petugas Satpol PP merasa kasihan bahkan ada yang bersedia mengangkatnya menjadi anak.


Setelah Satria sadar dari mabuknya.


"Nama Kamu siapa?" tanya salah seorang petugas.


"Aku Satria putra Papa Feri dan Mama Yuli.


"Rumah Kamu di mana?" tanya petugas lagi.


"Rumah Aku sudah di jual semua," sahut Satria.


"Tolong jangan bertanya lagi, Aku sudah tak mampir berfikir lagi, Mama dan Papa Aku sudah tiada, Mereka telah meninggalkan Aku sendirian di dunia ini," ucap Satria dengan terisak.


"Nak, apa Kamu mau ikut Bapak pulang, di rumah Bapak cuma tinggal berdua, seumur hidup belum pernah merasakan punya Putra, kalau Kamu mau Aku akan memberikan kasih sayang sepenuhnya kepadamu," ucap seorang petugas yang merasa kasihan sambil memegang pundak Satria berusaha menguatkan Satria yang sedang menangis.


"Aku tidak mau jadi Putra Bapak, Aku ingin tetap menjadi Putra Mama Aku sendiri, Aku hanya ingin Ma-ma," ucap Satria sambil terus menangis.


"Lepaskan Dia saja, tapi nanti kalau sudah agak tenang!" perintah salah satu petugas.


"Tapi pak," ucap petugas yang lain yang takut kalau Satria mabuk lagi di jalanan.


"Sudah gak apa-apa, Aku yakin saat ini Dia masih belum bisa menerima telah di tinggalkan kedua orang tuanya, tapi jika Dia sudah sadar kembali, beri Dia arti pentingnya sebuah keikhlasan, Bapak yakin Dia akan menjadi lebih baik dari sekarang," ucap seorang petugas yang merasa tak patut membiarkan Satria berada di kantor.

__ADS_1


__ADS_2