ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
SATRIA PERGI KE KOTA


__ADS_3

Satria sudah mulai bosan dengan kehidupan desa yang terlalu damai baginya dan bagi Satria hidup tanpa senang-senang itu bukan hidup namanya.


Pada akhirnya Satria memutuskan untuk pergi ke kota, dengan segala cara.


Mama Yuli nampak bangun pagi seperti biasa, tukang bangunan pun sudah memulai pekerjaannya, bahan bangunan juga sudah mulai berdatangan, beberapa kuli juga sudah hadir.


Mama Yuli hanya menyediakan minum dan kue, beliau tidak mau ribet urusan makan tukang dan kuli hingga memutuskan memberi mereka uang makan saja.


"Ma," ucap Satria sambil memandang para kuli dan tukang bekerja.


"Apa nak," sahut Mama Yuli.


"Aku kangen ingin pergi ke kota ma, sekedar jalan-jalan saja buat hilangkan bosan, sekaligus melihat rumah kita dulu siapa sekarang yang menghuninya," ucap Satria beralasan padahal niatnya cuma ingin bersenang-senang saja.


"Kalau kamu ke kota lalu mama bagaimana," ucap Mama Yuli sedikit tak rela di tinggal Satria pergi ke kota.


"Yah kalau mama mau mama juga boleh ikut, apa mama gak bosan hidup di desa yang hanya begini-begini saja tiap harinya, mama gak pingin ke mall atau ke salon atau ke tempat lain yang mama sukai," ucap Satria iming-iming mamanya.


"Jujur mama juga kangen kota, tapi mama bisa apa di kota kita sudah tidak ada rumah dan untuk bekerja mama gak tahu mesti bekerja apa," ucap mama Yuli sedikit sedih.


"Kalau mama mau kita cari kontrakan di kota untuk urusan pekerjaan kita cari seadanya saja, bukankah uang kemarin masih banyak di tambah lagi baju yang belum sempat di jual kemarin juga lumayan banyak ada di rumah lama kita, mungkin kita bisa minta ijin kepada om Dian untuk ambil barang dan kita bisa jual di lapak kecil-kecilan dahulu," ucap Satria berusaha merayu mamanya.


"Tapi bagaimana, kamu lihat sendiri proses pembangunan toko sudah di mulai dan mungkin dalam waktu dua Minggu toko kita sudah selesai di bangun, terus kita apakan toko kita ini nantinya," ucap mama Yuli bimbang.


"Atau bagaimana kalau mama kelola toko di desa ini dan Satria akan mencoba buka usaha di kota dengan begitu kita bisa tahu mana yang lebih baik, di kota atau di desa dan jika ekonomi di desa bagus kita tinggal di desa saja, Namun jika usaha Satria di kota lebih baik maka mama harus mau tinggal di kota, sedangkan rumah desa ini kita jual saja nantinya, jadi kita selamanya tinggal di kota," ucap Satria kepada mamanya.

__ADS_1


"Memang rencana kamu ke kota ingin usaha apa?" tanya mama Yuli.


"Satria belum tahu tapi jika mungkin Satria akan ambil baju kita di rumah lama lalu mencoba menjualnya dengan sewa lapak yang pinggir jalan saja," ucap Satria meyakinkan mama Yuli.


"Mama gak yakin kamu mampu hidup sendiri di kota, terlebih kamu punya penyakit lambung yang membuat kamu tidak boleh terlambat makan, gimana kalau kamu sampai sakit, siapa yang akan rawat kamu nantinya," ucap mama Yuli khawatir.


"Satria berjanji akan jaga diri dan juga kesehatan Satria saat jauh dari mama, beri Satria kesempatan untuk bisa hidup mandiri," ucap Satria kepada mamanya dengan lembut.


Mama Yuli nampak berfikir bagaimana baiknya, setelah beberapa saat kemudian mama Yuli menghela nafas panjang lalu berkata.


"Baiklah mama ijinkan kamu pergi ke kota, mama di sini akan menunggu kabar baik darimu, kabari mama jika ada sesuatu yang terjadi pada diri kamu, kapan rencana kamu pergi ke kota," ucap mama Yuli dengan terpaksa.


"Secepatnya ma, sekarang juga gak apa-apa, di sini sudah ada pak RT dan bu RT yang selalu siap membantu mama apapun itu, sedangkan Satria sendiri akan berjuang dan mengadu nasib di kota," ucap Satria dengan penuh semangat.


"Baiklah nak, persiapkan dirimu, mama juga akan siapkan bekal kamu di kota nantinya," ucap mama Yuli sambil beranjak bangun dari duduknya dan lalu masuk ke dalam kamar.


Setelah agak tenang hatinya, mama Yuli bergegas keluar dari kamar untuk menemui anaknya, Satria ada di kamarnya dan mama Yuli segera menghampirinya.


"Apa ada yang bisa mama bantu nak?" tanya mama Yuli.


"Mama duduk saja, Satria biar mengemas sendiri baju ganti untuk di pakai di kota nantinya," ucap Satria sambil memilih beberapa lembar baju.


Mama Yuli duduk dengan terus memandang Satria, kesedihan di hatinya tidak bisa di tutupi, air mata mama Yuli terus menetes setiap kali usai di usap, air mata kembali menetes.


"Kamu akan pergi tinggalkan mama sendiri sayang, semoga kamu baik-baik saja di kota nantinya, mama sangat sayang kamu, kini mama akan sendirian di rumah ini," ucap mama Yuli dalam hati.

__ADS_1


"Sudah ma," ucap Satria setelah selesai kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri mamanya.


"Mama kenapa, apa mama sedih?" tanya Satria setelah menatap mata mamanya yang memerah.


"Gak sayang, hanya saja entah mengapa rasanya mama tidak tega biarkan kamu berjuang sendiri di kota," ucap mama Yuli lembut sambil memegang tangan anaknya.


Satria berjongkok di hadapan mamanya.


"Ma, Satria akan berusaha semampunya, tolong mama jangan buat Satria menjadi sedih," ucap Satria dengan perasaan bimbang.


"Baiklah sayang, ini ada uang untuk bekal dan modal kamu di kota nanti, tapi berjanjilah kepada mama bahwa kamu sering pulang berhasil atau tidak di kota kamu harus menjenguk mama," ucap mama dengan penuh rasa khawatir.


"Iya ma, Satria janji akan sering pulang meski apapun yang terjadi," ucap Satria sambil mengusap air mata mamanya yang mengalir di pipinya.


"Satria berangkat yah ma, doakan agar Satria berhasil," ucap Satria.


"Iya sayang, hati-hati di jalan, mama akan selalu merindukan dan menantikan kedatangan kamu," ucap mama Yuli.


Setelah berpamitan mencium pipi mama Yuli serta memeluk dengan erat, Satria segera berangkat dengan naik motor di iringi dengan lambaian tangan mamanya serta air mata perpisahan mamanya.


"Hati-hati di jalan nak, semoga Allah selalu melindungi dan menjagamu saat jauh dari mama," ucap doa mama Yuli dalam hati.


Motor Satria melaju kencang menuju kota dan beberapa kali berhenti untuk makan dan minum, perjalanan Satria dari desa ke kota cukup jauh dan memakan banyak waktu.


Setelah 10 jam perjalanan, akhirnya Satria sampai di kota, Satria menikmati udara kota.

__ADS_1


"Aku datang kota tercintaku," ucap Satria dalam hati.


__ADS_2