
Setelah bangun dari tidurnya, Satria masih sedikit pusing.
"Lebih baik aku pesan makanan online saja, kalau aku nekad keluar jalan takutnya aku kembali pingsan," ucap Satria dalam hati.
Setelah beberapa saat akhirnya pesanan makanan datang, Satria segera makan dan minum obat dari rumah sakit.
"Aku besok harus sehat, aku ingin mencari tempat usaha agar aku bisa memulai usaha baru, aku yakin pasti mama sekarang sudah buka usahanya karena sudah seminggu aku di sini, jika mungkin aku akan mengajak mama ke kota," ucap Satria.
Kepala Satria masih terasa pening, dan Satria tidak dapat menahan kantuk karena efek obat dari dokter.
Saat pagi menjelang Satria segera bangun dan setelah bersihkan diri segera dia mencari sarapan karena ingin segera mencari tempat buat usaha nantinya.
Usai sarapan Satria segera berjalan mencari tempat untuk usaha nantinya, setiap jalan di susurinya dengan mengendarai motornya.
Siang hari cuaca sangat terik Satria segera berteduh di sebuah warung gerobak di jalanan dan membeli segelas es cincau, rasa segar dan manisnya es di tenggorokan seakan menghapus hausnya.
"Aku harus ke mana lagi sekarang, aku merasa sangat capek, motorku juga sudah waktunya di isi bensin sedangkan ke pom harus antri beli eceran sebentar pasti habis dan nanti harus isi lagi," ucap Satria dalam hati sambil mengusap air matanya.
"Masnya mau ke mana, koq seperti bingung," ucap pedagang es cincau.
"Aku mau cari lapak pak, mau buka usaha baju, kira-kira bapak tahu gak tempat yang cocok buat usaha saya nantinya?" tanya Satria.
"Ouh masnya mau jualan baju toh, coba masnya kreditkan pasti laku tapi yah gitu deh kalau yang hutang nakal, modal hilang," sahut tukang es.
"Gak pak, aku niatnya cari tempat lapak buat jualan dan inginnya orang bayar cash maklum usaha modal pas-pasan," ucap Satria.
"Coba masnya jualan di pasar senggol, bukanya sekitar jam 9 pagi sampai jam 9 malam, tapi yah gitu namanya juga pasar mas kalau masnya jual harga pas gak akan laku, biasanya pasti di tawar orang sampai dapat," ucap tukang es.
"Gak apa-apa pak, penting saya ada penghasilan gak jadi pengangguran," ucap Satria.
"Bapak tahu pasar senggol itu sebelah mana?" tanya Satria.
"Mas ke arah selatan sana, lurus aja sampai di perempatan bertemu toko Dewaki habis itu masnya belok kira nah pasar senggol ada di belakang toko Dewaki," ucap tukang es itu.
__ADS_1
"Terimakasih pak, saya ke sana sekarang," ucap Satria.
Di jalankan motornya menuju ke selatan sesuai petunjuk Tukang es.
Di perempatan pertama dia tak menemukan toko Dewaki, di perempatan ke dua juga tidak ada toko Dewaki.
"Aku pasti di bohongi sama tukang es itu, dasar," umpat Satria.
Motor terus berjalan hingga perempatan berikutnya dan ternyata ada toko Dewaki.
"Oh ternyata di sini toko Dewakinya," ucap Satria menyesal sudah curiga sama tukang es.
Segera motornya belok kiri dan terlihat pasar yang tidak terlalu besar yang menyediakan baju sepatu dan beberapa aksesoris lainnya.
Lalu dia bertanya kepada setiap penjual di pasar senggol itu untuk bertanya tentang tempat yang kosong.
"Ada mas, tepat di ujung sana, tapi tempatnya sedikit kecil, tapi cukuplah buat jualan baju," ucap pedagang di situ.
"Di sini harga sewanya berapa pak?" tanya Satria.
"Sesuai budget kalau segitu, biar aku sewa saja besok aku akan ke Om Dian untuk minta kunci rumah lamaku buat ambil baju yang dulu aku beli di Tante Hana," ucap Satria dalam hati.
"Bapak tahu yang punya lapak itu siapa?" tanya Satria.
"Masnya ke lapak depannya, ibu penjual sandal itu yang punya lapak mas," ucap bapak itu.
"Terimakasih pak," ucap Satria.
Segera Satria membawa motornya perlahan menuju lapak yang kosong di amatinya dengan seksama, memang sangat sempit.
"Gak apa-apa sesuai harga juga sebulan 500 bukan masalah bagiku," ucap Satria dalam hati.
"Permisi Bu," sapa Satria pada pemilik lapak sandal yang ada di depan lapak kosong.
__ADS_1
"Iya ada apa," jawab seorang ibu.
"Saya ingin tanya, apa benar ibu pemilik lapak kosong itu, kalau iya saya ingin menyewanya," ucap Satria terus terang.
"Iya benar saya, boleh kalau mau sewa tapi 500 perbulan harga sewanya dan untuk listrik 50 ribu perbulan," sahut ibu itu.
Satria setuju dan langsung membayar cash tempat itu, segera dia pergi ke tempat om Dian hendak minta kunci rumah lamanya.
"Ha ha ha, kamu minta kunci rumah saya, memang kamu siapa, misal mama kamu yang datang pasti akan aku berikan, tapi kalau kamu maaf gak bisa, tapi kalau kamu mau comblangin aku sama mama kamu pasti aku akan beri permintaan kamu itu bahkan aku bisa berikan bonus yang banyak jika bisa jadikan aku bersama mama kamu," iming-iming om Dian.
"Kalau untuk comblangin boleh saja bahkan aku berniat aku bawa mama ke kota kembali," ucap Satria.
"Mama kamu tinggal di mana sekarang, koq kamu bilang mau bawa mama ke kota?" tanya Om Dian.
"Mama aku tinggal di desa om, di desa gelonggongan sekarang mama tinggal di desa dan membuka usaha toko sembako, sedangkan aku di sini ingin buka usaha toko baju, dan aku ingin minta kunci rumah om untuk mengambil baju di rumah lama saya yang baru saya order dari Tante Hana teman mama," ucap Satria.
"Kamu bilang Tante Hana, perempuan cantik namun ganjen itukah?" tanya Om Dian.
"Iya om," sahut Satria.
"Pantas saja kalau toko kamu terbakar setelah bekerja sama dengan dia," ucap om Dian sambil manggut-manggut.
"Apa om kenal dengan Tante Hana itu?" tanya Tante Hana.
"Perempuan licik seperti rubah itu, pastilah om kenal karena dia sangat cinta om hingga sekarang namun om terus menolaknya karena om selalu cinta kepada mama kamu," ucap om Dian.
Satria kembali ingat akan surat-surat kaleng yang di fikirnya hanya iseng saja.
"Apa mungkin surat kaleng itu dari Tante Hana, sejahat itukah dia, sepertinya gak mungkin buktinya setelah aku dan mama pindah ke desa hanya dia yang tahu namun tak sekalipun pernah ada surat kaleng ke rumahku di desa," ucap Satria dalam hati sambil menepis semua fikiran buruk tentang Tante Hana.
"Kamu kenapa?" tanya Om Dian.
"Gak apa-apa om," ucap Satria menutupi fikiran buruknya.
__ADS_1
"Baiklah kalau kamu mau kunci rumah itu, berikan alamat rumah kamu di desa," ucap om Dian.
Segera setelah Satria memberi alamat rumah di desa tanpa curiga, om dian memberikan kunci rumah sebagai gantinya.