
Satria yang terlambat datang membantu pak Heru karena harus membantu Pak To terlebih dahulu di maklumi oleh Pak Heru.
Satria kembali bekerja dengan giat di parkirkan mobil, bagi Satria sekarang uang receh sangat berharga untuknya tidak seperti dahulu yang hanya tahu habiskan uang.
"Kiri, kiri," sambil tangan Satria menunjukkan isyarat posisi parkir kendaraan dengan benar.
Setelah mobil terparkir baik, nampak dua pemuda turun dari mobil.
"Satria, Kamu kerja sebagai tukang parkir sekarang," ucap pemuda itu dan ternyata itu adalah Yudha temannya bersama Agung.
"Iya Yud sekarang beginilah Aku, jauh dari hidup mewah," sahut Satria.
"Ya sudahlah terima nasib saja," ucap Yudha sambil tertawa mengejek.
Satria sebenarnya sangat sakit hati tapi biar saja karena percuma saja menutupi semuanya.
Tidak lama kemudian Pak To datang, Pak Heru yang melihat kedatangan Pak To dari jauh lantas sembunyi di warung yang telah tutup.
"Ini Nak di makan, mana Pak Heru koq gak kelihatan," ucap Pak To saat menyerahkan nasi dan kopi masing-masing dua bungkus karena untuk di berikan kepada pak Heru dan Satria.
"Ada Pak, beliau di sa-na," ucap Satria sambil menuju arah tertentu tapi ternyata zonk, Pak Heru menghilang begitu saja.
"Ya sudah Bapak pulang, nanti kasih yang sebungkus buat Pak Heru dan sampaikan salamku untuknya," pamit Pak To.
Setelah Pak To berjalan menjauh, Pak Heru segera keluar dari persembunyiannya.
Satria yang melihat Pak Heru sudah kembali duduk di tempatnya segera berjalan mendekat.
"Ini Pak, nasi bungkus dan kopi dari Pak To," ucap Satria sambil menyerahkan kantong yang berisi sebungkus nasi dan kopi.
"Terimakasih Satria, kapan Pak To ke sini, Bapak koq gak lihat," ucap Pak Heru beralasan.
"Sudah pulang Pak, oh iya dapat salam dari Bapak," ucap Satria dan entah apa yang salah dengan kata salam Satria tapi raut wajah Pak Heru nampak ketakutan.
"Bapak kenapa?" tanya Satria.
"Bapak gak apa-apa," sahut Pak Heru menyembunyikan kecemasannya.
Saat Satria sedang makan, mobil Yudha keluar dari parkiran sehingga nasi yang belum habis di tinggalkan begitu saja oleh Satria sambil mengarahkan mobil untuk keluar dari area parkir.
__ADS_1
Saat mobil sudah hampir keluar dari area parkir, Yudha memanggil Satria, Satria berlari mendekat.
"Ini uang parkirnya, kembaliannya ambil saja, UPS maaf terjatuh," ucap Yudha yang sengaja jatuhkan uang ke jalan.
Satria segera memungut uang yang jatuh itu, rasa syukur di panjatkannya karena uang itu 50 ribuan dan itu lumayan banyak untuk juru parkir seperti Dia.
Kembali Satria lanjutkan makannya sedangkan Pak Heru nampak sudah selesai makan nasi bungkusnya.
Tidak terasa sudah cukup malam, karena hari ini malam Minggu maka parkiran sangat ramai dan toko juga tutup sedikit terlambat.
Setelah selesai semua, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Satria dan Pak Heru segera membagi hasil parkirnya.
"Ayo Nak, pulang bareng," tawar Pak Heru setelah selesai menyimpan uang parkir di tasnya.
"Bapak duluan aja, Aku hendak beli sesuatu buat orang tuaku," ucap Satria menolak, setelah Pak Heru meninggalkannya Satria menuju penjual martabak, hari ini Dia ingin membelikan Ibu Nur dan Pak To martabak manis dan martabak telor.
Setelah mendapatkan keduanya, Satria kembali berjalan menuju arah pulang.
