ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
HILANGNYA SEMUA HARTA SATRIA


__ADS_3

Satria yang sedang berada di kantor Satpol PP saat mabuk dan sekarang sudah sadar sepenuhnya di perbolehkan pulang.


Satria yang sudah tidak memiliki motor berjalan lemah menuju rumah perlindungan yang di percayakan Om Dian kepadanya.


Saat melangkah memasuki rumah, Satria seperti melihat Mamanya di setiap sudut rumahnya hingga air mata Satria berlinang membasahi pipinya, wajah Mamanya, senyum Mamanya, kesal Mamanya, semuanya nampak jelas gambaran-gambaran kebersamaan bersama Mamanya, hal itu tidak membuat Satria senang namun terasa sangat menyakitkan, kalau Satria bisa mengulang waktu Dia akan menjadi Anak yang baik untuk ke dua orang tuanya, penyesalan selalu datang terlambat.


"Ma, apakah sekarang Mama sudah bahagia di surga, apakah perut Mama sudah gak sakit lagi dan apakah luka di tangan Mama sudah sembuh," ucap Satria sambil berbaring dan memandang langit-langit kamar.


Air mata Satria jatuh berderai, hatinya merasa sangat kehilangan dengan kepergian Mamanya yang sangat di cintainya.


Satria merasa hidup ini sangat tidak adil, Mamanya adalah wanita yang baik tapi kenapa nyawanya harus di renggut dengan kejam.


Satria tak bisa sedikitpun tidur karena di rumah terlalu banyak kenangan bersama Ibunya, akhirnya Satria memutuskan hidup di jalanan dengan uang yang tersisa di ATM-nya.


Satria hanya membawa beberapa helai baju dan pergi berjalan menembus malam, kini Satria hidup di jalanan bagai seorang gelandangan, namun Dia makan dari uang di ATM.


Satria tidur pulas di bawah jembatan setelah makan, kakinya meringkuk menahan dinginnya malam. Angin yang dingin dan suara binatang malam menjadi teman setia dan penghibur tidurnya. Udara malam semakin dingin, Satria dari rumah tidak membawa satupun selimut namun Dia bersyukur menemukan sarung yang terbawa olehnya.


Kini Satria jauh dari kehidupan mewah, Satria hanya ingin ketenangan hidup terlebih kini Dia hanya sendirian di dunia ini. Kardus bekas menjadi alas tidurnya, tas ransel menjadi bantal untuk tidurnya dan sarung tipis menjadi penghangat tubuhnya yang kedinginan.


Waktu begitu cepat berlalu, pagi hari mulai datang, suara lalu lalang kendaraan di jembatan di atas tempatnya tidur membangunkan tidurnya.


Satria melipat kardus dan sarungnya kemudian di masukkan ke dalam tas ransel yang di bawanya.


"Rupanya sudah pagi, Aku akan mencari air buat mandi," bathin Satria.


Satria mencari toilet kemudian menggantungkan tasnya di depan pintu toilet dan segera mandi agar tubuhnya segar kembali.


Tapi alangkah terkejutnya Satria, tas yang di gantungkan tidak ada lagi di tempatnya, di susurinya setiap jalan sekitar toilet dan Satria bertanya apakah ada yang melihat seseorang membawa tas ranselnya, namun tak satupun yang tahu.


"Sial, siapa yang telah mengambil tasku, bagaimana Aku hidup selanjutnya, ATM dan semua uangku ada di tas itu," bathin Satria dengan kebingungan.

__ADS_1


Di rogoh kantong celananya, Satria menemukan uang 5000 di kantongnya. "Cukup gak ya buat beli sarapan," ucap Satria sambil memandang uang yang di pegangnya.


Langkah kaki Satria sangat berat melangkah memasuki sebuah warteg.


"Masuk Mas," tawar pemilik warung yang melihat Satria berdiri mematung di depan warungnya.


Dengan perasaan malu dan cemas Satria masuk dan duduk di tempat yang di sediakan pemilik warung.


"Masnya mau makan apa?" tanya pemilik warung.


