
Yanto pengawal kiriman om Dian nampak berkeliaran di sekitar rumah Mama Yuli.
Satria sedikit lega dengan datangnya pengawal itu, lain halnya dengan Mama Yuli yang merasa risih saat melihat pengawal itu terus menatapnya juga terus bergerak berkeliling.
"Sini," ucap Mama Yuli sambil melambaikan tangannya sebagai tanda memanggil.
Yanto segera datang mendekat.
"Iya mama Yuli ada apa?" tanya Yanto.
"Duduk dan minum kopinya, jangan berkeliling lagi, aku pusing lihatnya," ucap mama Yuli kesal.
"Baik," jawab Yanto singkat.
Mama Yuli sedikit tenang melihat Yanto tidak mengelilingi rumahnya meski mata Yanto terus menaruh curiga setiap pelanggan yang datang sehingga banyak orang yang bertanya tentang Dia, Mama Yuli selalu menjawab dia kerabat jauh berkunjung kemari mungkin cuma seminggu saja, dan para tetangga menyapa Yanto dengan ramah karena mengira kerabat mama Yuli beneran.
"Ma," sapa Satria.
"Apa nak," sahut mama Yuli.
"Berhubung di sini ada pengawal kiriman dari Om Dian jadi Satria untuk sementara tidak balik ke kota dulu takutnya ada gunjingan buruk dari para tetangga," ucap Satria.
"Boleh sayang, boleh banget, mama juga gak nyaman jika dia ada di sekitar rumah kita, bikin risih saja," ucap mama Yuli.
"Lagian om Dian ngapain sih pakai kirim pengawal segala," ucap Satria sedikit bingung.
"Mungkin khawatir mama kenapa-napa sayang, jadi biarkan saja om Dian seperti itu, anggap saja beliau penjaga mama," ucap mama Yuli.
Satria segera mendekati Yanto untuk mengajaknya sedikit santai agar tidak menimbulkan curiga orang di sekitarnya.
"Pak Yanto," sapa Satria ketika sudah dekat dengan pak Yanto pengawal mamanya.
"Iya mas Satria," sahut Pak Yanto sambil menoleh sebentar namun kembali menatap pelanggan mama Yuli.
"Pak Yanto jangan tegang gitu, semua yang datang itu pelanggan orang sekitar sini juga jadi jangan terlalu membuat mereka takut dengan tatapan tajam pak Yanto," ucap Satria.
"Saya hanya ingin mama Yuli aman seperti tugas yang di berikan kepada saya," sahut pak Yanto sambil menatap setiap orang yang dekat dengan mama Yuli.
"Pak, kita main catur yuk," ucap Satria mengalihkan perhatian pak Yanto agar tidak terus mengawasi Mamanya.
"Nanti saja, kalau sudah agak sepi tokonya, jangan sampai saya lalai dan terjadi hal yang saya khawatirkan," ucap Pak Yanto tegas.
Satria merasa bingung harus bagaimana mengalihkan perhatian pak yanto karena sepertinya pak Yanto begitu memegang prinsip dan teguh pada pendiriannya.
"Terserah bapaklah kalau begitu," ucap Satria seraya bangun dari duduknya.
Satria segera pergi dan berjalan menuju toko mamanya, dan mulai membantu mamanya melayani pembeli.
Setelah agak sepi pembeli, Satria duduk di dalam toko.
__ADS_1
"Bagaimana hasil penjualan hari ini ma?" tanya Satria kepada mamanya.
"Seperti biasanya, banyak yang bon daripada yang bayar," ucap mama Yuli sedikit kecewa dengan hasil penjualannya.
"Kalau begini terus bagaimana toko mama bisa berjalan baik, apa gak lebih baik di tutup saja ma tokonya dan ikut Aku ke kota," ucap Satria.
Mama Yuli menghela nafas panjang.
"Mau bagaimana lagi nak, warga di sini hanyalah petani dan mereka hanya mengandalkan hasil panen untuk kebutuhannya, kita lihat saja nanti jika memang sudah benar-benar minus dan tak mampu belanja barang lagi, mama mau tagih mereka meski tidak di kasih semuanya setidaknya bisa di pakai belanja lagi," ucap Mama Yuli sedikit letih.
"Ya sudah kalau gitu mama harus terima konsekuensinya," ucap Satria.
Sampai sore hari Satria bersama Mamanya di toko namun mereka juga melihat pak Yanto yang sudah mulai berjalan berkeliling rumah.
"Ma, kasihan pak Yanto biar Satria suruh istirahat sudah dua hari orang itu gak tidur," ucap Satria kepada mamanya yang di sertai anggukan mama Yuli.
Satria mendekati Pak Yanto yang sedang sibuk berkeliling, di tahannya tangan pak Yanto agar langkahnya berhenti.
Melihat Satria ada di dekatnya, Pak Yanto menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa mas? apa ada masalah?" tanya Pak Yanto kepada Satria.
"Gak pak, gak ada masalah hanya saja saya khawatir dengan kesehatan pak Yanto karena saya lihat pak Yanto sudah dua hari tidak tidur, apa tak sebaiknya pak Yanto istirahat sebentar di dalam biar sekitar rumah saya awasi dulu selama pak Yanto istirahat," ucap Satria dengan tulus.
"Bapak gak apa-apa nanti malam ada teman bapak yang kemari menggantikan bapak sementara waktu, jadi waktu itu bisa bapak gunakan untuk istirahat dan pengganti bapak akan berjaga sekitar satu hari penuh, nanti bapak perkenalkan pada kalian agar kalian kenal dan merasa aman," ucap Pak Yanto.
