ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
PEMBAKARAN DI 12 TEMPAT USAHA TANTE HANA


__ADS_3

Setelah semua alamat di cek tidak lama kemudian, Satria pulang ke rumah untuk mulai menyusun rencana supaya Mamanya tidak mengetahui kebenarannya.


Arsip di sembunyikan di balik bajunya sebelum melangkah masuk ke rumah.


"Assalamualaikum," ucap Satria sambil mengetuk rumahnya.


"Wa'allaikum salam," sahut Mama Yuli dari arah dapur.


"Mama lagi ngapain di dapur?" tanya Satria kepada Mamanya.


"Mama lagi jenuh di rumah dan sengaja membuat kue seperti waktu Kita masih tinggal di Desa Gelonggongan dulu," sahut Mama Yuli sambil menunjukkan hasil karyanya.


"Kelihatannya lezat Ma, apakah Satria boleh mencicipinya?" tanya Satria.


"Sabar sayang, masih panas juga ini, nanti kalau sudah dingin Kita nikmati bersama," ucap Mama Yuli.


"Kalau begitu Satria masuk dulu sebentar Ma yah, soalnya badan Satria terasa penat sekali," ucap Satria sambil berusaha agar dapat menaruh lembaran alamat di kamarnya secepatnya.


"Iya sayang, habis mandi Kita nikmati kuenya," ucap Mama Yuli sambil kembali mencetak kue.


Satria bergegas masuk kamar dan segera menyimpan kertas itu di dalam lemari dan menguncinya.


"Nanti malam Aku akan mulai beraksi, lihatlah Tante Hana Kamu akan merasakan semua yang Mamaku rasakan, dan Kita lihat bagaimana Kamu bisa menahan rasa sakit yang di rasa Mamaku, ini semua adalah benih yang Kamu taburkan dan Kamu harus menuainya," ucap Satria pada dirinya sendiri sambil menyeringai menakutkan.


Satria mandi di sertai suara siulan yang tidak pernah Satria lakukan sebelumnya.


Usai mandi dengan senyum polos Dia menemui Mamanya hendak menikmati kue buatan Mamanya.


"Ma, sudah selesai belum kuenya," ucap Satria kepada Mamanya.


"Sudah Sayang, ini Mama bikin kue banyak banget nanti Kamu kasih ke pengawal juga biar ikut merasakan kuenya," ucap Mama Yuli dengan senyuman.


"Baik Ma," ucap Satria.


Satria dan Mama Yuli menikmati kue yang terasa lezat di lidah, rasanya cukup enak, manis dan gurih santan dan susu.


"Ma, enak sekali rasanya, besok rencananya Mama buat kue apalagi, kalau ada bahan kue yang di butuhkan Satria akan bantu Mama mencarinya di manapun," ucap Satria sungguh-sungguh.


"Lihat besok sajalah, mungkin buat kuenya seadanya bahan saja di rumah, kan Kamu bilang kalau Mama gak boleh ke mana-mana," ucap Mama Yuli sambil melirik Satria agar Satria paham maksudnya.


"Ma, yang sekotak ini apa buat para pengawal itu," ucap Satria kepada Mamanya.


"Iya Sayang, kalau Kamu sudah selesai makannya segera serahkan kue itu kepada Mereka," ucap Mama Yuli sambil lanjut makan kue.


Satria segera keluar rumah dan mencari para pengawal tersembunyi itu, Satria tidak tahu di mana Mereka berada dan bagaimana cara menghubungi Mereka namun Satria yakin jika Dia berkeliling mengitari rumah dan celingukan pasti salah satu pengawal akan datang menghampirinya, dan benar saja saat Satria mulai mengitari rumah, salah seorang pengawal keluar dari tempatnya bersembunyi.


"Mas Satria mencari Kami," ucap pengawal dengan penuh curiga.


"Tentu saja Aku mencari Kalian, habis Aku bingung harus bagaimana memanggil kalian yang tidak terlihat dan ini sekotak kue buatan Mama buat Kalian," ucap Satria jujur sambil menyerahkan sekotak kue kepada pengawal itu.


