
Luna Shining merasa tubuhnya tidak baik saat ini, menggigil padahal saat itu cuaca sedang hangat. Ia tampak seperti orang bodoh karena mengenakan sweater serta kausa yang panjang di kakinya lalu menutup pintu, dari jendela kamarnya dia menikmati malam yang mulai turun di atas tanaman yang ada di taman kompleks perumahannya.
Di bawah cahaya yang memudar itu ia mengamati dinding batu yang menutupi rumahnya lalu seolah bosan dengan apa yang dilihatnya ia pun mengalihkan pengamatannya kebayangan di samping pohon oak yang besar seolah merasakan adanya gerakan yang tidak biasa.
Luna menarik napas panjang dan berusaha santai. Suara anjing penjaga yang berpatroli di sekitar rumahnya tak bersuara seperti biasanya kalau ada bahaya dan hal itu menjelaskan bahwa keadaan saat ini pasti sedang aman dan dia mencoba untuk meyakinkan dirinya.
Namun, tidak bisa dipungkiri ada rasa tegang dan khawatir di dalam hatinya, dengan kaku ia memasukkan kode alarm yang akan mendeteksi adanya gerakan mendekat bahkan masuk di sepanjang halaman rumahnya.
Segala gerakan yang ditimbulkan oleh makhluk apapun itu akan memicu detektor, walaupun bunyinya tidak akan mendatangkan polisi, setidaknya dia bisa mempersiapkan dirinya untuk hal yang paling buruk sekalipun.
Kalau sudah keadaan terjepit Luna akan memilih berlari mencari benda atau apa saja yang bisa dia gunakan untuk mempertahankan dirinya, membela diri dari serangan orang lalu tentu saja akan menghubungi polisi untuk mengamankan tempat tinggalnya. Namun, sepertinya pemikiran itu membuatnya tersenyum miris. Luna, gadis tidak biasa. Dia lebih memilih untuk memanggil raja iblis untuk mengamankannya daripada harus melaporkan peristiwa itu kepada polisi.
Sudah berbulan lamanya peristiwa itu terjadi, tapi Luna masih saja tetap ketakutan ketika selalu sendiri di rumahnya. Dia masih memikirkan hal-hal tidak masuk akal yang pernah dialami. Bahkan dia memilih untuk meninggalkan kota tempat tinggalnya yang lama dan seandainya bisa dia memilih untuk menyeberangi samudra yang walaupun tentu saja tidak bisa dia lakukan.
Sialnya, Luna harus terjebak pada satu kasus yang membuatnya menjadi saksi untuk peristiwa itu, penjahat berhasil diidentifikasi dan berakhir di penjara. Namun, ternyata orang yang dilawannya bukan pria sembarangan karena memiliki banyak anak buah di luar sana yang mulai mencarinya dan ingin menghabisinya.
Penjahat yang dia jebloskan ke penjara, sekaligus merupakan kekasihnya. Pria terpandang di lingkungan masyarakat dan setidaknya begitulah anggapan mereka.
Namun, ternyata Albert tidak seperti yang dia duga. Di depan matanya dia melihat pria itu menembak walikota karena ternyata Albert menjalankan bisnis ilegal dan mendapat pertentangan dari sang walikota.
__ADS_1
Menghabisi nyawa walikota merupakan jalan yang dia pilih untuk mengamankan bisnisnya dan sial pada saat itu Luna berada di tempat yang salah sehingga dia menyaksikan penembakan itu.
Setelahnya Luna berlari dari tempat itu dan melaporkan ke polisi. Bagaimanapun dia tidak mungkin menjadi kekasih seorang pembunuh.
Luna berusaha untuk membuang semua pikiran itu. Dia yakin tempatnya sekarang sudah aman tidak mungkin kembali dikejar oleh anak buah mantan kekasihnya itu. Tampak terlihat gadis itu mendengar pergerakan, sambil menyapu pandangan ke arah halaman untuk terakhir kalinya, lalu menurunkan tirai dan menutup pintu sudah waktunya untuk tidur.
