
Satria yang mendapatkan pekerjaan baru menjadi juru parkir merasa bersyukur karena mempunyai teman sebaik pak Heru.
"Nak, tadi Ibu menemukan nota laundry baju Kamu, tadi Ibu ambil sekalian pas Ibu pulang, bajumu Ibu taruh di kamar Kamu," ucap Bu Nur.
"Iya Bu, maaf merepotkan tadi Aku lupa karena buru-buru antar bumbu dapur Bapak," ucap Satria merasa gak enak hati.
"Gak apa-apa, untung tadi Ibu berangkat kerjanya belakangan, oh iya Kamu sudah dapat kerja belum, kalau belum kebetulan tadi Ibu dapat kenalan pemilik toko, katanya ada pekerjaan buat Kamu sebagai anak gudang," ucap Bu Nur.
"Satria sudah kerja Dik, sama Heru jadi tukang parkir sepertinya Satria nyaman kerja sama Heru," sahut Pak To yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.
"Heru yang dulu pernah di hajar Mas To," ucap Bu Nur memastikan.
"Iya, Heru mana lagi," sahut Pak To.
"Tapi orangnya baik loh pak, tadi saja sewaktu Satria pingsan langsung di kasih air sama nasi bungkus bahkan tadi juga Satria di kasih upah sama rata padahal Satria bantu tidak sampai seharian," jelas Satria memuji Pak Heru.
"Bapak tahu, Heru itu pada dasarnya baik cuma perangai kasarnya itu mudah tersulut, jadi nanti jika Dia buat masalah bilang sama bapak," ucap Pak To yang khawatir Satria di kasari sama Heru.
"Satria minta maaf Pak, tadi Satria mengaku anaknya Pak To di depan pak Heru," ucap Satria menyesal sudah lancang.
"Malah bagus itu, dengan begitu Heru tak akan berani seenaknya sendiri," ucap Pak To.
"Tapi ya tetap waspada Mas," sahut Bu Nur.
"Satria masuk dulu ke kamar, mau ambil baju lanjut mandi," pamit Satria.
Satria perlahan melangkah masuk menuju ke dalam kamar dan mengambil satu set baju yang masih terbungkus plastik laundry, bau harum baju saat di keluarkan menyeruak.
Satria segera pergi mandi dan setelah mandi Satria ikut duduk di teras bersama dengan Pak To dan Bu Nur yang sudah santai selonjor di teras beralaskan tikar.
"Ini Nak kopinya," tawar Bu Nur sambil menyajikan kopi yang sudah hangat di cangkir buat Satria.
"Terimakasih banyak Bu," sahut Satria.
__ADS_1
"Nanti kalau lapar ambil saja sendiri di dapur, tadi Bapak bawa lauk dan nasi lumayan banyak," ucap Pak To.
"Tadi Bapak jualannya sepi ya?" tanya Satria penasaran.
"Namanya juga orang jualan, ramai sepi sudah biasa nak," ucap Pak To sambil menyeruput kopinya.
"Mas tadi Adik Nemu sesuatu pas nyapu, sebentar adik ambil," ucap Bu Nur lantas bangun dari duduknya dan berlalu masuk ke dalam yang tak lama kemudian keluar dari rumah sambil membawa dompet.
Satria sepertinya mengenali dompet yang di bawa Bu Nur.
"Ini Mas," ucap Bu Nur sambil menyerahkan dompet itu kepada Pak To.
"Pak bolehkah saya lihat dompetnya," ucap Satria penasaran.
Dompet itu di berikan kepada Satria, uang di dompet itu sudah gak ada lagi, KTP juga gak ada, namun masih ada foto Mama dan Papanya serta kartu ATM nya.
"Ini dompet Satria Bu, ini foto Mama dan Papa Satria," ucap Satria girang.
"Mamanya cantik banget dan Papanya juga ganteng, pantas saja Satria sangat ganteng lah orang tuanya kayak gini," ucap Bu Nur sambil tunjukkan foto kedua orang tua Satria kepada Mas To.
"Iya Dik, jauh sama mukanya Mas yang pas-pasan juga muka Kamu yang gak ada cantik-cantiknya," ucap Pak To menggoda adiknya.
"Mana bisa punya adik cantik lah masnya saja kayak gitu," balas Bu Nur.
Tidak lama keduanya tertawa bersama, memang tidak bisa di pungkiri Bu Nur dan Pak To ini adik dan Kakak yang sangat lucu sebentar bertengkar sebentar rukun namun rasa sayang keduanya nampak terlihat nyata.
Air mata Satria menetes 'Andai saja Dia punya adik atau kakak' pasti Dia juga bisa bahagia seperti pak to dan Bu nur.
"Loh koq nangis nak, ingat sama Mama dan Papa ya, kalau ingat ziarah saja ke makamnya untuk melepas rindu dan ajak bicara sebentar buat obat rindu," usul Pak To.
"Satria nangis bukan karena itu Pak, cuma Satria senang melihat Bu Nur dan Pak To yang begitu baik dan hangat," ucap Satria jujur.
"Hangat kayak kopi saja," sahut Bu Nur.
__ADS_1
Tidak lama Mereka bertiga tertawa lebar bersama, kehidupan yang sangat harmonis meski dalam kesederhanaan.
Hingga malam Mereka berbincang-bincang dan bercanda.
"Hauwww," Satria menguap.
"Tidur dulu sana, besok Kamu kerja lagi sama Heru kan," ucap Pak To.
"Iya Pak," ucap Satria sambil terus menguap lantas Dia langsung bangun dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar untuk istirahat, sedangkan Pak To dan Bu Nur masih lanjut begadang hingga udara dingin terasa menerpa kulit, Mereka langsung bangun dan masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Satria karena lelah, tidurnya sangat lelap hingga pagi.
Saat bangun dari tidurnya nampak Rumah sudah sepi sandal Pak To dan sepatu Bu Nur sudah tidak ada di tempatnya sepertinya Mereka sudah berangkat.
Satria segera mandi usai mandi nampak di meja dapur ada secangkir kopi yang masih hangat karena di tutup rapat serta sarapan juga tersedia di sana.
Supaya gak pingsan seperti kemarin, Satria segera makan dengan lahap nasi yang tersedia itu serta mereguk kopi yang terasa manis sedikit pahit.
Setelah selesai Satria segera mencuci bekas makan dan minumnya dan segera bergegas berangkat menuju parkiran berharap Satria datang lebih awal dari Pak Heru.
Satria melihat warung Pak To sangat padat pembeli, hingga beliau terlihat kewalahan, karena merasa gak tega Satria hentikan perjalanannya dan masuk ke warung untuk membantu Pak To yang sedang kerepotan.
Satria bantu buatkan minum dan mencuci bekas makan atas arahan Pak To untuk pembayaran Pak To sendiri yang turun tangan karena Satria tidak tahu sama sekali harga nasi dan teh yang di jual pak To karena harganya yang bervariasi.
Setelah cukup sepi, Satria pamit untuk pergi kerja kepada Pak To.
"Terimakasih Nak ya," ucap Pak To sambil tersenyum.
Satria hanya mengangguk perlahan dan segera menuju lahan parkir nampak Pak Heru sudah melayani 7 kendaraan. Satria yang merasa gak enak samperin Pak Heru untuk sampaikan alasannya terlambat datang.
"Ya gak apa-apa, bantu orang tua itu wajib hukumnya," ucap Pak Heru dengan nada ramah.
"Terimakasih pak Heru," sahut Satria senang karena Pak Heru tidak marah.
__ADS_1