
Satria yang bertemu kembali dengan Ibu penyapu jalanan yang pernah menolongnya, mengajak Satria ke warteg.
"Bu, Saya sudah makan tadi di sini, kalau Ibu lapar, Ibu saja yang makan biar Saya tunggu di sini," ucap Satria yang mengira akan di ajak makan Ibu penyapu jalanan.
"Kenalkan ini Kakaknya Ibu, Kami berdua sejak kecil yatim piatu dan pasangan Kami saling selingkuh jadi Kami putuskan menua berdua saja," ucap Ibu itu mengenalkan Kakaknya.
"Kamu kenal Dia Nur?" tanya pemilik warung.
"Kenal Mas, orang yang pernah pingsan yang pernah tak critain dulu itu loh," jawab Ibu Nur penyapu jalanan.
"Oalah pemuda yang Kamu critakan tempo dulu itukah?" tanya Masnya Nur.
"Iya benar Mas To," sahut Bu Nur.
Karena pengunjung sudah sepi. Pak To menghampiri Satria sambil memberikan segelas kopi.
"Mas, Aku nyapu dulu," pamit Bu Nur setelah minum air di warung Pak To.
"Kamu tinggalnya di mana Nak? dan Nama Kamu siapa?" tanya Pak To.
"Rumah Aku tak punya Pak, nama Aku Satria," jawab Satria.
"Ohh Satria bagus sekali namanya, lah Kamu nak dari pada lontang lantung gak jelas lebih baik tinggal di rumah Pak To saja, Bapak cuma tinggal berdua sama Dik Nur, kalau ada Kamu kan ada teman bicara Bapak kalau pulang jualan," ucap Pak To menawarkan tempat tinggal buat Satria.
"Tapi Pak, Saya juga gak punya kerjaan, kalau cuma numpang saja rasanya gak enak Pak," ucap Satria merasa segan.
"Halah Nak, Bapak gak mikirin itu, untuk urusan makan biar Bapak tanggung wong Bapak buka warung, buat makan Kita semua hasil warung sudah lebih dari cukup," jelas Pak To.
"Duduk sini saja dulu, Bapak mau layani pembeli Nak," pamit Pak To yang warungnya mulai kedatangan pembeli.
Tidak terasa hari sudah sore, Pak To dan Bu Nur sudah selesai melakukan pekerjaannya.
"Ayo Nak, Kita pulang sekarang," ucap Pak To sambil membawa 2 rantang makanan.
"Iya Pak," sahut Satria.
__ADS_1
Satria lalu membantu Pak To bawakan rantangnya sedangkan Bu Nur kelihatan kipas-kipas mukanya, mungkin karena lelah seharian menyapu jalanan.
Mereka berjalan hanya sekitar 1/2 jam saja dan sesampainya di rumah Pak To segera buka pintu, "Ayo masuk Nak ke gubuk sederhana Kami," ucap Pak To setelah pintu terbuka.
Di bukanya semua jendela rumah dan angin segar memasuki rumah itu.
"Sini Nak," panggil Pak To.
Satria menaruh rantang di meja dan segera menghampiri Pak To, "Ini kamar Kamu, itu di dalam lemari ada baju sama celana waktu Bapak masih muda dulu, coba saja mungkin muat buat Kamu dan jangan lupa bersihkan dulu ranjangnya dan kasih sprei yang ada di lemari itu, kalau sudah dapat baju, nanti Kamu lurus saja ke belakang lalu belok kanan nah di situ ada kamar mandi, silahkan mandi dulu dan nanti Kita lanjut bicara lagi setelah makan malam," ucap Pak To sambil menjelaskan tempat kamar mandinya.
Sedangkan Bu Nur langsung masuk kamar dan menuju kamar mandi karena badannya sudah penat.
Pak To ke dapur menghangatkan lauk dan nasi yang di bawanya dari warung dan di sajikan kembali di atas rantang.