Sejak mengenal pria itu hidupnya memang sudah berubah tidak seperti dulu yang segalanya tampak seperti dunia yang begitu indah, penuh harapan dan kegembiraan.
Dia ingin kembali kepada orang tuanya yang berada di benua lain namun, tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya dengan permasalahan yang dihadapi bersama Albert, Luna memutuskan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Awal perpisahannya dengan orang tuanya ketika Luna meminta izin untuk mencari pekerjaan. Dia mengatakan bahwa telah diterima menjadi seorang pengajar di sebuah sekolah dan itu kali pertama dia berada jauh dari kedua orang tuanya.
Tentu saja Luna merasa sangat terpukul kala mengetahui bahwa pangeran dari negeri dongeng yang dia miliki ternyata adalah pangeran dari dunia kegelapan, bandar judi dan juga mafia.
Lelah berpikir mengenang masa lalunya, Luna memutuskan untuk memejamkan matanya erat-erat, berharap dia bisa menghilangkan kenangan buruk itu selamanya. Betapa tololnya dia, betapa banyak alasan yang ia ciptakan untuk Albert dan juga untuk dirinya sendiri hingga akhirnya ia terpaksa memilih untuk melarikan diri dari pria itu.
Luna juga yakin kalau anak buah Albert masih mencarinya, sejauh apapun dia pergi dan bersembunyi di sudut dunia yang jauh darinya.
Suara anak kucing lirih, mengantar nya kembali ke alam nyata,.membuka matanya dan ia tersenyum pada satu-satunya hal yang terindah dari semua yang ada saat ini. Kucing peliharaannya!
__ADS_1
Dia bahkan lupa memasukkan kucing itu kembali ke dalam rumah.
Sebenarnya Marshmello, nama yang dia berikan kepada kucingnya itu selalu betah di rumah hingga akhir-akhir ini kucing itu memilih untuk berkeliaran di luar rumah mereka, mungkin karena ada kucing jantan yang sedang mendekatinya.
"Bersabarlah, Mellow, aku akan membukakan pintu bagimu," ucapnya kelar dari dalam kamar. Hanya kucing itu yang menemaninya di dalam hidupnya yang kesepian.
Kucing itu selayaknya gambaran dirinya, sendiri dan seolah tidak punya tempat untuk pulang. Ketika ia menemukan di depan minimarket ketika membeli keperluan dapur.
Marshmallow menggesekkan diri pada tumit Luna dan mencoba menarik perhatian gadis itu, seolah menjanjikan bahwa dia akan menjadi peliharaan yang manis dan sangat menyenangkan bagi tuannya.
Luna akhirnya memutuskan untuk mengangkat binatang itu menjadi peliharaannya dan kini menjadi kesayangannya. Dia memeluknya erat, cinta tanpa pamrih adalah sesuatu yang diberikan Marshmello pada dirinya. Dia percaya bahwa Luna adalah gadis yang baik, tidak seperti perkataan Albert saat pria itu sudah divonis harus masuk bui beberapa tahun.
"Kau gadis tidak tahu diri! Aku akan menuntut balas!" umpat Albert di akhir persidangan, yang tentu saja ditujukan pada dirinya.
Luna bersenandung lembut sambil mengelus punggung Marshmello ketika kucing itu sudah berada dalam pelukannya, lalu tersentak saatnya mendengar suara gesekan lain dari arah jendela.
Sambil terdiam kaku, dia semakin mengeratkan pelukannya kepada Marshmello dan menunggu sembari menahan napas, mungkin saat itu Luna sudah lupa bagaimana caranya bernapas.
"Pasti hanya ada ranting pohon yang menggesek atap, bukan seseorang yang mencoba untuk mendatangiku," batinnya mencoba menguatkan dirinya.
__ADS_1