
"Dia sama sekali berbeda dengan Aluna, tinggi mereka saja sangat berbeda!"
"Dia memang Aluna Star!"
"Aku tidak yakin. Aku yakin dia adalah orang lain!"
Dari balik tirai di kamarnya, dia bisa mendengar bisik-bisik para pelayan ketika melihatnya keluar dari kamar itu bersama Matilda.
"Ayo lah, Matilda, katakan padaku apa yang terjadi pada Aluna yang asli?" tanya Luna setelah mereka duduk di taman tidak jauh dari kamarnya.
Dia tadi sempat heran melihat ketiga mulut pelayan yang ada di kamarnya itu, termasuk Matilda, langsung tertutup rapat dan segera menaruh perhatian penuh mendandani Luna sambil terus membisu mengendarai pertanyaan mengenai keadaan gadis itu.
Namun, Matilda tetap saja diam, hanya mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa mengenai keberadaan Aluna yang asli saat ini.
Kalau hanya keselamatannya yang dia pikirkan, tentu dengan cepat dia akan membeberkan apa yang dia tahu kepada Luna namun, ada ibu dan juga adiknya yang harus dia lindungi. Dia mengenal Wolf sudah cukup lama, pria itu gila bahkan dia lebih puas dari binatang manapun yang pernah dia tahu. Matilda tahu, pria itu akan dengan tega membunuh ibu dan menyiksa adiknya yang masih kecil kalau sampai dia terlalu banyak bicara dan memberikan informasi kepada Luna.
Luna tidak ingin memaksa lagi. Dia tahu bahwa bagaimanapun caranya membujuk Matilda, gadis itu tidak akan memberi penjelasan apapun. Luna memutar bola matanya, jika tidak mau bercerita apapun tentang perihal ALuna Star, mungkin Matilda mau membuka mulut tentang calon suaminya.
"Jadi siapa pria yang akan kau nikahi ini? Apa dia tampan? Atau malah buruk rupa seperti Wolf?" tanya Luna menatap Matilda.
"Lyn Lion? Nama yang aneh. Apa dia sejenis makhluk jadi-jadian? Setelah manusia, setengah singa?" batin Luna bergidik ngeri membayangkan manusia jadi-jadian seperti yang dia tonton di film X-Men.
__ADS_1
"Sejujurnya Nona, kami hanya pernah mendengar kisah tentangnya. Pernikahan ini diperintahkan sendiri oleh raja Mark."
"Ceritakan padaku kisahnya yang kau tahu," pinta Luna yang sebenarnya tidak terlalu tertarik, hanya saja dia harus mengetahui monster seperti apa yang akan dia nikahi.
"Dia adalah seorang panglima yang begitu perkasa dan banyak digila oleh para wanita. Hartanya melimpah dan istananya bahkan lebih indah dan sangat mewah tiada tara dari semua istana di negeri ini, yang paling membuat orang memandang sangat tinggi kepadanya, dia adalah keturunan dari keluarga yang sangat berpengaruh di kerajaan ini. Bahkan yang aku dengar, Raja Mark saja tidak berani kepadanya," ucap Matilda sembari menurunkan nada suara. Dia tidak ingin kepalanya dipenggal hanya karena berani mengatakan keberanian sang panglima besar.
"Kalau dia sehebat itu, mengapa kau tidak pernah melihat wajahnya?" susul Luna yang masih tidak mengerti.
"Panglima Lyn tidak pernah berada di negeri ini lebih daripada seminggu. Dia berkelana menaklukkan banyak daerah dan juga bangsa-bangsa lain atas perintah raja, jadi tentu saja Kami yang tinggal sebagai pelayan di istana jarang bertemu dengannya," jawab Matilda yang sebenarnya merasa'kan penasaran di hatinya bagaimana sosok dan rupa Lyn Lion yang terkenal itu.
"Terlihat hal yang bagus saja yang kau ceritakan. Katakan padaku, hal buruk yang pernah kau dengar dia lakukan!" Susul Luna yang semakin merasa penasaran akan sosok calon suaminya.
