
Setelah pengawal selesai sarapan dan keluar dari rumah Mama Yuli.
Satria berinisiatif menemui Om Dian untuk menanyakan perihal penyelidikan pelaku pembakaran di tokonya.
"Ma, mama janji jangan ke mana-mana yah, Satria mau keluar sebentar karena ada hal penting yang harus Satria kerjakan," ucap Satria kepada Mama Yuli.
"Apa Mama gak boleh ikut, Mama bosan jika harus di rumah terus nak, dari pertama tinggal di kota tak sekalipun Mama merasakan nikmatnya udara segar di luar," ucap Mama Yuli mengeluh.
"Bukannya Satria gak perbolehkan Mama ikut tapi Satria takut terjadi sesuatu nantinya," ucap Satria kepada Mamanya dengan penuh kekhawatiran.
"Tapi sampai kapan Mama hidup seperti tahanan rumah, bagi Mama lebih baik mati dari pada hidup seperti tahanan begini, bisa gila lama-lama kalau sembunyi terus," ucap Mama Yuli kesal.
"Ma, Satria lakuin ini itu demi kebaikan Mama, Satria benar-benar takut kehilangan Mama," ucap Satria sedih.
"Satria pergi menemui Om Dian, apakah Mama masih mau ikut juga?" tanya Satria kepada Mamanya.
"Ngapain Kamu menemui pria itu, ada masalah apa sebenarnya sampai Kamu berurusan dengan orang macam Dia, Kamu harus tahu orang itu bukanlah orang baik, jadi tidak selayaknya Kamu berteman dengannya," ucap Mama Yuli emosi.
"Jujur Ma, rumah ini adalah miliknya, kemarin waktu Aku pergi keluar pamit buka usaha, Satria bohong sama Mama, Satria pergi menemui Om Dian untuk minta bantuan agar menjaga keamanan Mama serta menyelidiki kebakaran yang terjadi dua kali di tempat usaha Kita, Satria khawatir penjahat itu akan mencelakai Mama karena Satria tidak punya kenalan orang hebat dan hanya Om Dian yang Satria tahu, karena itu Satria minta bantuannya dan Beliau sanggup membantu Satria tanpa ada pamrih apapun," ucap Satria menjelaskan kenapa Dia sampai berurusan dengan Om Dian.
"Kalau begitu terserah Kamu, Mama gak ikut kalau tujuan Kamu ke rumah orang itu," ucap Mama Yuli emosi sambil memalingkan muka dan berlalu pergi masuk ke kamar.
Satria menghampiri kamar Mamanya.
"Ma, Satria pergi dulu jaga diri Mama baik-baik selama Satria keluar, Satria sayang Mama," pamit Satria sambil matanya berkaca-kaca karena rasa takutnya kehilangan Mamanya.
Satria segera keluar rumah, di kuncinya pintu dari luar, berharap agar Mamanya aman dari bahaya apapun juga.
__ADS_1
Satria segera melajukan motornya menuju rumah Om Dian, sesampainya di rumah Om Dian segera Dia bertanya soal hasil penyelidikan pelaku pembakaran itu.
"Kamu gak usah fikirkan tentang pelaku itu biar Om yang tangani semua," ucap Om Dian agar Satria bersih dari tindak kriminal yang pasti akan Om Dian lakukan sebagai pembalasan atas perbuatan pelaku itu.
"Tapi bisakah Om memberitahu siapa pelakunya? biar Aku tenang dan waspada," ucap Satria sedikit emosi.
"Baiklah kalau Kamu mau tahu tapi jangan sampai Kamu bocorkan masalah ini kepada polisi," ucap Om Dian.
"Iya Om, Satria janji tidak akan laporkan hal ini pada polisi," ucap Satria sungguh-sungguh.
Segera Om Dian putarkan Video di mana di situ ada pengakuan yang sedikit mengejutkan Satria karena dari awal Satria sudah curiga kalau Tante Hana pelakunya.
