
Setelah Satria bertemu om Dian perasaannya sedikit lega setidaknya akan ada yang membantunya menyelidiki masalah kebakaran, dan sebelum pulang sengaja Satria mencari alamat rumah itu agar nanti mudah baginya untuk menemukan dan memindahkan mamanya ke rumah itu dengan aman.
Agak lama Satria mencari rumah itu, karena rumah itu terlihat sendiri tiada tetangga yang dekat dan nampak di kiri kanan rerumputan liar cocok buat seseorang bersembunyi.
"Apa gak salah Om Dian memberikan rumah ini kepadaku sebagai tempat aman bagi mamaku," ucap Satria dalam hati.
Sepanjang perjalanan Satria berfikir tentang rumah yang terkesan luarnya tidak terawat, rasanya Satria tidak tega jika harus menempatkan mamanya di rumah itu.
Sesampainya di kostan nampak pintu kostnya masih tertutup rapat.
Di ketuknya pintu perlahan.
"Ma, mama," panggil Satria.
"Iya nak," terdengar sahutan dari dalam.
Pintu segera terbuka dan nampak mamanya tersenyum senang.
"Katanya pulang malam sayang, masih siang koq sudah pulang?" tanya mama Yuli.
"Kita pindah hari ini ma, sore nanti kita tinggali rumah baru kita, tapi maaf kalau agak jelek, tapi Satria jamin bakal aman buat mama, dengan begitu Satria akan pulang pergi merasa tenang," ucap Satria.
"Kenapa mesti pindah, di sini mama sudah merasa nyaman koq," ucap mama Yuli.
"Sudah Mama nurut Satria saja, ini semua Satria lakukan agar Mama aman," ucap Satria sambil mulai berkemas.
__ADS_1
"Mama makan dulu tadi Satria belikan gado-gado," ucap Satria yang tadi pas datang meletakkan bungkusan di meja.
Tanpa banyak bicara Mama Yuli segera makan namun hatinya tetap merasa aneh.
"Ada apa dengan Satria kenapa maksa pindah hari ini juga, apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui," ucap Mama Yuli dalam hati sambil makan.
"Ma, nanti di sana Mama tidak perlu keluar ke mana-mana semua persediaan sudah ada, mama tinggal masak dan makan tapi maaf untuk sementara mama tidak Satria ijinkan keluar ke mana-mana dan ini akan berlangsung hingga Satria selesai menyelidikinya," ucap Satria.
"Maksud kamu, Mama kamu jadikan tahanan rumah yang tidak boleh pergi ke manapun, dan apa maksud kamu dengan menyelidiki, sebenarnya ada apa dengan semua ini, mama bingung gak paham dengan maksud kamu," ucap mama Yuli yang tidak mengerti semua maksud Satria.
Satria lalu berhenti mengemas.
"Ma, sebelumnya Satria minta maaf tapi Satria tidak tahu harus bagaimana lagi agar hidup kita tenang, Mama ingat waktu lalu toko baju kita terbakar habis lalu toko mama di desa juga habis terbakar, semua ini bukanlah sebuah kecelakaan tapi ada orang yang sengaja membakarnya, mama ingat kemarin waktu rumah di jaga pengawal semua aman saja tepat setelah pengawal pergi malamnya toko mama di bakar, jadi semua ini sudah jelas kalau ada oknum-oknum yang sengaja ingin mencelakai kita mungkin awalnya hanya usaha kita yang di rusaknya namun tidak menuntut kemungkinan akan terjadi hal yang lebih besar lagi, karena itu Ma, Satria mohon untuk kali ini Mama ikuti saja kemauan Satria," ucap Satria dengan tatapan memohon kepada mamanya.
"Baiklah nak, Mama akan ikuti semua kemauan kamu," ucap mama Yuli dengan lemah.
"Mama tunggu di sini dulu habis ini mama aku bonceng, jangan lupa kunci pintu dan jangan buka pintu buat siapapun," ucap Satria berpesan agar Mama Yuli aman.
Segera Satria berangkat menuju rumah baru sesampainya di sana Satria buka pintu dan masukkan barang dan menaruhnya begitu saja lalu pintu rumah di tutupnya kembali dan Satria langsung menjemput Mamanya gak pakai lama.
Sampai di kostan segera Satria panggil mamanya untuk segera ikut ke rumah aman.
"Kamu cepat sekali sampainya nak?" tanya mama Yuli.
"Iya ma, lebih cepat lebih baik, ayo mama lekas naik kita berangkat sekarang," ucap Satria sambil siap berangkat, setelah mama Yuli naik segera Satria lajukan motornya menuju rumah baru.
__ADS_1
Setelah turun dari motor, Mereka di sambut 4 orang pria kekar.
"Kalian siapa?" tanya mama Yuli tegas.
"Kami pengawal yang di tugaskan untuk menjaga mama Yuli biar aman," sahut salah satu dari pengawal.
"Siapa yang suruh kalian?" tanya mama Yuli lagi.
"Tuan Dian atas ijin mas Satria," sahut mereka.
"Sudah ma, gak apa-apa nanti Satria jelaskan semuanya," ucap Satria sambil menarik tangan mamanya ke dalam rumah.
Setelah masuk rumah di dalamnya nampak bersih dan indah tidak seperti yang terlihat di luar, mama Yuli heran kenapa di luar rumah di biarkan banyak rumput liar tumbuh sedangkan di dalam rumah nampak begitu bersih dan rapi, mama Yuli melihat sekeliling rumah, rumah terdiri ruang tamu, dua kamar, satu musholla, dapur dan ruang makan jadi satu sedang kamar mandi ada 3 di dekat dapur sama di setiap kamar, dapur pun bisa di bilang cukup luas barang-barang terlihat cukup lengkap, di dalam kulkas penuh dengan bahan makanan dan di dapur pun tersedia semua kebutuhan pokok, sepertinya rumah ini sudah di siapkan begitu mama Yuli masuk rumah.
Di ujung plafon sepertinya ada cctv yang terpasang , itu ada di ujung ruang tamu, depan kamar dan dapur, kenapa ada cctv di rumah ini, sebenarnya rumah apa ini.
"Satria kamu dapat rumah ini dari mana, koq sepertinya rumah ini sangat aneh, lihat di ujung sana ada cctv dan beberapa tempat lainnya juga ada CCTV," ucap mama Yuli sambil menunjuk ke arah CCTV.
"Mama gak usah fikirkan, yang jelas Mama akan aman di sini, oh iya barang Mama sudah Satria taruh di kamar mama, maafkan aku ma, Mama aku taruh di kamar kedua, biar Aku bisa menjaga Mama dengan cepat kalau ada orang jahat masuk," ucap Satria penuh dengan kewaspadaan.
"Mama heran melihat semua ini, karena baru kali ini mama merasa di awasi setiap kegiatan mama," ucap mama Yuli.
Tidak lama kemudian mama Yuli masuk kamar, jendela kamar tidak bisa di buka sana sekali sepertinya sengaja di buat seperti itu, kaca jendela sepertinya tidak tembus pandang, mama Yuli bisa melihat keluar sementara orang di luar tidak bisa melihat ke dalam ruangan, namun kamar sederhana ini di lengkapi dengan AC jadi tidak masalah jika jendela tak bisa di buka.
Tempat tidur juga cukup hanya untuk satu orang saja, namun sangat nyaman untuk di tiduri.
__ADS_1
"Terserahlah kalau memang Satria ingin mamanya hidup terkurung di sini," ucap mama Yuli dengan nada menyerah.