Satria menelan ludahnya kemudian berkata. "Maaf Pak, Saya hanya punya uang 5000 apakah ada makanan yang bisa Saya dapatkan dengan uang 5000 ini," ucap Satria gugup.


"Ada Mas, sebentar saya ambilkan, minumnya mau teh tawar atau air putih saja," tawar pemilik warung setelah menyerahkan sepiring nasi dengan sayur lodeh, lauk sepotong tahu dan tempe dan seiris telur goreng.


"Apakah teh tawar boleh pak," ucap Satria takut.


"Tentu saja boleh, sebentar Bapak siapkan," sahut pemilik warung.


Karena perutnya sudah sangat lapar, Satria segera makan dengan lahap. Satria tidak menyangka makanan sederhana ini terasa begitu nikmat di rasa bahkan perutnya kini merasa sangat kenyang.


Satria melihat Bapak penjual nasi yang sendirian di warung, " Apakah Bapak ini hidup sendirian," bathin Satria yang melihat Bapak itu cekatan melayani pembeli sambil menyalakan kompor buat masak.


"Pak Saya sudah," ucap Satria.


"Iya Nak, 5000 harganya," ucap Bapak penjual itu.


Segera Satria serahkan uang yang memang cuma selembar saja. Setelah keluar dari warung Satria bingung harus ke mana kakinya melangkah, sekarang Satria tidak pegang uang juga tidak punya pekerjaan.


Lalu Satria duduk di bawah pohon rindang untuk menikmati udara sambil berfikir bagaimana cara mendapatkan uang.


Seorang wanita tua yang memakai seragam penyapu jalanan menghampiri Satria.

__ADS_1


"Apa kabar Nak?" sapa wanita itu.


"Ibu siapa?" tanya Satria balik.


"Apa Kamu sudah lupa sama Ibu," ucap wanita itu.


Satria mencoba mengingat kembali namun tetap tidak ingat. Satria menggelengkan kepalanya.


"Aku ini, Ibu penyapu jalanan yang pernah menolong Kamu dulu saat pingsan di jalanan dan memberimu sebungkus nasi, sudah ingat belum?" tanya Ibu itu kembali.


Satria kembali mengingat dan.


"Aku ingat Bu, bukankah Ibu yang dulu memberiku nasehat untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT," ucap Satria yang sudah mulai ingat.


"Iya benar," ucap Ibu penyapu jalanan itu.


"Kabar Aku sangat buruk Bu, dulu sewaktu bertemu Ibu, Papaku tiada sekarang Mamaku juga telah tiada Bu, tadi pagi barang yang Aku bawa di curi orang, sekarang Aku sebatang kara tidak punya sanak saudara, tidak punya tempat tinggal, tidak punya pekerjaan, Aku tidak tahu mampukah Aku bertahan tanpa memiliki apapun karena hanya ini harta yang Aku punya saat ini," ucap Satria sambil memegang bajunya.


"Anakku, kenapa Kamu harus bersedih hati? Apa Kamu merasa memiliki segalanya? sekalipun tidak Nak, semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan, jadi jika Tuhan mengambilnya lagi kurasa Tuhan tidak salah, apa Kamu pernah lihat ada bayi lahir dengan keadaan berbaju, tidak ada bukan itulah manusia sayang semua yang ada di dunia ini fana, berusahalah ikhlas menerimanya dan bangunlah dari keterpurukan maka hasil yang Kamu dapat melebihi dari segalanya," tutur Ibu penyapu jalanan itu.


Satria merasa sangat rendah di hadapan Ibu penyapu jalanan, Dia yang notabenenya seorang sarjana kalah dengan seorang penyapu jalanan.


"Nak, apa Kamu sudah makan?" tanya Ibu penyapu jalanan itu.


"Sudah Bu, baru saja," sahut Satria.


"Kalau Kamu mau sementara bisa tinggal bersama Ibu, mari Ibu kenalkan pada seseorang," ucap Ibu penyapu jalanan itu.


Satria mengikutinya hingga warteg yang menjadi tempatnya makan tadi.


"Saya sudah makan Bu, ngapain Ibu bawa Saya ke sini," tanya Satria.

__ADS_1


__ADS_2