ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
MENSYUKURI NIKMAT


__ADS_3

Pak To dan Bu Nur bingung harus mencarikan kerja Satria di mana, akhirnya Satria menyerah.


"Apa kata besok saja Pak-Bu," ucap Satria sedikit bingung.


"Ya sudah kalau begitu sekarang tidur saja, besok baru di cari, nanti kalau memang belum dapat kerja ada baiknya bantu Bapak saja dulu untuk sementara," ucap Pak To.


Mereka bertiga segera bubar dan masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Saat subuh menjelang Satria bangun.


"Kamu sudah bangun Nak?" tanya Pak To.


"Iya pak barusan," sahut Satria.


"Kalau begitu lekaslah mandi dan bersiap ikut Bapak," ucap Pak To.


Segera Satria mandi meski airnya terasa sangat dingin namun di tahannya rasa dingin itu.


Setelah rapi Pak To mengajak Satria ke Musholla untuk sholat. Baru kali ini Satria sholat di Musholla dan hati Satria merasa sangat sejuk dan tenang.


Usai sholat tidak lupa Pak To berdzikir begitu pula Satria yang memohon ampun karena telah lupa dan meninggalkan sholat dengan sengaja.


Dengan berderai air mata, Satria mengingat kilas balik hidupnya yang mengenaskan, semua kenakalan Dia terbayang di matanya, Satria menyesali hidupnya yang dahulu dan kini Satria bertekad menata hidupnya dengan baik mungkin ini sudah terlambat tapi tidak apa-apa lebih baik terlambat dari pada tidak bertobat sama sekali.


"Ayo Nak," ajak Pak To.


"Iya Pak," sahut Satria sambil mengusap air matanya.


Segera Satria dan Pak To keluar dari Musholla dan menuju ke pasar untuk belanja bahan warung serta membeli beberapa baju bekas untuk Satria.


"Sudah Pak dua set saja, ini sudah cukup," ucap Satria yang tidak ingin merepotkan Pak To.


"Kamu cari lagi setidaknya 5 set dengan begitu bisa untuk gonta ganti," ucap Pak To.


"Ini pasti sudah habiskan uang banyak Pak To, Tapi Aku harus bagaimana sudah aku coba menolaknya namun Pak To tetap kekeh buat belikan," bathin Satria sambil mengernyitkan kening memikirkan cara untuk menolak sambil pura-pura memilih baju kembali.

__ADS_1


"Sudah dapat belum Nak?" tanya Pak To.


"Sepertinya sudah gak ada yang cocok buat Aku Pak," sahut Satria berharap Pak To menyerah dan tidak lagi belikan baju tambahan buat Satria.


"Pak, tolong Carikan baju yang pas buat anak Saya ukurannya seperti yang Dia pilih tadi," perintah Pak To kepada pemilik lapak.


"Sebentar Pak," ucap penjual sambil beranjak bangun dari duduknya. Di lihatnya ukuran 2 set baju pilihan Satria dan tidak berapa lama 3 set ukuran yang sama di dapatkan penjual di antara tumpukan barang dagangannya.


"Apa ada lagi yang lain Pak?" tanya penjual baju itu.


"Kalau pakaian dalam buat anak Saya ada gak," ucap Pak To yang mengejutkan Satria karena segitu perhatiannya dengannya bahkan Dia tak ada hubungan darah sama sekali dengan Pak To tapi kebaikan Pak To sungguh sangat berarti bagi Satria.


"Ada Pak tapi gak ada yang bekas, pakaian dalam hanya ada yang baru," jawab penjual baju.


"Kalau ada ambilkan 5 juga," perintah Pak To kepada penjual.


Kembali penjual beranjak dari duduknya dan mengambilkan pakaian dalam buat Satria yang di perkirakan ukurannya pas dan terdapat 5 macam warna yang di pilihnya.


"Ini Pak, sudah lengkap semua, apa ada lagi?" tanya penjual kepada Pak To.