"Terimakasih Mas Satria dan tolong sampaikan terimakasih Kami kepada Mama Yuli," ucap pengawal itu.


"Silahkan Kamu bawa kotak kue itu," ucap Satria tidak bergeming dari tempatnya untuk memastikan di mana sebenarnya para pengawal itu bersembunyi.


"Silahkan Mas Satria dulu yang kembali masuk ke rumah," ucap pengawal sambil menunjukkan jalan.


Satria bergegas masuk ke rumah dengan wajah kecewa dan saat berjalan 5 langkah Satria spontan menoleh ke belakang namun harapannya sia-sia karena pengawal itu sudah hilang tak berbekas.


"Itu pengawal apa setan sih, koq datang dan pergi tanpa terlihat," ucap Satria sambil menggelengkan kepala kebingungan.


"Sudahlah terserah saja," sahut Satria.

__ADS_1


"Ma," teriak Satria.


"Apa nak," sahut Mamanya.


"Gak apa-apa Ma," sahut Satria.


"Oh iya hampir lupa bagaimana hasil penyelidikan Om Dian tentang pelaku pembakaran itu?" tanya Mama Yuli penasaran.


"Belum tahu Ma, anak buahnya masih menyelidiki," ucap Satria berbohong untuk menutupi kebenarannya.


"Ohh, tapi setahu Mama, si Dian itu punya anak buah yang cepat bergerak dan bertindak tapi sekarang kenapa jadi lamban yah," ucap Mama Yuli heran.


"Gak tahu Ma, mungkin anak buahnya sudah tua kali jadi agak lamban kerjanya," ucap Satria sekenanya.


"Benar juga katamu, karena hal itu sudah Mama tahu sejak lama jadi mungkin Mereka sudah tua, tapi baguslah kalau lamban kerja anak buahnya dengan begitu Dian tidak akan melakukan tindak kejahatan yang mendekati kriminal," ucap Mama Yuli tanpa tahu bahwa pelakunya sudah di temukan dan di berikan pada buaya sebagai santapan.


"Kamu pernah gak masuk ke dalam rumahnya," ucap Mama Yuli sambil berangan-angan.


"Gak Ma, cuma di tempat di mana Mama pernah ajak Satria, memangnya kenapa Ma?" tanya Satria ingin tahu apakah Mamanya juga tahu perihal kekejaman Om Dian.


"Syukurlah, kalau bisa jangan sampai Kamu ikut Dia masuk," ucap Mama Yuli sambil bergidik ngeri membayangkan waktu dulu.


"Koq Mama bisa bilang begitu, memang ada apa sih Ma di dalam rumahnya," ucap Satria pura-pura tidak tahu.


"Di dalam rumahnya itu seperti tempat di mana banyak nyawa yang melayang, memang sih Dian hanya melenyapkan orang-orang jahat tapi tetap saja Dia juga melakukan kejahatan karena meski Dia memiliki bukti kongkrit tentang pelaku kejahatan tidak layak Dia menghukum mati semua pelaku, harusnya Dia memberi kesempatan para pelaku untuk bertobat bukan seenaknya saja melenyapkan Mereka tanpa proses sidang dan pertobatan," ucap Mama Yuli dengan mimik wajah yang tak suka kepada kelakuan Om Dian.


"Iya juga sih Ma," ucap Satria sambil mengingat kembali bagaimana menghukum pelaku pembakaran itu tanpa belas kasihan.


"Oleh sebab itu jika suatu saat nanti Kamu tahu siapa pelakunya Kamu jangan meniru Dia, menyelesaikan masalah dengan berbuat kesalahan yang tidak akan bisa di maafkan," ucap Mama Yuli menasehati Satria karena takut anaknya akan terpengaruh dengan Dian yang di kenalnya sangat kejam.


Tidak terasa waktu sudah malam hari, Mama Yuli mulai mengantuk.


"Mama capek Nak, Mama mau tidur duluan, jika Kamu gak tidur nikmati saja kue itu dan jika ada sisa masukkan saja ke kulkas," pesan Mama Yuli sebelum masuk ke kamar.


