ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
SIKSAAN UNTUK TANTE HANA DAN SEMUA REKANNYA


__ADS_3

Siksaan yang di lakukan Tante Hana kepada Mama Yuli membuat Satria sangat menyesal, andaikan bisa Satria bersedia meregang nyawa demi Mamanya.


Satria menatap mata Mama Yuli yang mengeluarkan air mata, dari mulut Mama Yuli lirih terucap.


"Mama sayang Kamu Nak," ucap Mama Yuli.


Dan tidak berapa lama mata Mama Yuli terpejam tak lagi terbuka.


"Tidaaaak!" teriak Satria histeris.


"Akan Aku bunuh Kamu," teriak Satria penuh dengan amarah.


"Kamu, mau bunuh Saya, ha bagaimana mungkin melepaskan diri saja tidak bisa," ucap Tante Hana menghina.


"Apa ada pesan terakhir yang ingin Kamu ucapkan," ucap Tante Hana sambil memainkan pisau di tangannya.


"Tante baji****, perempuan gila, setan ******," maki Satria berkali-kali.


Hati Satria sangat sakit, terlebih kini di depan matanya tubuh Mamanya tergeletak tak berdaya, nafaspun sepertinya sudah tiada.


"Mamaaa," teriak Satria sambil menangis terisak.


"Oh iya Aku lupa satu hal, surat kaleng yang terkirim ke rumahmu berasal dariku," ucap pengakuan Tante Hana yang menambah bukti kejahatannya.


Saat Tante Hana mendekati Satria dan hendak menghujamkan pisaunya, tubuh Tante Hana di tangkap, tiga orang kekar sewaan Tante Hana berhasil di lumpuhkan.


"Yuli, Yuli, Yuli," ucap Dian sambil berusaha bangunkan Mama Yuli.


Sedangkan Satria mengambil pisau dan hendak menghujamkan ke tubuh Tante Hana, namun berhasil di cegah oleh pengawal Om Dian.


"Kita bawa ke klinik Om!" perintah Om Dian.


"Kalian bawa Mereka ke tempat penyiksaan sekarang juga!" perintah Om Dian kepada pengawalnya.


Segera Om Dian mengangkat tubuh Mama Yuli yang bersimbah darah dan membawanya ke klinik dengan segera.

__ADS_1


Sampai di klinik dua Dokter hebat, Dokter pribadi Om Dian segera menangani Mama Yuli, namun kedua Dokter menyerah Mereka tak bisa selamatkan nyawa Mama Yuli karena telah banyak kehilangan darah dan luka tusuk yang di deritanya cukup dalam.


Om Dian dan Satria jatuh tersungkur, keduanya menangis sedih, wanita yang di cintai keduanya meninggal dengan mengenaskan.


Mata Om Dian nampak sangat merah, tangannya mengepal kuat seperti ingin menghajar seseorang.


Wanita yang di cintainya dan selalu di rindukannya sampai detik ini tak bisa di milikinya.


"Yuli, Aku akan membalas setiap tetes darah yang Kamu keluarkan, dan Aku akan menyiksanya lebih pedih dari apa yang bisa di bayangkan," ucap Om Dian dalam tangis.


Satria tidak mampu berkata-kata lagi, kini hanya penyesalan yang tersisa Mamanya telah pergi meninggalkan Dia untuk selamanya.


"Maafkan Aku Ma," ucap Satria dengan penuh penyesalan.


"Mengapa harus terjadi seperti ini, ini tidak seperti yang Aku inginkan," ucap Satria sedih dan merasa terpukul.


Satria segera mengangkat tubuh Mamanya dan Satria mengurus jenazah Mamanya dengan layak, tidak banyak yang datang di pemakaman Mamanya karena Satria tidak mengundang siapapun, Mereka semua para tetangga yang datang dan yang merasa heran mengapa di rumah kosong itu ada penghuni yang tidak di ketahui dan begitu tahu sudah tak bernyawa lagi.


Setelah proses pemakaman selesai, yang tidak di hadiri Om Dian, Satria pergi segera menuju rumah Om Dian, Dia berniat membalas rasa sakit Mamanya kepada Tante Hana yang sudah di bawa Om Dian ke rumahnya.


