ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
SIKSAAN UNTUK MAMA YULI


__ADS_3

Satria tertidur pulas dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Saat pagi menjelang Satria sengaja bangun pagi karena ingin mengajak Mamanya makan di luar untuk merayakan kemenangan.


"Mama gak usah bikin sarapan pagi ini, Satria ingin ajak Mama sarapan di luar, karena Satria yakin pasti Mama bosan di rumah," ucap Satria yang ingin agar Mamanya ikut merayakan hari bahagia di hati Satria yang tidak di ketahui Mamanya.


"Habis mimpi apa Kamu ingin ajak Mama keluar rumah, biasanya Kamu yang larang Mama keluar," ucap Mama Yuli heran.


"Cuma tidak ingin Mama bosan," ucap Satria beralasan.


"Baiklah Mama bersiap dulu," ucap Mama Yuli.


Segera Mama Yuli masuk kamar dan mempersiapkan diri untuk keluar rumah untuk sarapan.


Setelah siap Satria dan Mama Yuli menuju Resto langganan sewaktu Papanya masih hidup.


Saat memasuki Resto itu air mata Mama Yuli menetes ingat saat dulu makan di sini bersama Suaminya.


Satria merasa tidak tega melihat Mamanya menangis.


"Apa Mama ingin pindah ke tempat lain?" tawar Satria.


"Gak usah Sayang di sini saja, Mama gak apa-apa koq," sahut Mama Yuli yang tak ingin melupakan momen indah di Resto ini.


Segera Mereka memesan makanan yang biasa di pesan bila makan di Resto ini.


Setelah puas menikmati makanan di Resto ini, Mereka segera meninggalkan Resto.


Alangkah terkejutnya Satria saat melihat ban motornya bocor seperti ada orang yang dengan sengaja merusaknya.


"Ma, Kita cari bengkel sebentar," ucap Satria sambil menuntun motornya keluar dari Resto.

__ADS_1


Dan saat keluar dari area Resto nampak seorang pria membekap Mama Yuli.


Satria segera melepaskan Motornya dan hendak menolong Mamanya.


Namun yang terjadi Dia di pukuli hingga tak berdaya.


"Ha ha ha ha," terdengar suara tawa perempuan yang tak lain adalah Tante Hana.


"Lepaskan," teriak Satria sekuat tenaga.


"Lepaskan katamu, Mama Kamu ini sangat cantik dan menarik bahkan pria yang sulit Aku dapatkan dengan mudah Mamamu dapatkan, namun Mamamu ini pura-pura menolak pria itu," ucap Tante Hana sambil memegang dan menekan pipi Mama Yuli.


"Lepaskan Aku, bukankah Kamu sudah tahu Aku menolaknya jadi Kenapa Kamu tidak berjuang untuk mendapatkan hati Dia," teriak Mama Yuli dengan wajah penuh amarah.


"Tentu Aku sudah berusaha, tapi Dia terus menolakku," ucap Tante Hana dengan kesal.


"Mungkin jika Kamu sudah mati maka Dia akan Aku dapatkan," ucap Tante Hana dengan senyum mengerikan.


"Lepaskan Mamaku Tante, jangan lukai Dia," teriak Satria.


"Jangan keterlaluan Tante," teriak Satria histeris sambil terus meronta berusaha melepaskan diri dari cekalan dua pria kekar yang telah memegangi kedua tangannya.


"Aku keterlaluan, bagaimana denganmu Kamu telah bakar 20 tempat usahaku, semua habis terbakar apa itu tidak keterlaluan hah," bentak Tante Hana.


Ucapan Tante Hana mengejutkan Mama Yuli yang sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu.


"Tapi itu semua Aku lakukan karena Tante yang mulai peperangan ini, Tante sudah bakar 2 tempat usaha Mamaku," teriak Satria dengan nada marah.


"Tapi itu cuma dua, cuma dua bahkan jariku ini bisa menunjukkannya sedangkan Kamu bakar 20 tempat yang bahkan jariku ini tidak bisa menunjukkannya," ucap Tante Hana.