Segera Mamanya masuk dan Satria sudah yakin Mamanya tidur Satria masukkan kue ke kulkas seperti pesan Mamanya dan segera masuk ke kamar untuk memulai aksinya.


Terdapat peluang 85 persen di 12 alamat usaha Tante yang tidak akan menelan korban.


"Baiklah Aku akan beraksi malam ini juga," ucap Satria dalam hati sambil menulis alamat mana yang di tujunya lebih dulu.


Setelah selesai merancang semuanya segera Satria keluar kamar dan cek Mamanya sudah tidur pulas belum dan setelah di rasa Mamanya tidak akan bangun Satria bergegas keluar rumah.


Satria segera beraksi membakar tempat usaha Tante Hana sesuai yang di jadwalkan ya, hari ini 12 tempat yang akan di bakarnya.


Sampai di tempat pertama nampak aman dan tak satupun orang yang terlihat lalu lalang di dalamnya dan gembok pun terpasang di luar pagar segera Satria melempar botol yang berisi bensin yang sudah di sulut api ke dalam tempat usaha Tante Hana. Nampak api berkobar dan tidak lama tempat itupun hangus terbakar, begitu pula tempat lain yang sudah di rancangnya.


Satria beraksi dengan mengenakan jaket Hoodie hitam dan celana hitam untuk menyamarkan wajahnya.


Setelah yakin tempat itu terbakar Satria bergegas naik motor dan kembali pulang, Satria segera membersihkan badannya dan mencuci baju yang di kenakannya agar bau bensin yang melekat di bajunya tidak di ketahui Mamanya.


Senyum menghiasi wajah Satria.


"Besok Aku mau lihat bagaimana respon Tante Hana biar Aku makin puas dengan menyaksikan kesakitan yang di rasakannya," ucap Satria dalam hati penuh dengan suka cita.


Satria segera berbaring sambil membayangkan betapa terpukulnya Tante Hana jika menyaksikan semua usahanya terbakar habis.


Satria tidur dengan senyum menghiasi wajahnya.


Saat pagi menjelang, Mama Yuli sudah bangun dari tidurnya dan memulai aktifitas di dapur karena tak ada hal lain yang bisa di lakukan.


Tidak berapa lama Satria terbangun.

__ADS_1


"Ma, Kita sarapan apa pagi ini," ucap Satria sambil mendekati meja makan dan melihat menu yang tersedia di meja.


"Mama bikin sambal bawang dan ayam crispy, ayo Kita makan," ucap Mama Yuli kepada Satria.


Mereka sarapan bersama namun Mama Yuli merasa ada yang aneh kepada Satria karena nampak selalu tersenyum tanpa jelas apa yang menjadi penyebab senyuman di wajahnya itu.


"Sat, Mama ingin tanya sesuatu," ucap Mama Yuli.


"Tanya saja Ma, biar Satria jawab," ucap Satria sambil tetap tersenyum.


"Kamu koq tersenyum terus dari tadi, bikin Mama jadi takut saja, Kamu kesambet atau kenapa sih koq bisa seperti itu terus," ucap Mama Yuli sambil memandang wajah Satria yang tersenyum terus.


"Satria gak apa-apa Ma, hanya saja Satria semalam lihat video lucu di hp jadi sampai sekarang Video lucu itu terbayang di mata," ucap Satria berbohong.


"Kalau begitu jangan di ingat-ingat lagi," ucap Mama Yuli.


"Iya Ma, Satria tidak akan mengingatnya," ucap Satria sambil menahan senyum di wajahnya.


"Oh iya, Mama koq baru lihat jaket hitam di jemuran belakang, kapan Kamu memakainya," ucap Mama Yuli setelah melihat adanya jaket hitam di jemuran.


"Sudah lama Ma Aku memakainya, semalam pas mau tidur Aku cium baunya sangat apek karena sering Aku pakai namun tak pernah Aku cuci jadi dari pada Satria gak bisa tidur, lebih baik nyuci saja," ucap Satria beralasan.


"Koq bisa Kamu simpan jaket yang gak pernah di cuci di lemari, kenapa gak dari awal masuk rumah kemarin nyucinya, apa Kamu mau Mama bantu cek baju Kamu mana yang apek agar bisa segera di cuci," tawar Mama Yuli.


