
Satria tubuhnya belum sehat benar, rasa ingin membawa mamanya ke kota pupus sudah, karena Mama Yuli sama sekali tidak berminat untuk ke kota untuk saat ini karena ada satu dan lain hal.
Mendengar semua alasan yang Mama Yuli utarakan untuk tidak ke kota memang benar adanya. Satria sebenarnya tidak tenang meninggalkan mamanya sendirian di desa tapi Satria juga tidak yakin jika membawa Mamanya ke kota akan membuat hidup jadi lebih baik dari sekarang, terlebih pekerjaan Satria yang belum jelas masa depannya.
"Ma, apakah Mama sudah betah tinggal di desa?" tanya Satria.
"Sebenarnya Mama tidak betah nak, tapi bisa apa, Yang Kuasa sudah takdirkan Mama untuk tinggal di desa, meski begitu Mama bersyukur karena banyak pertolongan yang di berikan orang desa ini kepada Mama," ucap Mama Yuli sedikit lega.
"Ma, Satria juga sebenarnya gak tenang tinggalkan Mama di desa, jadi Satria harap Mama bisa jaga diri Mama dengan baik, dan jika ada masalah atau ada sesuatu yang membahayakan segeralah berlari ke rumah warga atau Pak RT untuk meminta tolong, karena Satria jauh dari Mama sehingga tidak bisa melindungi Mama dengan baik," ucap Satria sambil menangis.
"Kenapa kamu jadi cengeng sayang, kamu ini anak laki-laki tidak sepatutnya menangis, mama janji mama akan meminta tolong kepada siapapun jadi kamu bisa tenang sayang," ucap mama Yuli sambil memeluk erat putra semata wayangnya.
"Ma, Satria sudah kehilangan Papa jangan sampai Satria kehilangan Mama, jika Mama sampai tidak lagi bersama Mama, Satria tidak akan mampu hidup lagi, Satria...," ucap Satria dengan menitikkan air mata.
"Sayang kenapa kamu berfikir sejauh itu nak, mama sekarang masih bersama kamu kan, mama juga tidak lagi sakit dan juga jangan ucapkan hal-hal yang buruk karena bagaimanapun ucapan adalah doa', jadi berhati-hatilah saat mengucapkan sesuatu," ucap Mama Yuli.
Mendengar ucapan Mama Yuli segera Satria menampar mulutnya sendiri berulang.
"Maafkan Aku Ma, aku tidak berniat ucapkan kata yang buruk ataupun berdoa sesuatu yang buruk," ucap Satria yang tangannya di tahan mamanya agar tidak menampar mulutnya sendiri.
"Iya sayang, tapi jangan sakiti dirimu, dan jika memang Mama harus pergi maka tetaplah menjadi Satrianya mama," ucap Mama Yuli sambil memeluk Satria dengan penuh kasih sayang.
Setelah cukup lama Mama Yuli memeluk Satria.
"Satria sudah kuat jalan belum, kalau sudah kuat ayo kita makan bersama di meja makan," ucap mama Yuli.
"Satria coba yah ma," ucap Satria sambil berusaha bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Nampak Satria masih terhuyung, kepalanya masih sedikit pusing sehingga jalannya tidak baik, melihat hal itu Mama Yuli segera membantu Satria berjalan hingga ke meja makan.
Tidak lama kemudian Satria dan mama Yuli sudah berada di meja makan, segera Mama Yuli membantu Satria duduk dan di ambilkannya makanan buat Satria.
"Ma, apakah mama yang masak semua ini?" tanya Satria setelah melihat begitu banyak hidangan yang tersedia di meja.
"Tentu saja sayang, mama sudah pandai masak karena sudah banyak belajar dari Bu RT, jadi jangan ragu untuk memakannya," ucap Mama Yuli dengan senyum bangga.
"Satria coba yah ma," ucap Satria.
Di cicipinya semua makanan yang tersedia sedikit demi sedikit.
"Sangat enak sekali Ma, mama benar-benar sudah bisa jadi chef jika rasa masakan mama seperti ini," ucap Satria memuji masakan mamanya yang terasa sangat lezat.
"Ma, besok apakah mama akan buka tokonya," tanya Satria kepada mamanya sembari makan.
"Maafkan aku ma, karena rawat aku sakit, mama jadi tidak bisa buka toko," ucap Satria menyesal.
