
Satria akhirnya sampai di desa Gelonggongan, suasana desa sangat sunyi sepi, Satria menggigil kedinginan namun di terjangnya gelapnya malam dan temaramnya lampu jalan di desa. Dengan kondisi badan basah kuyup akhirnya Satria sampai di depan rumahnya, nampak toko mamanya sudah tutup dan rumah Satria nampak sangat sunyi.
"Mungkin Mama sudah tidur," ucap Satria dalam hati.
'Tok tok tok' Satria mengetuk pintu rumahnya.
Berulangkali Satria mengetuk pintu tapi tak juga ada sahutan hal ini membuat Satria khawatir dengan Mamanya.
Badan Satria bergetar karena kedinginan namun tak di hiraukannya.
Segera Satria putari rumahnya dan mengetuk jendela kamar Mamanya.
"Ma, Mamaa, ini Satria Ma, buka pintunya Ma," teriak Satria dengan keras sambil mengetuk jendela kamar Mamanya.
"Sat, kamulah itu nak, sebentar mama buka pintunya sayang," terdengar sahutan dari dalam kamar Mamanya.
Setelah Mamanya buka pintu Satria langsung roboh, melihat hal itu, Mama Yuli panik dan berteriak minta tolong tetangga sekitar rumah, akhirnya Satria di bopong masuk kamar dan di gantinya baju Satria dan di sekanya tubuh Satria dengan air hangat dan Mama Yuli segera memberi selimut tebal juga memakaikan kaos kaki di kaki Satria.
Mama Yuli terus cek tubuh Satria yang menggigil namun badannya demam, Satria terus mengigau.
"Ma, apa mama gak apa-apa, ma, mama," Satria terus mengigau memanggil Mamanya.
Hingga semalaman Mama Yuli menjaga Satria hingga demamnya turun.
Satria badannya masih nampak lemas, Mama Yuli sudah siapkan bubur dan teh panas serta obat lambung dan demam.
__ADS_1
"Ayo sayang di makan nak," ucap Mama Yuli sambil menyuapi Satria perlahan-lahan.
Setelah Satria makan dan minum obat, Satria kembali tidur namun mama Yuli sudah tidak terlalu khawatir karena badan Satria sudah dingin.
Di tinggalkan Satria di kamar dan di biarkannya istirahat.
Mama Yuli menyelesaikan semua pekerjaan rumah, hari ini sengaja Mama Yuli tidak membuka tokonya karena ingin merawat Satria hingga sembuh.
Selang satu jam setelah menyelesaikan semua, mama Yuli segera menemui Satria dan terlihat Satria sudah bangun dari tidurnya, dan kini Satria nampak sedang duduk bersandar di kamar.
"Pagi sayang," ucap Mama Yuli sambil menghampiri Satria perlahan.
"Pagi ma," jawab Satria singkat.
"Bagaimana nak, sudah enakan belum sayang?" tanya mama Yuli.
"Kamu kenapa nak, semalam pulang sampai basah kuyup seperti itu, kenapa gak berteduh saja dulu terlebih kenapa juga pulang malam nak, di kampung jalanan sangat gelap untung kamu gak apa-apa nak," ucap mama Yuli kepada Satria.
"Satria khawatir sama mama, takut mama kenapa-napa," ucap Satria.
"Kenapa kamu sampai khawatir seperti itu sayang, bukankah di sini banyak orang yang akan bantu mama jika butuh sesuatu," ucap Mama Yuli tenang.
"Masalahnya begini ma," ucap Satria kemudian menjelaskan tentang pertemuannya dengan Om Dian dan juga mengatakan rasa curiganya kepada Tante Hana yang mencurigakan, semua itu yang mendasari Satria takut terjadi sesuatu kepada mamanya.
Mama Yuli nampak merenungkan ucapan Satria.
__ADS_1
"Namun selama beberapa hari kamu tinggalkan, gak ada kejadian apapun yang membahayakan mama juga yang mencurigakan," ucap Mamanya yang tidak yakin bahwa dirinya dalam bahaya.
