ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
SATRIA INGIN MENJADI PENIPU


__ADS_3

Satria berjalan kaki kembali menuju ke area parkir, niat hati ingin membelikan makan siang untuk orang tua angkatnya pupus sudah.


"Ternyata semua pekerjaan ada resikonya, ataukah ini adalah karma karena perbuatan ku dulu yang merugikan perusahaan Papa bahkan bertindak seenaknya," ucap Satria sambil mengenang yang dahulu pernah di lakukannya seenak hatinya, bahkan Satria dulu penuh dengan siasat dan kelicikan.


"Apa Aku bekerja dengan otakku saja, karena pekerjaan parkir ini sangat melelahkan dan hasil juga gak seberapa, resikonya juga sangat besar," ucap Satria yang ingin menjadi pria masa lalu yang memiliki seribu tipu daya.


"Pak To saja yang baik begitu juga di hancurkan usahanya, kurasa kebaikan di balas kebaikan itu hanya sebuah kebohongan semata, hanya manusia naif yang berfikir demikian," ucap Satria sambil melihat area parkir tapi enggan untuk mengurus parkiran itu.


"Arghh, hidup ini penuh kebohongan semata, percuma jadi orang baik kalau akhirnya mendapat keburukan," ucap Satria kesal.


"Mulai besok, Aku akan bekerja sebagai penipu ulung saja, Aku yakin pasti bisa melakukannya, dengan modal tampang saja, Aku yakin banyak wanita di sana yang akan dengan mudah Aku tipu, Aku akan menebar seribu dusta dan seribu kepalsuan, akan Aku genggam dunia ini di tanganku," ucap Satria.

__ADS_1


Satria melangkah pergi meninggalkan parkiran, dan segera pulang ke rumah, bergegas di ambilnya uang simpanan di rumah untuk di gunakan sebagai modal menipu dan juga untuk membelikan makan siang sesuai dengan janjinya pagi tadi.


Satria membeli makanan di Rumah Makan Padang dan segera membawanya ke warung Pak To. Nampak Bu Nur dan Pak To sedang duduk santai di warung.


"Assalamualaikum," ucap Satria tersenyum menutupi kegalauannya.


"Wa'allaikum salam," sahut kedua orang tua angkatnya.


"Bu, Pak, ayo Kita makan," ucap Satria sumringah.


Sedangkan Bu Nur nampak masuk ke warung dan membuat minuman untuk Mereka bertiga.

__ADS_1


Satria mulai membuka nasi Padang yang di bawanya.


"Satria gak tahu Bapak sama Ibu suka apa tidak, karena Satria memilih rendang daging sebagai lauknya," ucap Satria sambil membuka bungkus nasi untuk di makannya.


Di kantong masih ada 2 bungkus lagi segera di berikannya kepada Pak To dan Bu Nur.


Mereka bertiga menikmati nasi Padang itu dengan lahap, namun Satria merasakan kerisauan yang sangat dalam, jika tetap tinggal bersama Ibu Nur dan Pak To akan sulit baginya bergerak dan hidup dengan bekerja sebagai penipu karena sudah jelas Pak To dan Bu Nur akan protes dan tidak setuju akan hal yang di lakukan Satria.


"Apakah Aku harus pergi saja agar Aku bisa hidup sebagai penipu, Aku tidak ingin Ibu Nur dan Pak To terkena imbasnya kelak," bathin Satria sambil sesekali melirik Pak To dan Bu Nur yang begitu baik menyayangi dan melindunginya selama ini.


"Ada apa lihatin Bapak terus dari tadi," tanya Pak To yang memperhatikan mata Satria yang memandangnya dari tadi.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa Pak, hanya saja Aku takut kehilangan kasih sayang dari Pak To dan Bu Nur," ucap Satria jujur.


"Hilang ke mana, Kamu itu sudah menjadi bagian dari Kami, jadi Kami akan selalu menyayangi Kamu hingga ajak menjemput Kami," ucap Pak To.


__ADS_2