"Sudah itu saja, berapa semua," tanya Pak To.


"Semua baju berikut pakaian dalamnya totalnya 350 ribu," ucap penjual baju itu.


"Kasih kurang, 300 saja harga langganan nanti Saya akan belanja lagi di sini jika butuh baju lagi!" tawar Pak To.


"Ya sudah, sebentar Saya bungkuskan," sahut penjual itu sambil memasukkan barang-barang itu ke dalam 2 kantong satu kantong berisi baju bekas, satu kantong lagi berisi pakaian dalam.


Pak To membayar baju itu dengan uang dengan nominal campuran, Satria melihat itu jadi tidak enak hati karena mungkin Pak To telah korbankan uang simpanannya buat Satria.


Setelah di bayar baju itu segera di serahkan kepada Satria "Nanti jangan di pakai dulu Nak, di cuci saja dulu takutnya ada kuman yang menempel terlebih ini kan baju bekas, mungkin juga baju ini sudah banyak tangan yang pegang dan juga pemiliknya mungkin menjual tanpa di cuci terlebih dulu," jelas Pak To di sepanjang jalan pulang.


Sedangkan Pak To menenteng barang belanjaannya untuk di masak di warung.


"Sini bajumu itu," ucap Pak To sambil meraih kantong yang berisi baju bekas Satria.

__ADS_1


Satria segera menyerahkan bajunya lalu baju itu di bawa Pak To menuju Laundry yang tidak jauh dari rumahnya.


Sekembalinya dari Laundry "Baju Kamu sudah beres Nak, ini notanya nanti tinggal ambil saja Bapak sudah bayar lunas," ucap Pak To lembut.


Satria merasa tak enak hati menerima semuanya.


"Terima...," ucap Satria terputus.


"Sudah Bapak ke warung dulu, nanti kalau lapar Kamu bisa ke warung buat makan," ucap Pak To sambil sedikit mempercepat langkahnya, melihat hal itu timbul rasa bersalah di hati Satria, "Bapak jadi terburu-buru pasti karena tadi kelamaan memilih baju buat Aku," bathin Satria.


Saat hendak melangkah masuk ke dalam rumah, kaki Satria terantuk sesuatu.


"Apa ini," ucap Satria sambil membuka kantong yang tergeletak di bawahnya.


Ternyata isinya aneka macam bumbu dapur.


Satria lalu beristighfar dan yakin bahwa pasti Pak To kelimpungan mencari bumbunya yang tertinggal, segera Satria mengambil kantong itu dan dengan cepat berlari menuju ke warung Pak To berharap tidak terlambat mengantarnya.


Sampai di depan warung nafas Satria ngos-ngosan dan saat akan melangkah masuk nampak Pak To sedang memeriksa seluruh kantong tadi sepertinya beliau mencari kantong bumbu yang di bawa Satria.


"Pak," tegur Satria.


"Iya Nak, duduk saja atau bikin kopi sendiri dulu, Bapak masih sibuk," sahut Pak To tanpa melirik ke arah Satria.


"Ke mana tadi, perasaan sudah Aku bawa semua," gumam Pak To.


"Pak," tegur Satria lagi.


"Iya Bapak sibuk bikin sendiri dulu," sahut Pak To sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bapak cari ini, tadi ketinggalan di rumah," ucap Satria karena tak melihat Bapak respon kedatangannya malah sibuk mencari sesuatu.


"Isinya apa Nak," ucap Pak To sambil meraih kantong yang di berikan Satria kepada Pak To lalu memeriksa isinya.


"Alhamdulillah, Iya benar Nak ini yang Bapak cari sedari tadi," ucap Pak To senang lalu meracik kopi dan memberikannya kepada Satria.

__ADS_1


"Terimakasih Nak ya," ucap Pak To senang.


Sesederhana itu kebahagian Pak To, Satria merasa Dia adalah orang yang kurang mensyukuri nikmat.


__ADS_2