"Apakah ini sudah kongkrit Om, apakah pria tadi tidak bicara mengada-ada, karena Saya sedikit heran kenapa Tante Hana yang bisa di bilang sahabat Mama bisa setega itu sama Mama," ucap Satria sedikit bimbang.
"Awalnya Om juga ragu dan mencari bukti lebih dan inilah hasilnya," ucap Om Dian sambil memperlihatkan beberapa foto Tante Hana yang memberi uang dan bukti Chat Tante Hana dengan pelaku itu yang bernama Heru.
"Om, bisakah Aku bertemu Heru biar Aku bisa bertanya langsung padanya," ucap Satria penasaran.
Setelah menyusuri lorong demi lorong akhiranya Mereka Sampai di tempat di mana terdapat berbagai macam binatang buas di sana.
"Kamu lihat buaya itu," ucap Om Dian sambil menunjuk ke arah kandang buaya yang tidak sedikit jumlahnya.
"Iya Om," sahut Satria bergidik ngeri.
"Heru pelaku itu sudah Om lempar ke kandang buaya dan jadi santapan buaya," ucap Om Dian tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun.
"Maksud Om, Heru sudah tiada," ucap Satria gugup sambil menelan ludah karena mulai timbul rasa takut karena tidak mengira kalau Om Dian seorang pria yang kejam.
__ADS_1
"Iya benar, Dia tiada tanpa bekas sehingga polisi pun takkan bisa menemukan jasadnya sampai kapanpun juga," ucap Om Dian tegas.
"Rupanya hal ini yang membuat Mama tidak ingin Aku terlalu dekat dengan Om Dian," ucap Satria dalam hati.
"Om, Aku percaya sama Om, tapi bolehkah Aku membalas Tante Hana dengan caraku, Aku benar-benar sangat sakit hati padanya Om," ucap Satria sambil berjalan meninggalkan kandang binatang buas di rumah Om Dian yang tersembunyi.
"Apa yang bisa Kamu lakukan untuk membalasnya, Om sudah siapkan ruangan siksa untuk Tante Hana," ucap Om Dian yakin.
"Aku ingin membuatnya merugi seperti yang Mama Aku alami," ucap Satria kepada Om Dian.
"Baiklah Aku beri Kamu waktu seminggu untuk melakukannya selanjutnya Om yang akan melakukan keinginan Om," ucap Om Dian dengan wajah datar, seperti orang yang merasa melakukan kejahatan itu adalah hal yang lumrah.
"Terimakasih Om, tapi bisakah Om membantuku beberapa hal," ucap Satria kepada Om Dian.
"Apapun itu, katakan Kamu minta bantuan? apakah Kamu ingin senjata, pengawal atau pesuruh," ucap Om Dian seperti orang yang punya banyak persiapan.
"Tidak Om, bukan itu semua Aku hanya ingin Om berikan Aku beberapa alamat usaha Tante Hana," ucap Satria karena belum pernah terpikirkan olehnya untuk membunuh ataupin melakukan hal yang lain, yang ada di fikiran Satria bakar balas bakar.
"Sebentar Kamu tunggu di sini," ucap Om Dian sambil membuka laptop dan tidak lama kemudian memberikan print berisi alamat semua usaha yang di miliki Tante Hana.
Satria tidak menyangka alamatnya sebanyak itu, ada total 20 tempat usaha yang di milik Tante Hana, betul-betul wanita yang sukses.
"Ada lagi yang Kamu butuhkan?" tanya Om Dian.
"Sudah cukup Om, terimakasih banyak atas bantuannya," ucap Satria sambil pamit pergi.
"Sama-sama," sahut Om Dian singkat.
__ADS_1
Segera Satria pergi dari rumah Om Dian, sengaja Satria tidak langsung pulang karena Dia ingin mencari tahu dan cek semua alamat usaha Tante Hana yang di berikan Om Dian.
Di susuri setiap jalan dan menandai semua dan mengumpulkan informasi kapan usaha Tante Hana tidak ada orang yang bekerja karena Satria tidak ingin ada korban jiwa dalam melakukan aksinya.