Satria yang sibuk membersihkan ranjang dan mengganti sprei tidurnya jadi teringat Mamanya yang biasanya bersihkan tempat tidurnya dan merapikannya.
Air mata Satria kembali menetes, Dia menghela nafas panjang.
"Ma, Aku kangen Mama," ucap Satria sambil mengusap air matanya.
"Hah," keluh Satria.
Satria segera bangun dari duduknya dan Dia mulai memilih baju yang ada di lemari, semua nampak kecil di pakainya bajunya cingkrang begitu pula celananya.
"Tapi tak apalah buat sementara ini," ucap Satria akhirnya mengambil sepasang pakaian bekas Pak To.
Setelah mandi Satria menemui Bu Nur dan Pak To yang telah siap di meja makan.
"Ayo Nak Kita makan seadanya," tawar Pak To di mana terlihat sisa jualan Pak To yang tidak habis tadi.
"Iya Pak, terimakasih sebelumnya," ucap Satria.
Mereka makan bersama sambil sesekali bercanda terasa hangat keluarga ini, meski Kakak beradik nampak keduanya saling menyayangi.
"Mas, besok coba Satria belikan baju bekas beberapa potong, masa' Dia harus pakai baju cingkrang begitu kan kasihan," ucap Bu Nur.
__ADS_1
"Iya Dik, biar besok Satria ikut Mas ke pasar loak," ucap Pak To.
Tidak berapa lama makan malam pun selesai.
Pak To dan Satria duduk di teras sambil memandang rembulan purnama.
"Nak, semoga Kamu betah tinggal di sini ya, meski nampak sepi tapi setidaknya Kita gak jauh dari apapun dan rumah yang Kita huni pun bisa melindungi terik panas dan hujan," ucap Pak To.
"Ayo di minum dulu kopinya," ucap Bu Nur sambil membawa nampan berisi gorengan dan kopi panas.
Satria merasa gak enak sama Mereka berdua, Dia bertekad mencari kerja, tapi kerja apa? tas yang berisi ijasah dan surat penting lainnya sudah gak ada. Mata Satria menatap ke bulan dengan tatapan kosong.
"Hayo lagi mikirin apa Nak?" tanya Bu Nur mengejutkan Satria.
"Gak ada Bu, Saya hanya ingin dapat kerjaan tapi pekerjaan apa yang tidak butuh ijasah sama modal karena Saya gak punya keduanya," ucap Satria mengutarakan semua yang di fikirkannya saat ini.
"Bantu Bapak di warung saja gimana?" tawar Pak To.
"Kalau Aku bantu Pak To di warung yang ada nantinya orangnya akan keluar uang buat gaji Aku, gak gak gak boleh begitu, Mereka sudah baik padaku, jadi Aku ingin pekerjaanku tidak tergantung dengan Mereka dengan begitu Aku punya penghasilan sendiri," bathin Satria.
"Gak Pak terimakasih atas tawarannya, Aku ingin kerja yang tidak merepotkan Bapak dan Ibu," ucap Satria jujur.
Pak To dan Bu Nur saling pandang.
"Lalu kerja apa yang Kamu mau Nak?" ucap Pak To bingung.
"Mas, di ikutkan proyek jalan raya gimana kan gak perlu ijasah dan hasilnya lumayan juga," usul Bu Nur.
"Kamu memang pernah kerja kuli Nak, angkat semen, angkat batu-bata dan sejenisnya?" tanya Pak To ragu jika Satria yang terlihat keren ini pernah bekerja berat.
"Gak pernah Pak," ucap Satria sambil menggelengkan kepala.
Seumur hidupnya belum pernah kerja sekeras itu, kemungkinan besar Dia takkan mampu bekerja begitu keras.
"Tuh kan Dik, kasihan kalau Nak Satria jadi kuli yang ada malah sakit Dia nantinya," ucap Pak To yang kurang setuju usul adiknya sejak awal.
__ADS_1