"Apa-apaan ini pak Yanto saja sulit untuk di alihkan di tambah lagi rekannya," ucap Satria dalam hati sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Siap mas Satria," sahut Pak Yanto.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, terdengar suara ketukan dari luar, segera Satria buka pintu dan ternyata pak Yanto dan rekannya yang datang.
"Silahkan masuk," ucap Mama Yuli ramah.
"Tidak usah Mama Yuli kami di sini saja, saya ke sini hanya ingin perkenalkan teman saya Galih yang sementara akan menjaga tempat tinggal mama Yuli dalam sehari, karena saya harus pulang dulu ke kota buat lapor dan istirahat sejenak," ucap Pak Yanto.
Mama Yuli merasa tidak percaya bahkan setelah dua hari pria di depannya ini tidak istirahat malah akan berkendara ke kota hanya untuk lapor dan istirahat saja.
"Maaf pak Yanto, saya takut pak Yanto ada apa-apa di jalan terlebih jalan ke kota itu sangatlah jauh, kalau bisa istirahat di sini saja sebentar nanti jika sudah hilang rasa kantuknya, bapak bisa kembali ke kota," ucap mama Yuli yang merasa tidak tega melihat pria di depannya ini berkendara dalam keadaan ngantuk.
"Tidak terimakasih, kami para pengawal sudah terbiasa tidak tidur selama beberapa hari selama bertugas, hanya saja saat ini saya harus laporkan keadaan di sini," ucap Pak Yanto.
"Kalau begitu, saya permisi dulu untuk berangkat ke kota sekarang juga, selamat malam," ucap pak Yanto kepada mama Yuli.
Mama Yuli mengangguk mengijinkan Pak Yanto pergi.
Sudah seminggu rumah Mama Yuli di jaga bergiliran, Pak Yanto dan pak Galih.
"Pagi mama Yuli dan mas Satria kurasa kami sudah seminggu berjaga di sini dan tidak ada hal yang membahayakan, jadi kami pamit untuk kembali ke kota," ucap Pak Yanto.
__ADS_1
"Silahkan pak, semoga selamat sampai tujuan," ucap mama Yuli tulus.
Setelah Pak Yanto dan Pak Galih pergi dari rumah Satria.
"Ma, besok Satria juga kembali ke kota, Satria rasa mama sudah aman terbukti seminggu tidak ada apapun yang terjadi di sini," ucap Satria merasa sedikit lega karena hal yang di khawatirkan tidak terjadi hingga saat ini.
Malam menjelang Mama Yuli dan Satria tertidur lelap.
Sayup terengar suara orang ribut di luar.
"KEBAKARAAN KEBAKARAAN KEBAKARAAN" teriakan sekumpulan orang di luar rumah mama Yuli.
Mama Yuli dan Satria segera membuka matanya dan berlari keluar rumah, dan alangkah terkejutnya toko mama Yuli di lalap si jago merah.
Melihat hal ini Mama Yuli terduduk lemas tidak tahu harus berkata apa lagi, usaha yang baru di rintisnya habis terbakar.
"Ma, mama," ucap Satria sambil menggoyangkan tubuh mamanya yang terduduk dan memaku melihat api yang menjilat-jilat di tokonya.
Para warga kampung membantu padamkan api dengan cara di guyur secara gotong royong agar api tidak menjalar sampai rumah mama Yuli dan warga kampung.
Pak RT dan Bu RT datang menghampiri mama Yuli yang terduduk lemas.
"Sudah Bu Yuli, yang sabar Bu yah, yang ikhlas hadapi ujian ini,' ucap Bu RT sambil berusaha menenangkan hati mama Yuli.
Cukup lama para warga berusaha padamkan apinya.
Setelah api padam, segera para warga bubar sebelum bubar mereka menghampiri mama Yuli dan Satria dan berkata 'YANG SABAR' Mama Yuli dan Satria berusaha sabar dan ikhlas meski dalam hati rasanya ingin marah, menjerit dan menangis namun semua itu di tahannya.
"Ayo ma, kita masuk ke dalam," ucap Satria sambil bangunkan mamanya dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah, Satria segera ambilkan air putih buat mamanya.
"Aku yakin pelakunya adalah Tante Hana perempuan licik itu, tapi bagaimana cara aku bisa buktikannya, apa sebaiknya aku minta bantuan om Dian agar tidak terulang kejadian seperti ini lagi," ucap Satria dalam hati.
Sedangkan nampaknya mama Yuli syok karena kejadian ini.
Tatapan matanya kosong, melihat mama Yuli seperti itu membuat Satria ingin menuntut balas.
"Awas kamu Tante Hana jika terbukti kamu pelakunya jangan harap bisa selamat, akan ku hanguskan usahamu juga," ucap Satria geram.
"Ma, sudah jangan fikirkan lagi toko kita yang terbakar nanti kita bangun lagi," ucap Satria.
"Tidak mungkin kita bangun lagi bagaimana kalau di bakar lagi, mama sudah tak mau buka toko lagi, kita jual saja rumah ini, kita pergi ke kota dan tinggal di sana, kontrak juga gak apa-apa," ucap mama yuli putus asa.
"Baiklah kalau itu keinginan Mama, besok Satria akan ke rumah pak RT dan pasrahkan penjualan rumah ini padanya," ucap Satria kepada mama Yuli.
Akhirnya rumah itu di serahkan Satria kepada pak RT untuk penjualannya, Mama Yuli dan Satria berangkat pergi ke kota dengan Carter mobil dan menuju rumah kostan Satria di kota.
"Ma, besok Satria akan cari kontrakan lain agar mama ada kamar sendiri buat tidur," ucap Satria kepada mamanya karena kostannya cuma satu kamar.
__ADS_1
"Gak usah sayang di sini saja dulu sampai kita mapan dan ada penghasilan," ucap Mama Yuli.