
Wangi bunga rose dan kayu cendana merebak di antara pohon oak. Jauh diatas daun-daunnya yang basah oleh embun, binatang yang mirip seekor burung camar terbang menembus kabut, membumbung tinggi seolah ingin mengecup fajar di atas pasir putih dan batu coral.
Gelombang pasang berwarna biru yang berkilau seolah membentuk bayangan sirip ikan lumba-lumba yang terkenal begitu akrab dan senantiasa menjadi sahabat manusia, menghempas keras di permukaan pantai berwarna pualam.
Semua pemandangan itu tidak jauh dari kerajaan OcalypsoDream. Kerajaan yang kini sudah menjadi satu-satunya kerajaan di negeri para malaikat dan makhluk istimewa lainnya tinggal yang sangat makmur dan sejahtera. Tidak ada lagi ancaman, ataupun ketakutan, kalau sewaktu-waktu akan datang serangan yang membuat luluh lantak isi negri itu.
Puluhan tahun berlalu, setelah kejadian menyakitkan dan menjadi sejarah panjang untuk negri itu, banyak yang terjadi, dan setiap mengingat hari itu, semua orang akan menyebut namanya.
"Mereka bilang, pria itu lebih tampan darimu," ucap tuan putri, berkata pada seorang yang saat ini sedang berbaring di dekat pintu ruangan pemandian terbuka.
Suara tertawanya yang mengejek perkataan gadis itu menggema di ruangan itu. Tergelitik dengan lelucon sang tuan putri. Mana mungkin ada yang bisa mengalahkannya.
Pembicara itu lebih menjurus pada pembahasan yang lebih intim, yang tidak seharusnya mereka bicarakan secara terbuka. "Katanya, miliknya sangat besar. Bahkan saat belum menegang pun, setiap wanita akan bergidik ngeri. Ada yang bilang itu kutukan karena dia sudah pernah menumbalkan dirinya untuk kesendirian setelah kekasihnya meninggal," ucap wanita itu. Para dayang-dayang sang putri yang mendengar hanya bisa mengulum senyum, tidak berani menunjukkan rasa geli dan rona merah di wajah mereka.
"Ah, paling juga hanya sebesar terong kecil, mainan anak kala ingin bermain perang-perangan," sambarnya menarik ujung bibirnya, tidak terima direndahkan seperti itu.
"Kau hanya iri. Dengar, para wanita yang pernah mengintipnya ketika mandi, kejantanannya sangat besar, panjang dan bisa mengoyak kesadaran dan memisahkan kewarasan seorang wanita dari tubuhnya, setelahnya akan menarik jiwanya."
Sang tuan putri membuang wajah ke samping. Merasa bangga dengan kemampuannya yang berhasil membuat pria yang ada di depannya sekaligus yang memujanya itu terlihat marah. Ego pria jangan dilawan dan dibandingkan!
__ADS_1
Lelaki itu memutar bola mata, ini sungguh sangat mengganggu. Tampaknya omongan sang tuan putri sudah bisa menusuk egonya. Seketika wajah sombongnya menyiratkan rasa terhina. Dia duduk, lalu menyilangkan kakinya, mengalihkan pandangan dari tuan putri menuju ke arah laut lepas.
"Sudahlah, Hera, jangan lagi menggoda panglima Rex, dia sudah terlihat gelisah," ucap Pangeran Mark, putra dari Troy, raja OcalypsoDream, setelah Auriga mangkat tidak lama setelah peristiwa besar itu.
Namun, bukan duka yang sesungguhnya dirasakan bangsa itu bukan saat kematian Auriga, tapi kepergian pria pemberani yang bertarung di saat genting dan tidak diprediksi para tetua negri itu. Dia memilih untuk mengorbankan dirinya, demi mengingat agar perjuangan wanita yang ditumbalkan Auriga kala itu tidak sia-sia.
Yah, tidak ada seorang pun di negri itu yang tidak mengenal Deathlyn Eagle, Son of Sun, yang menerjang lautan api demi OcalypsoDream mendapatkan kebebasan dari musuh. Lyn menjadi icon, menjadi legenda, dan juga seorang pahlawan.
