ANAK SEMATA WAYANG

ANAK SEMATA WAYANG
SATRIA KHAWATIRKAN MAMA YULI


__ADS_3

Setelah menerima kunci rumah lama dari Om Dian, segera Satria menuju rumah yang merupakan tempat sejarah bagi Dia dan Keluarganya.


Motor Satria berhenti tepat depan rumah, segera di bukanya pintu pagar dan masuk ke dalam, nampak barang-barang masih berada di tempatnya seperti saat di tinggalkan.


Satria mulai mengambil beberapa barang dan di masukkan ke dalam tas besar untuk di taruh di kostan.


Berkali-kali Satria bolak balik sampai di rasa sudah cukup, rencananya besok mau kembalikan kunci rumah.


"Aku tidur di rumah ini saja, sambil mengingat kembali memori saat tinggal bersama Mama dan Papa," ucap Satria dalam hati.


Karena masih banyak barang yang tersisa di rumah itu, Satria menggunakan barang-barang yang ada.


"Suatu hari nanti aku akan membeli rumah kenangan ini," ucap Satria sambil memandang sekeliling rumah.


Satria juga berkeliling rumah melihat setiap sudut rumahnya sambil mengingat saat dulu tinggal di rumah ini, bahkan terkadang Satria tersenyum sendiri mengingat momen di masa kecilnya bersama papanya.


Air mata Satria jatuh saat teringat bagaimana Dia terus menggunakan akal liciknya agar Papanya terus menuruti kehendaknya.


"Aku kangen Papa, Aku kangen Mama," ucap Satria sambil menitikkan air mata.


Setelah cukup lama melamun Satria keluar rumah hendak mencari makan malam.


Segera Satria menaiki motornya, nampak banyak warung yang tutup karena memang sudah malam, motor Satria terus melaju hingga berhenti di depan Rumah Makan Bapak Kumis.


Satria segera parkir dan masuk.


Satria memilih tempat duduk ujung dan Satria memesan sepuluh tusuk sate ayam berikut nasinya satu porsi serta teh hangat sebagai teman makannya. Saat Satria asyik menikmati makan.


"Halo Satria, masih ingat Tante kan," ucap Tante Hana.


Satria segera memandang sosok wanita yang di depannya.


"Tante Hana!" ucap Satria terkejut.


"Boleh Tante duduk di sini," ucap Tante Hana. Tanpa menunggu jawaban Satria, Tante Hana duduk di depan Satria.


Tante Hana memesan 20 tusuk sate dengan nasi 1/2 porsi dan tak lupa jeruk hangat.


Setelah pesanan Tante Hana datang.

__ADS_1


Tante Hana mulai makan hidangannya.


"Bagaimana kabarmu dan Mamamu?" tanya Tante Hana.


"Mama baik te, sedang Aku seperti yang terlihat," ucap Satria.


"Kamu koq di sini, bukankah kemarin katanya pindah ke desa?" tanya Tante Hana sambil menikmati makannya.


"Aku ingin mengadu nasib Te, jika berhasil Aku akan ajak Mama kembali ke kota," ucap Satria.


"Kamu akan ajak Mama Kamu ke kota lagi," ucap Tante Hana sambil tersenyum penuh misteri.


"Iya Te, kalau sudah berhasil nantinya, sekarang biarlah Kami berpisah dulu, Aku yakin Mama bisa jaga diri di desa," ucap Satria sambil mengingat Mamanya yang selalu di bantu Pak RT dan Bu RT setiap ada kesulitan.


"Lalu sekarang Kamu tinggal di mana? kalau Tante boleh tahu!" ucap Tante Hana.


"Aku kost Te, di jln Radjasa," sahut Satria.


"Rencana Kamu mau kerja apa?" tanya Tante Hana penasaran.


"Saya mau dagang kecil-kecilan Te," ucap Satria.


"Baju Te," ucap Satria singkat.


"Kalau gitu Kita bisa kerjasama lagi kan," ucap Tante Hana.


"Bisa Te, tapi tidak sekarang, karena stok barang masih banyak," ucap Satria.


"Stok barang dari mana Kamu?" tanya Tante Hana.


"Barang yang dulu order di Tante mau Aku coba jual dan jika laku, Aku akan order lagi," ucap Satria.