"Mungkin kamu cuma lagi banyak fikiran saja, jadi mungkin ngelantur," ucap Mama Yuli tak yakin dengan cerita anaknya bisa berakibat sesuatu pada dirinya.
"Ma, tapi beneran raut muka Tante Hana sangat aneh dan kecurigaanku ini ada alasannya," ucap Satria yakin.
"Sudahlah sayang, semua itu tidak mungkin, sekarang ceritakan selama di kota kamu ngapain saja, mama sangat rindu kamu nak," ucap mama Yuli.
"Satria kemarin sempat sakit ma, dan menginap di rumah sakit tapi tak lama hanya satu hari saja, dan Satria sekarang sudah punya lapak di pasar meski gak terlalu besar tapi cukuplah buat usaha dagang baju, dan Satria juga sudah angkut semua baju yang ada di rumah lama kita, namun kuncinya masih Satria bawa karena semalam niatnya mau tidur sana tapi karena khawatir sama mama akhirnya nekad pulang ke desa, dan makam papa juga terawat ma, Satria juga ke makan untuk mendoakan papa, lalu gimana usaha mama di desa? apakah lancar ma?" tanya Satria.
"Begitulah nak namanya usaha di desa tidak sesuai ekspektasi mama, karena penduduk sini ekonominya banyak yang rendah akhirnya banyak penduduk yang hutang dulu buat belanja harian dan kebanyakan mereka minta bayarnya kalau sudah panen saja, sebenarnya mama keberatan karena terus terang mama inginnya setiap hari ada pemasukan sehingga mama bisa putar uangnya, tapi yah sudahlah gak bisa mama paksakan, dan bagaimana apa uang kamu masih ada atau sudah habis?" ucap tanya mama Yuli.
"Masih ada koq ma, meski tak banyak tapi mungkin cukup untuk bertahan di kota, ma ayo kita ke kota saja biar Satria tenang karena mama gak terlalu jauh dari Satria terlebih di sini sangat galat jaringan sehingga untuk hubungi mama setengah mati, Satria takut terjadi sesuatu," ucap Satria dengan nada memohon.
"Tidak bisa sayang, sekarang coba fikir di sini mama sudah terlanjur kasih bon orang kampung, dan jika mama pindah ke kota sudah jelas hutang mereka tidak akan di bayar dan jelas mama menanggung kerugian, di tambah lagi usaha kamu di kota belum berjalan, mama gak bisa nak, karena sekarang kita harus sama-sama bekerja keras mencari nafkah demi hidup kita," ucap Mama Yuli sedih.
"Tapi ma, bukankah hasil penjualan rumah kemarin masih sisa banyak, bukankah uang itu bisa kita gunakan untuk hidup di kota dan mungkin sambil Satria menjalankan usaha menunggu berhasil kita bisa bertahan hidup dengan uang sisa hasil jual rumah kita," ucap Satria yakin.
"Entahlah sayang, mama takut pada akhirnya uang itu habis tiada sisa dan kita gak tahu lagi bagaimana bisa bertahan hidup jika tidak ada lagi uang di tangan kita," ucap mama Yuli ragu jika harus tinggal di kota yang belum ada pemasukan.
"Tapi ma...," ucap Satria terputus sambil menunduk sedih.
"Sudahlah sayang, bukankah kemarin kamu yang ingin kita berpisah untuk sementara waktu sampai kamu ada mata pencaharian, mama akan menunggu hasil perjuanganmu, semoga pada akhirnya kamu berhasil sayang," ucap mama Yuli.
"Kalau begitu Satria akan kembali ke kota besok, biar Satria bisa segera buka usahanya," ucap Satria lemas.
__ADS_1
"Jangan buru-buru nak, tunggulah satu dua hari lagi, apa kamu gak rindu sama mama, sehingga kamu buru-buru tinggalkan Mama kembali ke kota," ucap mama Yuli.
"Baiklah jika itu yang mama inginkan, Satria akan menginap satu atau dua malam lagi," ucap Satria.