Angel Of Death

Angel Of Death
Pusat perhatian


__ADS_3

Hanya orang yang memakainya yang bisa melepaskan jubah itu. Sayangnya, Shine melarang ibunya untuk melepaskannya, hingga Deathlyn tidak punya pilihan lain selain tetap di sana, sampai mendapatkan jubah itu.


"Kau belum pergi juga?" tegur Shine yang akan berangkat ke rumah sakit. Kesalahan pria itu, dia memberitahu selama si pemakai jubah itu tidak melepaskan, maka tidak siapapun bisa mengambilnya. Hal itu tentu saja dimanfaatkan oleh Shine untuk menahan jubah itu, alhasil Deathlyn tidak bisa berbuat apa selain menunggu hingga Lara mau menyerahkan jubah itu.


"Kau tahu betul apa alasanku masih tetap di sini!" jawab Deathlyn dingin. Tidak hanya perkataannya yang dingin, tapi juga tatapan dan juga sikapnya.


"Oh. Baiklah, aku berangkat!" jawabnya santai, mengulum senyum karena merasa sudah aman. Biarlah dia dianggap licik, meminjam milik orang lain dan tidak berniat untuk mengembalikannya, yang penting ibunya masih tetap bisa bersamanya.


"Hei, Hei!" hardik Deathlyn mengikuti langkah gadis itu. Lumayan mengejutkan melihat penampilan pria itu pagi ini. Kalau sayap putihnya tidak keluar, dia tampak seperti pria normal yang sexy dan sangat tampan.


Sejujurnya, Shine tidak bisa mengalihkan tatapannya kala melihat Deathlyn malam itu untuk pertama kalinya, tanpa baju dengan tubuh kekar, perut kotak mengembangkan sayapnya. Kalau saja situasinya tidak horor seperti tadi malam, dan bukan di rumahnya, tidak ada ibunya, bisa jadi dia akan mengajak pria itu berkenalan.


"Ada apa lagi? Kenapa kau mengikuti ku? Terus, dari mana kau dapat pakaian itu?" tanya Shine berhenti, menatap pria yang menjulang tinggi di hadapannya itu.


Pria itu diam, dia bisa memberi jawaban. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan kalau pakaian itu dia dapatkan dari jemuran tetangga di samping rumah Shine.


"Aku ingin kalian kembalikan jubah itu!" jawab Deathlyn, mengalihkan topik pembicaraan. Jangan sampai soal pakaian itu diusut hingga membuatnya harus mengakui kejahatannya yang remeh-temeh ini.


"Kau tahu betul, aku gak bisa memberikannya sekarang, ibuku sangat membutuhkannya!"


Selama mereka berjalan kaki, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, melempar tatapan penuh pesona ke arah Deathlyn, tapi setelah melihat pakaiannya, mereka justru tertawa.

__ADS_1


"Seharusnya wanita itu memperhatikan penampilan kekasihnya, jangan mau rapi sendiri, percuma pacarnya cakep tapi penampilan asal aja," ucap salah satu dari mereka, dan masih banyak lagi bisikan halus yang dia dengar membuatnya mendengus kesal.


"Ikut aku!" perintah Shine yang dituruti pria itu.


Shine membawa Deathlyn ke sebuah toko pakaian pria. Distro yang barangnya lumayan berkualitas tapi masih aman di kantong.


"Untuk apa kita ke sini?" tanya Deathlyn terus mengikuti kemana gadis itu melangkah, tapi tentu saja gadis itu tidak menanggapi, fokus pada beberapa pakaian yang dia ambil.


"Coba pakai ini!" perintah Shine, menyodorkan beberapa stel pakaian ke dada Deathlyn, belum sempat membantah, Shine sudah mendorong tubuh Deathlyn menuju kamar pas.


Beberapa menit berlalu, Deathlyn keluar dengan pakaian yang tadi diberikan Shine. Dengan wajah sombongnya menunjukkan dirinya di depan Shine.


CK! Padahal pria itu tidak berpose, tapi malah terlihat sangat tampan bak model papan atas, hingga membuat decak kagum dari pramuniaga dan juga pembeli di distro itu. Bahkan anak ABG mengeluarkan ponsel mereka dan memotret Deathlyn.


