
Kebahagiaan terpancar di wajah Pak To setelah menerima kantong yang berisi bumbu dapur, Melihat hal ini sungguh membuat Satria merasa bahwa selama hidup dirinya adalah orang yang tak tahu bersyukur dan selalu mengeluh tiap kali mendapatkan sesuatu yang di rasanya kurang.
"Pak, Aku pergi dulu," pamit Satria setelah minum kopi yang di sajikan Pak To.
"Iya Nak, nanti kalau lapar ke sini ya," teriak Pak To.
Satria hanya beri isyarat oke dengan tangannya. Satria terus berjalan menyusuri jalanan, niatnya untuk mencari pekerjaan, di lihatnya aktifitas tukang parkir yang sepertinya pekerjaannya tidak terlalu berat segera Dia melangkah menuju tukang parkir untuk bertanya tentang pekerjaan itu.
"Pak, pak," panggil Satria berulang.
"Iya Nak, ada apa gerangan," sahut tukang parkir sambil sibuk menata uang kertas nominal kecil.
"Apa boleh aku ikut bapak jaga parkir?" tanya Satria.
"Apa kamu yakin mau, bapak juga senang jika kamu mau karena bapak kewalahan jaganya, kalau kamu mau, kami jaga yang di sebelah sana nanti hasil uangnya kita bagi rata," ucap Bapak tua itu.
"Baik pak, saya mau," ucap Satria semangat segera Satria berjalan ke ujung di tempat yang di tunjuk bapaknya.
Dengan rajin Satria menjaga dan mengontrol keluar masuk kendaraan.
"Ternyata jadi tukang parkir cukup melelahkan dan uang yang di dapat hanyalah lembaran-lembaran uang kecil bahkan tak jarang orang yang tidak bayar ongkos parkir," bathin Satria.
Satria tetap semangat, matahari sudah nampak terik sinarnya di rasa membakar kulit, nampak bapak tukang parkir biasa saja, namun beda dengan Satria yang nampak merasa kepanasan karena memang tak terbiasa berada di bawah terik matahari.
Kepala Satria mulai berkunang-kunang dan tak lama kemudian pingsan, semua orang di sekitar segera membopong Satria dan menaruhnya di pinggir jalan agar tidak tertabrak dan rekannya Bapak tua itu segera membawakan minum di botol, di tuangnya sedikit di telapak tangan dan di cipratkan ke wajah Satria berharap agar segera sadar.
Tidak lama Satria pun mulai siuman.
"Minum dulu nak," tawar bapak tua itu.
Segera Satria minum air yang di berikan bapaknya, perut Satria berbunyi keroncongan dan itu di dengar Bapak tua itu.
Segera Bapak tua beranjak bangun dari jongkoknya dan pergi namun tak lama kembali membawakan sebungkus nasi untuk Satria.
__ADS_1
"Ini nak di makan, lumayan buat ganjal perut," ucap Bapak tua itu lalu melangkah pergi karena ada mobil yang ingin parkir.
Satria segera makan dengan lahap, Satria memang pagi tadi belum sarapan, karena ingin makan Satria gak bawa yang sepeserpun, ingin minta Pak To beliau belum selesai masak, akhirnya Satria terpaksa pergi dan bekerja dengan perut kosong.
Satria menyuap makanannya sambil melihat Bapak tua itu, tak hentinya Satria mengucap rasa terima kasih dalam hatinya karena Satria tak tahu andaikan Dia pingsan di tempat lain mungkin akan lain ceritanya, tidak berapa lama Satria mulai menangis terharu.
Nasi bungkus Satria sudah habis, Satria tahu sekarang bahwa hidup sangat keras jadi Satria akan semangat menjalani hidup yang sedang di lakoninya saat ini.
Satria bangun dari duduknya dan segera berdiri lalu melangkah menuju parkiran untuk membantu Bapak tua menjaga parkiran.
"Istirahat saja Nak, biar Bapak kerjakan sendiri," ucap Bapak Tua itu yang masih khawatir dengan kondisi Satria yang lemah.