"Aku yakin Kamu pasti penasaran dengan 3 pria yang menahan Kamu dan Mama Kamu serta Tante Hana yang tega membunuh Mama Kamu di depanmu," ucap Om Dian.


"Benar Om, Saya ingin sekali membunuhnya," ucap Satria dengan kesal.


"Ayo ikut Aku," ucap Om Dian.


Nampak di dalam ruangan yang berdinding kaca tubuh Tante Hana tidak di pakaikan baju sama sekali.


Tubuh Tante Hana nampak menggigil kedinginan karena tak ada sehelai benangpun di tubuhnya.


"Lalu di mana ketiga pria itu Om," tanya Satria kepada Om Dian.


"Lihat di ruangan sebelah," ucap Om Dian.


Nampak ketiga pria kekar itu di ikat di kursi sambil di beri suntikan di tubuhnya yang juga tidak memakai sehelai benangpun.

__ADS_1


"Suntikan apa yang Om kasih itu," tanya Satria penasaran.


"Setelah ini Kamu pasti akan tahu efek suntikan kepada ketiga pria itu," ucap Om Dian.


Setelah suntikan di berikan berkali-kali nampak ikatan di ketiga pria itu di lepaskan.


Dinding kaca pembatas antara ruangan pria itu dan ruangan Tante Hana di buka lebar, sehingga kini Mereka menjadi satu ruangan.


Tidak lama tiga pria kekar itu bangun dan kemudian berdiri mendekati Tante Hana secara bersamaan, dengan tak sabar Mereka bertiga memperkosa Tante Hana tanpa ampun, dan entah apa yang merasuki Mereka sehingga Mereka terus melakukannya berulang kali tanpa henti, satu berhenti yang lain maju terus berulang di lakukan, hingga tubuh Tante Hana menjadi tak berdaya dan tak mampu lagi bangun dari tidurnya, Tante Hana tidak lagi bisa mengeluarkan suara hanya air mata yang mewakili rasa sakitnya karena di perkosa ketiga anak buahnya.


Cukup lama pemerkosaan itu di lakukan, hingga ke empatnya tak mampu lagi berkutik dan bangun lagi.


Tidak lama kemudian para pengawal menyeret ketiga pria itu dan tubuhnya di berikan kepada binatang buas yang lapar hingga tubuh Mereka tak lagi tersisa.


"Om apa ini gak terlalu kejam," ucap Satria yang merasa hukuman itu sudah sangat kejam.


"Memang kejam tapi itu sepadan dengan rasa sakit yang di rasa Mama Kamu saat tak berdaya dan juga tangisan Kamu yang mohon pengampunan namun di tertawakan," ucap Om Dian geram.


"Lalu bagaimana dengan Tante Hana Om?" tanya Satria yang merasa tak tega melihat tubuh Tante Hana yang sepertinya hancur lebur raga dan jiwanya.


"Untuk Tante Hana ini belum selesai," ucap Om Dian.


Nampak dua pengawal memasuki ruangan Tante Hana dan memakaikan baju.


Namun pandangan mata Tante Hana nampak kosong dan hampa, Tante Hana syok.


Tante Hana di suapi oleh anak buah Om Dian infus pun telah di pasang.


Tidak berapa lama wajah Tante Hana sedikit bertenaga.


"Kurasa Dia sudah siap merasakan siksaan selanjutnya," ucap Om Dian.


"Sudah Om, kasihan Dia, hentikan siksaan untuk Tante Hana," ucap Satria tidak tega, niat awal membalas sakit hatinya di urungkannya karena Satria merasa Tante Hana sudah cukup merasakan kesakitan.


"Aku belum puas menyiksanya, kalau Kamu tidak tega lebih baik Kamu pergi saja, biar Aku sendiri yang lakukan semua," ucap Om Dian masih merasa belum puas atas semua siksaan yang di lakukan untuk Tante Hana.

__ADS_1


Mendengar ucapan Om Dian, Satria memilih pergi dari rumah Om Dian, kini Satria hidup sendiri karena Mama dan Papanya sudah tiada lagi di dunia.


__ADS_2