Nampak wajah Tante Hana sedikit berubah seperti ada hal yang di rahasiakan.


"Bukankah semua barang Kamu telah terbakar dan saat Kamu pindah ke desa pun, Kamu tidak bawa apapun dari rumah Kamu di sini," ucap Tante Hana dengan sorot mata yang tajam.


"Toko aku yang lama memang terbakar dan Aku tidak bawa barang saat pindah ke desa, namun baju orderan terakhir itu masih tersimpan di rumah lama, jadi Aku mengambilnya dan menjualnya," ucap Satria jujur.


"Kamu merampok rumah Kamu yang sudah Kamu jual ke orang lain itu," tuduh Tante Hana.

__ADS_1


"Tentu saja tidak Tante, Aku minta ijin dan kunci ke Om Dian agar bisa ambil baju buat Aku jual," ucap Satria.


"Lalu Kamu di ijinkan," ucap Tante Hana sedikit dengan nada tinggi.


"Awalnya sih tidak, tapi setelah Aku beri alamat rumah Saya di desa baru Om Dian kasih kunci rumah, mungkin buat jaminan Om Dian biar Aku kembalikan kunci rumahnya," ucap Satria.


"Tidaaak!" Tante Hana berteriak membuat Satria sangat terkejut.


"Tidak apa Te?" tanya Satria penasaran kenapa Tante Hana shock setelah mendengar Aku mendapatkan kunci rumah.


"Ahh tidak apa-apa koq, tadi Tante cuma terkejut saja," ucap Tante Hana tenang.


"Kalau gitu Saya permisi pulang Te," pamit Satria.


"Ok silahkan, jangan lupa hubungi Tante jika ada yang Kamu perlukan," ucap Tante Hana.


Satria mengangguk perlahan, sebenarnya Satria bingung dengan sikap Tante Hana yang sedikit lembut, sedikit kasar di waktu yang bersamaan.


"Sebenarnya Tante Hana itu kenapa sih, aneh banget jadi orang, Aku jadi gak habis fikir jika Aku bekerjasama dengan orang yang seperti air laut yang terkadang tenang dan terkadang menakutkan," ucap Satria dalam hati.


Sepanjang perjalanan pulang Satria teringat raut wajah Tante Hana yang cepat berubah.


Sampai di rumah fikiran buruk soal Tante Hana mulai menguasainya.


"Apakah Tante Hana yang menjadi dalang atas insiden kebakaran kemarin dan apakah Tante Hana pengirim surat kaleng itu, kata Om Dian, Tante Hana sangat terobsesi dengan beliau, karena itukah Tante Hana tadi terlihat marah saat Aku barter kunci dengan alamat rumah di desa," ucap Satria pada dirinya sendiri.


"Tidak, tidak mungkin ini hanya perasaanku saja, tidak mungkin wanita anggun dan cantik sukses seperti Dia bisa berbuat licik dan jahat, terlebih dengan Mamaku yang notabenenya sahabatnya sendiri," ucap Satria tidak yakin dengan perasaan yang ragu.


Di tepisnya perasaan curiga kepada Tante Hana yang sudah di kenalnya beberapa saat lalu.


Saat mau tidur fikiran Satria melayang tak menentu, rasa tak tenang mulai menguasainya, khawatir terjadi sesuatu kepada Mamanya.


"Kenapa Aku berikan alamat rumah di desa padahal sudah jelas Mama Aku tinggalkan di desa sendirian, bagaimana jika Om Dian berniat jahat kepada Mama, apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Satria tidak bisa tidur.


Satria segera beranjak dari tidurnya, malam ini Satria akan kembali ke desa untuk menemui Mamanya, sinyal di desa tidak ada jadi mau gak mau Satria harus pulang jika tak ingin sesuatu hal terjadi kepada Mamanya.


Satria mengendarai motornya dengan kencang, berharap segera tiba dan bertemu Mamanya sebelum terjadi suatu hal yang tidak di inginkan.


Satria melewati malam yang gelap dan dingin, hujan rintik-rintik mulai membasahi tubuhnya, tapi Satria ingin secepatnya sampai hingga hujan turun tak di hiraukannya.

__ADS_1


__ADS_2