Namun malang di tengah jalan Satria bertemu sekumpulan pemabuk.
"Bukan urusan Kamu," sahut Satria kesal.
"Kamu gak takut sama Kita," sahut yang lain sambil menutup jalan Satria hingga tak bisa lewat.
"Kita sama-sama manusia jadi Aku gak takut," ucap Satria berani.
Segera terjadi saling dorong, Satria yang di kepung begitu banyak pemabuk jatuh tersungkur, martabak yang di bawanya juga terjatuh.
"Hey berhenti!!" teriak seseorang dari kejauhan yang tak tampak wajahnya karena gelap.
Para pemabuk itu tidak menggubris teriakan itu, Mereka masih terus mengepung Satria saat salah satu hendak memukul Satria, dari belakan seseorang menarik baju pemuda mabuk itu, dan kekuatan apa yang di miliki penolongnya hingga tubuh para pemabuk itu terlempar jauh.
Penolong itu mengulurkan tangannya kemudian berkata.
"Ayo Nak, Kita pulang," ucap penolong itu yang berada di kegelapan.
Begitu Satria di bantu bangun dan berjalan beriringan dengan penolong itu.
__ADS_1
Sinar lampu menerangi wajah penolong itu dan pria gagah berani itu ternyata Pak To.
Satria menjadi kagum dengan Pak To, di lihatnya wajah Pak To dengan seksama.
"Lihat jalan, jangan lihatin Bapak," pesan Pak To dan tak lama Satria pun kesandung untung bisa mengimbangi kalau tidak mungkin sekarang hidungnya penyok karena mencium jalanan berbatu yang kasar.
"Tuh kan, apa Bapak bilang," ucap Pak To.
"Bapak hebat sekali, bisa sekuat itu," ucap Satria kagum.
"Semua orang juga bisa Nak, lagian kenapa Kamu pulangnya begitu malam, bukannya toko sudah tutup semua dari tadi," ucap Pak To.
"Satria tadi mampir beli martabak buat Bapak sama Ibu, tapi gak tahu bisa di makan tidak karena kardusnya sudah penyok," ucap Satria sedih melihat martabak yang di bawanya jadi hancur karena ulah para pemabuk itu.
"Oalah Nak, nak ngapain juga belikan Ibu dan bapak, di rumah tadi Ibu Nur juga beli martabak dan sekarang Kamu juga beli martabak, hadeh malam ini Kita panen martabak," ucap Pak To berseloroh.
Tidak lama kemudian Satria dan Pak To telah sampai di rumah.
"Dah mandi dulu sana!" perintah Pak To.
Segera Satria ambil baju dan bergegas mandi.
Bu Nur dan Pak To sudah menyiapkan Martabak yang di bawa Satria dan Bu Nur di piring besar, tidak lupa kopi juga telah tersedia. Segera setelah Satria mandi, Dia ikut duduk di teras bersama Pak To dan Bu Nur.
Satria lalu bercerita bagaimana aksi Pak To tadi di depan Bu Nur.
Bu Nur merasa senang dan bangga memiliki Kakak yang sakti seperti kata Satria.
"Jangan percaya ucapan Satria, mas ini sudah tua mana ada kekuatan seperti itu," ucap Pak To merendahkan diri.
"Tidak Bu Nur, beneran Bapak itu orang sakti, masa' orang biasa bisa begini," ucap Satria sambil berdiri dan mempraktekkan gaya Pak To saat menolongnya tadi.
melihat tingkah Satria Bu Nur menjadi tertawa terpingkal-pingkal.
"Wah, wah meski sudah tua tapi kemampuan tidak kalah sama yang lebih muda," ucap Bu Nur sambil melirik ke arah Pak To yang merasa malu di bicarakan begitu rupa.
"Ajari Satria Mas, kasihan tuh pulangnya sampai malam," ucap Bu Nur merajuk.
"Bagaimana bisa ajari Satria, pinggang Mas saja sudah terasa mau copot," keluh Pak To yang mengundang gelak tawa.
__ADS_1