"Gak usah Ma, Satria bisa sendiri koq," ucap Satria panik kalau sampai Mamanya melihat kertas alamat usaha Tante Hana yang kini tersisa 8 lagi tempat yang harus di bakarnya, dan tempatnya jauh di luar kota, jadi Satria berinisiatif mencari alasan biar bisa pergi ke luar kota untuk melakukan aksi selanjutnya.


"Ma, Satria keluar sebentar, apa Mama mau nitip sesuatu biar Satria carikan," ucap Satria.


"Gak ada nak, semua bahan masih banyak tersedia, mungkin bisa sebulan baru habis stok barangnya," ucap Mama Yuli.


"Memangnya Kamu mau ke mana lagi sih, jangan bilang kalau mau ke tempat Om Dian," ucap Mama Yuli curiga.


"Gak lah Ma, Satria mau melihat tempat usaha Satria yang belum sempat Satria tempati dari awal sewa, maunya sewa lagi sebulan nanti rencananya mau buka usaha dari pada bosan di rumah," ucap Satria beralasan.


"Mama boleh ikut gak?" tanya Mama Yuli.


"Janganlah Ma, nanti Satria gak fokus dan sibuk buat lindungi Mama," ucap Satria agar Mamanya tidak ikut.


"Yah sudahlah, Mama gak ikut saja," ucap Mama Yuli menyerah.


Satria masuk ke kamar untuk mengambil jaket dan mengunci lemarinya agar Mamanya tidak pernah tahu tentang lembaran alamat usaha Tante Hana yang di anggap Satria berharga dan cukup penting.


"Satria pergi dulu Ma," teriak Satria sambil menaiki motornya dan pergi meninggalkan rumah secepatnya.


Di lihatnya puing-puing sisa kebakaran semalam nampak garis polisi terpasang di sana, setelah melihat semua lokasi nampak di lokasi terakhir Tante Hana menangis dan menjerit dan dari mulutnya keluar sumpah serapah akan membakar pelaku yang sudah membakar semua tempat usahanya, banyak di sekitar Tante Hana para karyawan yang berusaha menenangkan Tante Hana.


Menyaksikan hal itu ada senyum puas tersungging di wajah Satria.


"Syukurin Kamu Te, memang enak kalau usaha di bakar makanya jadi orang jangan berulah kalau tidak mau di balas dengan balasan yang sama," ucap Satria dalam hati.


"Tapi sepertinya kurang afdol kalau tidak bertanya langsung kepada Tante Hana biar bisa tahu secara langsung serta saksikan langsung rasa sakitnya di depan mata," ucap Satria sambil belok arah menuju tempat Tante Hana menangis.


Setelah merasa cukup dekat, Satria segera parkirkan motornya dan menghampiri Tante Hana dengan drama barunya.


"Tante, Tante kenapa menangis," ucap Satria setelah dekat dengan menyimpan senyuman dalam hati.


"Satria, coba Kamu lihat di sana itu adalah tempat usaha Tante semalam terbakar, habis sudah semua di lalap api," ucap Tante Hana sambil terus menangis.


"Sabar Tante, apa ada konsleting listrik Te sehingga terjadi kebakaran," ucap Satria bersandiwara.


"Kalau konsleting tidak mungkin Satria karena di 11 tempat lainnya juga terbakar, habislah semua Satria, Tante rugi besar, awas saja jika Tante ketemu pelakunya, akan Aku bakar habis Dia agar Dia merasakan bagaimana rasanya terbakar," ucap Tante Hana dengan wajah penuh amarah.

__ADS_1


"Tante yang sabar yah, maaf Satria harus pergi dulu soalnya ada perlu penting, jaga diri Tante," ucap Satria dengan sandiwara yang di perankannya dengan sangat baik.


Setelah berlalu dari hadapan Tante Hana senyum senang terlihat di wajahnya, Satria pergi menuju jembatan untuk meluapkan segala rasa senangnya. Tepat di atas jembatan Satria tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.


__ADS_2