"Maaf, apa kekasih Anda adalah model? Atau bolehkan saya menawarkan kerja sama untuk brand yang baru saja rancang?" tegur seorang pria yang tampak terperangkap dalam gaya berbusana wanita. Liptint merah berry dengan belahan dada pada kaosnya yang berhasil mempertontonkan dada silikonnya.


"Maaf, dia bukan kekasih saya, dan juga bukan model. Anda salah sangka. Kami permisi," ucap Shine menarik tangan Deathlyn sembari meninggalkan toko itu setelah membayar semuanya.


Berjalan menyusuri koridor, Shine baru sadar atas apa yang sudah dia lakukan. Mengapa dia harus mengurus sekaligus peduli pada pria itu? Sampai membelikannya pakaian lagi.


"Hufffh, padahal gajian masih lama. Kau itu nyusahin ya. Eh, tapi aku yang bego sih, harusnya aku biarkan saja kau pakai pakaian curianmu itu saja tadi," deliknya kesal. Menghentikan langkahnya menunggu taksi datang.

__ADS_1


"Aku tidak meminta, tapi aku akan membayar. Aku tidak audi punya hutang padamu!" ucap Deathlyn, tapi sebenarnya dia bingung harus bagaimana. "Apa melakukan magic saja?" batinnya. Namun, pikiran itu dia urungkan kembali, tidak ingin menambah masalah karena mereka dilarang melakukan kekuatan mereka di dunia manusia, kalau tidak terdesak.


"Tentu saja kau harus membayarnya!" samar Shine, melirik jam di pergelangan tangannya. Gawat, dia terlambat. "Pada kemana sih semua taksi, gak ada yang lewat satu pun!" umatnya kesal. Lalu tidak lama, taksi yang di tunggu lewat dan berhenti di depannya karena melihat ayunan tangan Shine yang memanggil, tapi baru akan membuka pintu seseorang pria itu yang entah datang dari mana menyambar masuk.


"Aku minta maaf, Nona. Aku buru-buru, izinkan aku duluan," ucapnya hingga membungkam niat protes Shine.


Lalu selanjutnya, beberapa taksi lewat, tapi dia tidak pernah dapat, karena terlalu laju hingga berhenti di depan orang yang ada di dekatnya. Shine semakin kalut, kalau sampai terlambat, dia pasti akan dimarahi oleh manager rumah sakit lagi. Dia tidak mau kalau Andi harus pasang badan lagi untuknya hingga menimbulkan rumors yang tidak sedap didengar telinga.


Melihat wajah panik Shine, ada dorongan di hari Deathlyn untuk membantunya. Begitu taksi lewat dari hadapan mereka dan akan berhenti beberapa langkah di depan, Deathlyn menggunakan kekuatan, membuat taksi itu mundur dan tepat berdiri di depan mereka.


"Ini tidak salah, terdesak!" batinnya menyakinkan dirinya kalau dia tidak melanggar hukum mereka.


Tidak ingin membuang waktu lagi, Shine masuk begitu pun dengan Deathlyn lalu sopir taksi itu tancap gas. Bahkan si sopir juga heran, mengapa dia sudah melaju ke depan, tapi justru mundur dan berhenti di depan mereka.


"Kau terlihat khawatir," ucap Deathlyn terus mengamati wajah gadis itu.


"Aku terlambat!"


"Kau mau aku membuat mobil ini melayang dan mendarat persekian detik di depan rumah sakit tempat mu bekerja?" bisik Deathlyn sungguh-sungguh.


"Jangan gila! Aku tahu, taksi ini juga bisa mundur, karena ulahmu. Jangan sampai orang tahu kau punya kekuatan," jawab Shine kembali berbisik.

__ADS_1


Mendengar tawaran sekaligus niat baiknya ditolak, Deathlyn memilih untuk menyandarkan punggungnya ke jok, lalu melipat tangan dan memejamkan mata. Namun, Shine yang grasak-grusuk tidak tenang dalam duduknya, terlebih saat macet, membuat Deathlyn tidak punya pilihan lain selain membantu gadis itu kembali. Masih menutup mata, Deathlyn membuat lampu merah berubah cepat menjadi hijau, tak hanya sampai disitu, bak ambulans yang akan lewat, semua mobil menepi, membiarkan taksi yang mereka kendarai lewat lempeng, tanpa hambatan.


__ADS_2