Mata tuan putri meredup kala mendengar teguran kakaknya itu. Untuk sesaat dia memutuskan untuk meneruskan pembalasannya. "Tapi itu memang kenyataannya," sambarnya seolah memang pernah melihat pria yang dia bicarakan.
Pria perkasa yang menjadi topik pembahasan mereka tadi saja belum pernah bertemu dengannya, tapi dia seolah penuh percaya diri menjelaskan hal itu.
"Jadi katakan siapa pria yang kau bicarakan tadi?" desak Mark, melirik ke arah adiknya. mar bisa melihat bahwa Rex juga menantikan jawaban dari sang adik.
Tentu saja Hera dengan bangganya akan memberitahukan mengenai pria yang begitu diidam-idamkan, tidak hanya di kerajaan mereka tapi di kerajaan tetangga dan seluruh kaum hawa yang ada di negeri ini. "Banyak orang memanggilnya dengan sebutan Lion"
***
Lyn Lion, putra sekaligus pewaris dari keluarga Goldmark yang ke 105, berjalan menyusuri lantai tetesan air yang jatuh dari rambutnya yang basah terus mengalir hingga ke dada dan yang tidak disadarinya kemudian berkumpul membentuk sungai kecil yang mengalir di antara otot-otot perutnya.
__ADS_1
Sinar cahaya bulan yang mencuri masuk dari jendela yang sedikit terbuka membuat kulitnya yang berwarna tembaga berkilau seakan ia adalah patung yang dipahat dari pandai besi yang membara mengalahkan keindahan dari ukiran dan pahatan para dewa dewa Yunani yang sangat terkenal.
Bak mandi di belakangnya sudah menjadi dingin dan tidak menarik lagi baginya. Demikian pula dengan wanita yang terlentang di atas ranjangnya masih tetap bertahan di sana walaupun sudah tahu bahwa pria itu sama sekali tidak menyukainya.
Wanita itu hanya bertahan untuk beberapa menit saja di dalam sana, agar para pelayan di rumah itu bisa merangkai cerita dan menyampaikan ke semua orang bahwa dirinya sudah berbagi ranjang dengan seorang Lyn Lion.
"Kau sangat tampan untukku, beruntungnya aku bisa menghabiskan malam bersamamu walaupun tidak sedikitpun kau berniat untuk menyentuhku tapi tidak jadi soal selama aku bisa menukar cerita kepada orang bahwa akulah wanita yang saat ini berada di dekatmu," batinnya dengan tersenyum penuh kemenangan menatap mulai dari betis hingga punggung tegap pria itu yang semakin lama menjauh darinya.
Namun, sumpah demi apapun pria pujaan hatinya itu bagaikan candu, yang menawarkan racun nikmat, tapi mematikan. Sekali mereguk tubuh Lyn, tidak akan pernah bisa lepas dari pria itu lagi.
Emerald ingat kembali semua hal yang rela ia lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian dari Lyn, dan bisa tidur bersamanya.
Semoga saja para dewa mengampuninya, dia bahkan bersedia untuk bertarung dengan siapapun untuk mendapatkan kesempatan itu. Dalam pikirannya hanya satu ingin merasakan apa yang sudah dikatakan dan dilukiskan oleh banyak kaum hawa mengenai keperkasaan pria itu di atas ranjang.
Sebenarnya Emerald ada gadis yang baik, dia membenci dirinya karena sudah berubah menjadi wanita yang tidak tahu malu hanya karena hanya mendapatkan perhatian dari Line. sekali lagi dia menegaskan dalam hatinya bahwa pria itu harus menjadi miliknya.
Pergerakan yang terjadi di dalam kamar itu membuyarkan lamunan Emeral dan kembali mengawasi gerakan pria itu yang begitu lues melintasi kamar menuju jendela yang terbuka di antara tiang-tiang batu granit yang melengkung beberapa meter di atas kepalanya.
"Aku ingin sekali mengulangnya apa yang kita lakukan tadi malam," desisnya berharap Lyn mendengar.
__ADS_1