
Tepat seperti dugaannya, Ben menghubungi dan meminta untuk bertemu. Luna menebak kalau Nana pasti menyampaikan pada Ben mengenai pertemuan mereka kemarin malam.
“Tapi aku harus bilang apa pada Oma? Dia pasti bertanya aku mau pergi ke mana?”
“Katakan saja kau ada perlu membeli sesuatu,” saran Ben.
“Sesuatu apa?”
“Terserah, kenapa mencari alasan saja otakmu tidak bisa berfungsi, sih? Katakan saja kau ingin membeli bedak dan berbagai jenis alat rias, yang penting kau bisa keluar dari rumah itu!" seru Ben kasar.
Tapi Luna tidak peduli, dia juga mengharapkan pertemuan dengan Ben. Cinta sudah membuatnya buta. Membuang berlian demi lempengan yang tidak berharga.
“Aku pasti datang,” sahut Luna gembira. Dia sudah membayangkan bagaimana reaksi Ben saat dirinya memberitahukan seberapa besar jumlah uang yang sudah berhasil mereka dapatkan.
“Aku tunggu. Dah!”
“Tunggu, Ben...” tahan Luna ketika pria itu bermaksud menutup teleponnya.
“Apa lagi?” terdengar nada bosan dari bibir Ben.
“Aku merindukan mu.”
“Aku juga. Sudah, ya!”
Perasaan Luna membuncah mendengar pria yang dicintainya itu juga merindukannya. Didekapnya erat ponselnya di dada, tersenyum membayangkan harapan mereka untuk hidup bersama dan bahagia semakin dekat.
Bingung mencari alasan yang tepat untuk diutarakan pada Jean, Luna memutuskan untuk mengatakan ingin membeli beberapa novel untuk dibacanya demi mengisi kekosongan dan menghilangkan rasa bosan kala Kai tengah di kantor.
“Biar Oma temani," tawar Jean bangkit dari duduknya. Wanita itu tengah menikmati film zaman dulu yang diperankan aktor kawakan Ray Sahetapy dan Lidya Kandou.
“Eh, gak usah, Oma. Aku sebentar aja kok. Lagi pula toko bukunya dekat sini.” Jantung Luna berdebar, sempat takut kalau Jean bersikeras ikut dengannya.
__ADS_1
“Kau yakin bisa pergi sendiri? Tapi kalau sampai bocah tengik itu tahu, Oma bisa kena omel.”
“Ini akan jadi rahasia kita berdua,” sambar Luna mengedipkan sebelah matanya.
“Bertiga,” sambung Tukiyem, asisten Jean. Sontak ketiganya tertawa bersama.
“Tapi kau harus janji dua hal. Pertama, kau harus jaga dirimu, dan kedua kembali sebelum suamimu tiba di rumah,” ujar Jean mencubit pipi Luna pelan.
“Siap 86,” sahut Luna mengangkat tangannya memberi hormat. Sontak ketiga wanita yang sudah saling sayang itu kembali menggema di ruangan itu.
***
Senyum Luna mengembang saat melihat sosok Ben sudah ada di sana, menunggunya di Cafe tempat mereka janji bertemu. Dengan langkah lebar Luna mendekat ke meja pria itu.
“Hai,” sapanya dengan wajah bersemu merah. Tidak pernah sekalipun Luna membayangkan mereka akan bertemu dengan cara seperti ini, di tempat seperti ini pula. Gadis itu begitu bahagia, pertemuan mereka kini sudah layaknya pertemuan sepasang kekasih yang saling mencintai.
“Kau sudah datang?” Ben berdiri, memeluk tubuh Lun, tidak peduli dengan pengunjung lain yang berjumlah sekitar enam orang.
“Aku tahu. Bagaimana, semuanya beres? Nana bilang, kalian bertemu di salah satu mal, kau dan pria itu tampak sudah seperti kekasih, artinya semuanya berjalan seperti rencana kita, kan?” Ben memutuskan untuk mengatakan hal penting dulu, itu 'kan tujuan dia mengajak Luna bertemu?
“Justru itu, Ben. Tunggu sebentar," Luna sudah membuka tas tangannya, mengeluarkan isi tas berupa buku tabungan dan juga sertifikat kepemilikan properti.
Ben menyambar benda-benda itu, mengamati dengan saksama setiap kata yang ada di sana. Senyumnya mengembang, lama kelamaan membulat seolah ingin keluar dari tempatnya kala membaca dan melihat angka-angka yang ada tertulis sebagai saldo di rekening Luna.