"Kamu ngomong apa sih sayang, sudah kewajiban mama untuk merawat kamu, malah mama sedih jika kamu saat sakit jauh dari mama, jadi sebisa mungkin kamu harus jaga kesehatanmu selama jauh dari mama dan juga jangan rewel soal makan lagi karena kamu anak mama yang selalu rewel soal makan," ucap mama Yuli.
"Gak koq ma, sejak mama masakin nasi gosong dan telor gosong dulu, Satria jadi paham untuk menghargai semua makanan yang ada karena jika tidak ada makanan dan hanya itu yang ada kita harus memakannya," ucap Satria sambil mengingat saat mamanya masakin nasi dan telor gosong di rumah lama.
"Oh iya kemarin kamu bilang sudah mau jualan kalau boleh mama tahu kamu mau buka usaha di mana sayang," ucap tanya Mama Yuli.
"Aku buka di pasar senggol memang sih ma cuma pasar tradisional tapi itu lebih baik karena Satria tidak jual di pinggir jalan sehingga tidak perlu berurusan dengan satpol PP dan juga harga sewanya terbilang murah jadi jika usaha ini gagal Satria tidak akan terlalu merugi, dan jika berhasil Satria juga bisa kembalikan uang modal baju kita," ucap Satria.
"Tapi apa bisa baju itu terjual di pasar tradisional karena baju yang kita miliki semua barang branded takutnya pelanggan tidak akan mampu bayar dengan harga mahal dan jika di jual murah maka kita gak dapat untung," ucap Mama Yuli ragu mengingat baju itu sudah mahal dari tempatnya.
__ADS_1
"Mama gak perlu khawatirkan hal itu, Satria akan ambil keuntungan seminim mungkin setelah itu Satria akan belanjakan dengan barang yang pantas di jual di pasar tradisional agar tidak kalah dengan penjual lain," ucap Satria yakin.
Setelah lama berbincang-bincang tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Ma sudah malam ada baiknya kita istirahat dulu ma, Satria yakin besok Satria pasti pulih sepenuhnya," ucap Satria optimis.
'Tok tok tok' terdengar suara ketukan di pintu rumah mama Yuli, segera mama Yuli melangkah keluar dan mencari tahu siapa gerangan tamu yang hadir malam begini.
Saat di buka pintunya nampak seorang pria datang, dan pria itu sama sekali tidak di kenalnya.
"Kamu siapa?" teriak mama Yuli.
Teriakan mama Yuli membuat Satria keluar dari dalam rumah dengan langkah gontai takut terjadi sesuatu kepada mamanya.
Satria memandangi pria itu, tubuhnya sangat kekar dan atletis. "Siapa pria ini?" ucap Satria dalam hati.
Pria itu melepas kacamatanya.
"Maaf saya terlalu malam kemari, perkenalkan nama saya Yanto saya di tugaskan Tuan Dian untuk menjaga nyonya, karena dari desas desus yang kami dengar dari kalangan para preman, ada seseorang yang perintahkan untuk membunuh nyonya namun karena kami sudah di handle oleh tuan Dian maka tidak ada dari kelompok kami yang menerima perintah itu, jadi saya ke sini secepat mungkin agar bisa mencegah hal yang buruk, saya harap Nyonya tidak keberatan saya ada di sekitar rumah nyonya," ucap Yanto.
"Tapi apa buktinya kalau kamu yang menjaga takutnya malah kamulah yang akan mencelakai," ucap Mama Yuli masih curiga.
Segera Yanto menelepon Tuan Dian dan di loud speaker olehnya sehingga terdengar dengan jelas perintah dari Tuan Dian.
"Baiklah kamu boleh berada di sekitar rumah saya untuk mengawasi tapi tolong jangan mengganggu dan satu hal lagi kamu jaga saya seminggu saja karena saya tak ingin orang desa melihat kamu seperti orang aneh. dan juga gantilah bajumu seperti orang pada umumnya karena dengan bajumu yang seperti itu akan membuat aku jadi bahan perbincangan," ucap mama Yuli.
Ucapan mama Yuli segera di lakukan Yanto dan Yanto akan berusaha menjaga mama Yuli 24 jam, meski bisa di bilang itu tidak mungkin jika harus jaga sendirian.
__ADS_1