Perdebatan Tante Hana dan Satria yang menguak semua masalah yang terjadi membuat Mama Yuli menjadi bingung, dari mana Satria tahu kalau Tante Hana pelakunya, dan bagaimana mungkin Tante Hana tega membakar tokonya yang ada jalinan kerjasama, dan bagaimana Tante Hana tahu kalau Satria yang bakar dan kapan Satria melakukannya, bukankah Satria keluar cuma sebentar dan tak mungkin cukup waktunya membakar 20 tempat usaha itu.

__ADS_1


"Semua itu fitnah Hana, tidak mungkin Satria bakar tempat usaha Kamu, dari mana Satria tahu 20 tempat usaha Kamu, jelas bukan Satria pelakunya, Kamu sudah di bodohi oleh seseorang," ucap Mama Yuli histeris.


"Ha ha ha ha, Kamu yang sudah di bodohi oleh Putra Kamu, coba Kamu lihat foto ini baik-baik, ini adalah bukti kongkrit kalau anakmu pelakunya, masih bilang itu fitnah, jawab!" teriak Tante Hana kesal.


"Lepaskan Mamaku, Aku yang salah hukum saja Aku," teriak Satria dengan keras.


"Sabar Sayang, akan tiba giliran Kamu setelah Aku habisi wanita ****** ini," ucap Tante Hana sambil menatap tajam Mama Yuli.


Tidak lama kemudian Tante Hana mengeluarkan sebilah pisau dan di pegangnya dengan erat, Tante Hana mengangkat dagu Mama Yuli dengan pisau.


Dan menatap tajam wajah Mama Yuli.


"Kamu tahu, harusnya sudah sejak dulu Aku membunuh Kamu, tapi Aku merasa itu semua tidak perlu, tapi sekarang setelah Aku fikir lagi, membunuh Kamu itu sangat penting dengan begitu Dian tidak akan mengharap cinta darimu lagi dan hanya Aku yang di cintainya," ucap Tante Hana yakin.


"Jangan Tante, Aku mohon jangan bunuh Mamaku, tolong lepaskan Mamaku Tante, ampuni Dia, Aku yang salah Tante, bunuh saja Aku," ucap Satria dengan penuh ketakutan dan penyesalan.


"Harusnya Aku mendengar kata-kata Om Dian untuk menghentikan aksiku, tapi Aku terlalu bego dan emosi dan karena kebodohanku, Mamaku harus ikut menanggung akibat perbuatanku," ucap Satria dalam hati dengan air mata berderai.


"Simpan tangismu itu buat nanti setelah Mamamu ini mati, sekarang Kamu lihat baik-baik bagaimana Aku membunuh Mamamu di hadapanmu," ucap Tante Hana memulai aksinya.


"Argh," teriak Mama Yuli saat di tusuk pisau satu kali di perutnya oleh Tante Hana.


"Argh," kembali Mama Yuli berteriak saat Tante Hana mengiris pergelangan tangannya.


"La la la la la la la," suara nyanyian dari Tante Hana yang menikmati tersiksanya Mama Yuli yang menahan sakit dengan banyaknya darah yang membasahi sekujur tubuh Mama Yuli.


"Tolong hentikan Tante, Aku mohon, jangan di teruskan, Aku akan menuruti segala keinginan Tante," ucap Satria sambil menangis ikut merasakan sakit dan perih yang di rasakan Mamanya.


"Lepaskan Dia," perintah Tante Hana agar seorang pria melepaskan Mama Yuli yang sudah nampak kehilangan banyak darah dengan wajah yang sangat pucat.


"Lihat Satria, Mama Kamu sudah Aku lepaskan, bukankah Aku Wanita yang sangat baik," ucap Tante Hana mengejek Satria yang tidak bisa berkutik untuk menolong Mamanya.

__ADS_1


"Lepaskan Aku Tante, biar Aku bawa Mamaku ke Rumah Sakit," teriak Satria dengan air mata berderai.


"Aduh kasihan anaknya Mama, takut Mama Kamu mati ya, tapi kalau tidak mati Aku yang rugi dong, Kamu lihat saja dari situ dan saksikan Mama Kamu hingga tidak lagi memandang Kamu, Aku masih baik sudah perlihatkan Mama Kamu yang akan mati ini," ucap Tante Hana bangga.


__ADS_2