"Gak pak, saya sudah kuat koq, bapak gak usah khawatirkan Saya," ucap Satria sambil menghentakkan kakinya untuk menunjukkan bahwa Dia sudah sehat.
"Ya sudah, tapi kalau gak kuat jangan di paksakan," ucap bapak tua itu mengalah dengan tekad Satria.
Satria kembali memulai aksinya sebagai tukang parkir, semakin kesini Satria semakin menikmati meski sederhana pekerjaannya namun santai dan penuh canda tawa sekali-kali bapak membeli gorengan dan minuman untuk di nikmati bersama, tidak terasa waktu sudah malam.
segera di keluarkan uang yang ada di kantongnya begitu pula Satria ikut keluarkan semua uang yang ada di kantongnya.
Uang pecahan-pecahan kecil mulai di kumpulkan dan di tumpuk sesuai satuannya, uang koin juga di tumpuk sesuai satuannya, setelah semua selesai segera Bapak tua menghitung uang itu dan kemudian membaginya dengan rata dengan Satria.
"Pak, jangan setengah untuk saya, sepertiga saja sudah cukup bukankah tadi saya juga bantu parkirnya tidak selama Bapak," ucap Satria menolak karena uang itu bukan murni jerih payahnya sendiri karena Bapak tua itu yang kerjanya lebih lama.
"Sudah terima saja, suatu saat nanti jika Bapak sakit dan tak bisa kerja dengan waktu yang lama pasti kamu juga akan berbuat hal yang sama kepada Bapak," ucap bapak tua itu.
"Terimakasih Pak kalau begitu, besok saya akan datang lagi," ucap Satria.
"Kamu naik apa Nak?" tanya Bapak tua itu.
"Jalan kaki Pak, tempat tinggal saya gak terlalu jauh koq pak," ucap Satria.
"Ayo bareng Bapak saja," ucap Bapak tua itu yang menaiki motor bronk.
__ADS_1
Satria merasa gak enak menolak, antar saya ke warung orang tua saya saja pak," ucap Satria sambil duduk di boncengan bapak tua itu.
"Namamu siapa nak?" tanya bapak tua itu.
"Aku Satria pak!" jawab Satria.
"Nama Bapak sendiri siapa," tanya Satria balik.
"Aku Heru nak, dulu waktu muda bapak seorang preman di pasar tapi karena bertemu wanita yang sekarang jadi istri bapak, sekarang bapak sadar bahwa pekerjaan bapak sebagai preman tidaklah baik," jelas bapak tua sambil memelankan motornya.
"Sudah pak di sini," ucap Satria saat motor berhenti di warung pak To yang nampak sedang berberes.
"Bapak pamit dulu nak," pamit pria itu dengan wajah ketakutan.
Satria menatap heran kepada Pak Heru kenapa tiba-tiba wajahnya berubah seperti itu setelah melihat pak to.
"Aneh," ucap Satria sambil garuk-garuk kepalanya.
"Apanya yang aneh," ucap Pak To sambil memberikan sepiring nasi berikut lauknya ke Satria.
"Anu pak, itu tadi teman baru Satria barusan bicara kalau Dia mantan preman, tapi begitu lihat pak To Dia langsung kabur begitu saja dengan wajah ketakutan," ucap Satria sambil menyuap nasi di piringnya.
"Memang siapa namanya?" tanya Pak To.
"Pak Heru, tadi Satria bantu Pak Heru jaga parkir di depan toko," ucap Satria.
"Ha ha ha, tentulah Heru takut sama bapak, Dia itu anak buah bapak dan karena malak orang dengan tega jadi bapak hajar habis-habisan biar jera," jelas Pak To.
"Pantas takut lihat Bapak," ucap Satria sambil menikmati makanannya.
"Kamu koq gak ke warung sama sekali, kamu seharian pasti belum makan kan," ucap Pak To.
"Aku makan pak, tadi di belikan Pak Heru," sahut Satria.
__ADS_1