“Ini... Ini beneran, Lun? Ini semua sudah jadi milikmu?” Ben kehilangan kata-kata. Dia belum pernah segembira ini. Dia tahu Kai pria kaya raya, tapi dalam sebulan sudah mendapatkan semua ini, terlalu luar biasa menurutnya.
“Milik kita. Semua ini milik kita, Ben,” ralat Luna ikut bahagia melihat pria itu gembira. Bahkan sudut matanya menggenang bulir bening yang siap tumpah.
“Sayang, kau berhasil, kita kaya....” tanpa sadar Ben berteriak, pengunjung yang tadi melayangkan tatapan aneh pada mereka, kini semakin memandang sinis karena dianggap norak, berteriak dengan suara lantang sungguh tidak punya etika. Dan ucapan Ben tadi yang memanggilnya dengan kata 'sayang' membuat Luna tidak bisa membendung air mata harunya.
“Kau luar biasa, Lun. Aku makin sayang padamu. Kita akan hidup bahagia, Sayang, percayalah.”
__ADS_1
Ingin menambah kadar kegembiraan Ben, Luna memutuskan untuk mengatakan mengenai anak perusahaan yang akan menjadi miliknya, dan saham-saham itu akan menghasilkan banyak uang untuk nya setiap bulan.
“Itu belum seberapa, Ben. Bahkan beberapa anak perusahaan, sahamnya sudah dibuat atas namaku. Setiap bulan, ratusan juta bahkan milyaran akan masuk ke rekening ini.”
“Apa? Benarkah itu, Lun? Kita kaya...” Ben sudah bangkit dari duduknya dan menggendong tubuh Luna untuk berputar sebagai selebrasi mereka.
“Tapi sertifikat belum selesai. Mungkin seminggu lagi."
“Tidak apa-apa, Lun. Bertahan 'lah di sana, Sayang. Hanya seminggu lagi, lalu segera kau keluar dari rumah itu. Aku akan menjemputmu,” sambar Ben antusias.
Luna hanya mengangguk setuju. Ya, walau tiba-tiba terselip di hatinya rasa tidak enak pergi diam-diam setelah menipu Kai, tapi memang ini yang harus dilakukan Luna. Cepat atau lambat, Luna memang harus pergi dari sisi dan hidup pria itu.
Keduanya menghabiskan waktu dua jam duduk berdua, membicarakan rencana mereka setelah semua ini selesai Minggu depan. Keputusan untuk keluar negeri pun tiba-tiba tercetus dari bibir Ben.
“Aku akan segera mengurus pasporku, dan juga milikmu. Selesaikan semuanya dalam seminggu, Lun,” ucapnya menghentikan mobil di sis jalan, tak jauh dari rumah Tortura.
“Iya, aku mengerti."
“Satu hal lagi. Periksa isi brankasnya. Aku yakin dia banyak menyimpan mas dan juga yang uang cash. Ambil hingga tidak bersisa!"
“Tapi aku kan tidak tahu kodenya. Lagi pula, ini sudah banyak, Ben. Aku tidak berani lagi mencuri lebih banyak lagi,” tolak Luna yang merasa tidak sanggup mengkhianati Kai lebih banyak lagi.
“Lakukan kataku. Dia tidak akan tahu. Kau hanya perlu merayunya hingga memberitahukan kode brankas itu padamu, dan saat punya kesempatan, langsung kosongkan!”
Lun turun dengan perintah yang terus menggema di kepalanya. Kenapa Ben seolah tidak ada puasnya. Bahkan satu kartu ATM Luna sudah diambilnya tadi, untuk biayanya selama beberapa hari ke depan, sampai mereka pergi dari tempat ini.
“Kau sudah pulang?” sambut Jean di halaman rumah.
“Eh, iya, Oma. Kenapa Ona di sini?” Luna celingak-celinguk melihat sekeliling. Mungkin Jean sedang bersama seseorang hingga harus berdiri di halaman rumah di dekat gerbang rumah itu.
“Tentu saja aku menunggumu, apa kau pikir jantung ku bisa berdetak dengan teratur saat kau mulai pergi tadi? Aku begitu takut kau belum pulang saat Kai tiba!"
__ADS_1
Luna jadi merasa bersalah atas apa yang sudah dia perbuat, hingga membuat Jean merasa khawatir seperti ini. “Maafkan aku, Oma.”