Walau di negeri mereka **** bebas sudah sangat lumrah dilakukan, terlebih bagi para panglima prajurit yang pulang bertempur, mereka bebas memilih wanita yang mana yang mereka inginkan untuk menemani di ranjang, tidak peduli apakah itu adalah kekasih orang lain ataupun istri dari seorang pria kalau mereka suka maka mereka akan mendapatkannya, tapi bagi Matilda hal itu sangat menjijikkan.
Dia adalah gadis yang masih bermimpi mendapatkan kekasih yang mencintainya dengan tulus.
"Katakanlah, percaya saja aku tidak peduli apapun yang dia lakukan!"
"Kabarnya dia berkeliling dari satu dunia ke dunia lain dan ditemani oleh gadis-gadis yang paling cantik dan kabarnya semua gadis yang ada di negeri OcalypsoDream ini tidak ada yang belum pernah dia tiduri," ucap Matilda dengan suara semakin pelan.
"Dasar brengsek! Ternyata orang yang akan aku nikahi adalah penjahat kelamin!" pekik Luna yang tidak dimengerti oleh Matilda.
__ADS_1
"Apa dia setampan itu, sampai semua wanita bertekuk lutut di hadapannya?" Kembali Luna tidak bisa menahan lidahnya untuk tidak bertanya lebih lanjut.
"Yang aku dengar, banyak orang menyanjung paras dan tubuh atletisnya, seperti Dewa dan juga dia disebut titisan panglima sekaligus patriot para malaikat yang legendaris, Deathlyn Eagle," tukas Matilda yang sudah menyeduhkan teh hangat pada Luna.
Mendengar nama itu seketika tubuh Luna bergetar kaku. Dia tidak tahu dimana pernah mendengar nama itu namun, jelas sangat mengusik hati dan juga pikirannya.
"Siapa katamu, Deathlyn?" tanya Luna menarik pergelangan tanga. Matilda, meminta perhatian gadis itu.
"Bener Nona, dia adalah pahlawan negeri ini yang sudah meninggal beribu-ribu tahun yang lalu dan kalau Anda bertanya bagaimana sosok pahlawan itu, kata orang sangat mirip dengan Lyn Lion, bahkan bagi para tetua yang mengenal Deathlyn, ketika melihat Lyn mereka seolah melihat reinkarnasi dan jelmaan pahlawan legenda itu."
"Apa sang Legenda juga mata keranjang, suka bermain wanita?" tanya Luna yang justru lebih penasaran dengan kisah Deathlyn, dari pada calon suaminya.
"Tidak Nona, dia adalah pria setia. Bahkan kisahnya sudah dibuat kitab, memilih untuk memusnahkan rohnya agar bisa bersama wanita yang dia cintai, yang lebih dulu meninggalkan," sambar Matilda. Baginya, gambaran Deathlyn sangat sempurna, pria idamannya, karena menjunjung kesetiaan.
"Lantas, bagaimana kau bisa menyamakannya dengan pria bernama Lyn itu? Kau saja mengatakan bahwa Lyn sangat suka bergonta-ganti pasangan. Aku pastikan bahwa mereka berdua adalah orang yang berbeda!" tukas Luna sedikit kesal.
"Mungkin Anda benar, mereka hanya mirip fisiknya saja, bukan birahinya!" lanjut Matilda yang setuju dengan pendapat majikannya itu.
"Baguslah! Lelaki yang mata keranjang dan tampan, perkasa, tukang selingkuh dan tidak peduli perasaan orang lain serta sangat egois adalah calon suamiku!" gumamnya lirih. Mendengus dan menarik napas berat. "Oh Tuhan, apa salahku harus menanggung semua ini!"
"Namun, kabarnya ia adalah pecinta ulung dan berwajah sangat tampan, Nona. Aku rasa tidak ada yang salah dengan itu semua, bahkan orang berlomba-lomba untuk bisa bersamanya satu malam," saja celetuk Honi yang tidak bisa menahan dirinya. Dia adalah salah satu pemuja Lyn Lion yang hebat.
__ADS_1