
Luna tahu dia sedang bermimpi. Dia terperosok kembali di mimpi buruk yang sama. Selama berbulan-bulan mimpi buruk itu mengikutinya. Saat dia berlari menyusuri anak tangga seolah melarikan diri dari maut.
Dalam mimpi itu, dia berada di sebuah bangunan seperti rumah sakit, lalu dia bertemu dengan seseorang yang kemudian entah bagaimana ceritanya dia terjatuh, tidak lama dia sudah dibawa melintasi ruang dan waktu tiba di sebuah kerajaan yang lucunya, setelah dia melihat istana OcalypsoDream, itu adalah tempat yang sama seperti yang ada dalam mimpinya.
Padahal dia yakin bahwa dia belum pernah datang ke tempat itu sebelumnya, tapi terasa sangat familiar dan jelas dia juga sempat bermimpi melihat seseorang yang meringkuk ketakutan di sebuah ruangan. Tampaknya gadis itu dikurung, tapi dia tidak bisa melihat jelas wajah gadis itu karena selalu menunduk dan menangis.
Bagaimanapun kerasnya berusaha mengendalikan mimpinya ia tidak pernah selamat. Selalu saja bayangan itu muncul, me*remas jantungnya hingga seolah sesak untuk sekedar bernapas.
Kali ini pun mimpi itu hadir kembali. Dia terbangun sambil gemetar dengan wajah yang pucat dengan tetesan keringat mengucur membasahi wajahnya.
Sejurus kemudian tampaklah Lyn duduk di ujung tempat tidur yang diam-diam mengamatinya. Luna membelalakkan mata ke arahnya. Walau tadi dalam keadaan masih mengantuk dan kebingungan, ketampanan Lyn seperti seseorang yang ada dalam mimpinya.
Bahkan semakin melihat wajah Lyn, Luna semakin yakin bahwa pria itu pernah hadir dalam beberapa mimpinya, melekat dalam ingatannya, baik bentuk wajah ataupun kegagahan tubuhnya.
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" batinnya Luna masih terus mengamati wajah Lyn tanpa berkedip. Dalam benaknya Luna memikirkan apa perbedaan antara pria yang ada dalam mimpinya dan juga Lyn yang ada dalam dunianya saat ini.
Setelah bangun dari mimpi buruk tentang satu lelaki tampan, lalu ketika terbangun ia menemui satu lagi ada di dekatnya seolah sarafnya diharuskan untuk menanggung semua itu.
Walaupun dia tidak ingat bagaimana bisa sampai ke negeri ini, ingatan yang lain tampak tetap normal. Dia masih ingat bahwa dulu dia bekerja di sebuah garmen besar di kotanya dan dia adalah calon desainer terkenal sebelum dia bertemu dengan Albert, lalu melarikan diri dan untuk bertahan hidup dia bekerja di sebuah butik kecil.
__ADS_1
"Kau tadi menjerit," ucap Lyn memberitahunya dengan suara yang merdu yang dia sendiri pun merasa heran mengapa dia memiliki sisi lembut seperti itu jika berhadapan dengan Luna.
Luna memutar bola matanya. Apa lelaki ini tak bisa melakukan sesuatu yang lain selain mendesah merdu setiap kali ia membuka mulutnya? Suaranya itu bisa mengubah seorang gadis baik-baik menjadi binal hanya dengan mendengar suara itu.
"Pergilah!" gumam Luna ingin menguasai dirinya. Selalu seperti itu setiap terbangun dari mimpi buruknya, tubuhnya akan terasa begitu lemas dan dia membutuhkan waktu sendiri untuk sekedar menyiapkan mental dan menyehatkan pikirannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lyn yang lagi-lagi terdengar begitu mengkhawatirkannya. Jika para anak buahnya mendengar caranya berbicara kepada seorang wanita seperti ini pastilah mereka akan mengolok-oloknya.
Pemikiran tentang dirinya yang sudah bertekuk lutut di hadapan Luna membuatnya kesal karena menurutnya, selama ini dia menjadi pria yang punya karakter keras dan tidak tergoda oleh wanita manapun, walaupun saat ini dia sudah menikahi seorang gadis yang tampaknya menjadi incaran banyak kaum Adam di negeri ini.
"Aku baik hanya saja, hanya mengalami mimpi buruk," jawab Luna masih dibayangin serpihan-serpihan mimpi buruk. Angin Malam yang lembut berhembus lewat jendela dan membelai kulitnya.
Astaga dia baru ingat ketika mengingat kulit kalau saat ini bagian dadanya terekspos di hadapan pria itu. Segera dia menarik sprei sutra untuk menutupi bagian depan yang hampir saja terbuka seutuhnya.
Tali gaun yang sangat kecil melorot dari bahunya, sementara gaun tidurnya tertarik ke atas, menjadi kumpulan bahan gaun yang transparan terkumpul di sekitar pinggangnya yang hampir tak bisa menutupi pinggulnya, dan itu pun jika ia tak bergerak sama sekali.
Segera gadis itu menarik gaunnya, mencoba merapikan tanpa melepas cengkraman pada sprei, sementara matanya masih membenci pandangan Lyn yang tampaknya terhipnotis dengan apa yang dia saksikan saat itu.
"Aluna, aku tahu kita berdua tidak memulai pernikahan ini dengan baik," ucap Lyn kembali dengan suara merdunya.
__ADS_1
"Bolehkah aku minta kau manggilku dengan nama Luna saja? Itu lebih baik kedengarannya," jawab Luna yang tidak ingin menggunakan identitas dan nama orang lain setidaknya jika berhadapan dengan Lyn.
Perbedaan antara nama Alunan dan Luna memang tidak banyak sehingga dia tidak merasa curiga dan mengangguk setuju.
"Baiklah Luna," jawab Lyn yang mendekat, mengikis jarak diantara mereka. "Maksudku, walau di awal pertemuan kita tidak bagus, aku berniat untuk memperbaikinya," lanjut Lyn.
"Kau bisa memperbaikinya dengan segera menyingkir dariku sekarang. Pergilah!" Luna mencengkram sprei dengan hati-hati, sementara satu tangan lagi mengimbas-ibaskan, mengusir Lyn yang memandangnya dengan penuh rasa kagum. Luna melakukan hal itu bukan karena benci ataupun merasa tidak percaya diri hanya saja dia takut kalau kedekatan itu mengubah pemikirannya dari benci menjadi kagum kepada Lyn.
Mungkin dia hanya mengenal beberapa pria di dalam dunia nyata tapi sejauh yang dia kenal, tidak ada yang sama tampannya dengan pria yang kini ada di hadapannya dan sebenarnya beruntung itu adalah suaminya sendiri.
"Tangan yang indah." Lyn bergumam, membalikkan tangan Luna dan mencium dengan lembut punggung tangan gadis itu.
"Kau tahu, pertama kali mengetahui bahwa aku dijodohkan dengan seorang wanita gila, aku sangat marah dan aku tahu itu cara Raja Mark untuk membuatku marah. Namun, ternyata sekarang aku baru tahu bahwa itu sebuah anugerah, karena ternyata aku memiliki istri yang begitu sempurna sepertimu," ucapnya tanpa malu.
"Bisakah kau diam! Aku tidak tertarik mendengar pujianmu!" jawab Luna sedikit kikuk. "Dengar ya Lyn, Lion atau siapapun namamu, aku sama sekali tidak terkesan padamu. Jika kita berdua harus terpaksa hidup bersama satu atap, kita harus meluruskan beberapa hal dulu. Pertama," Luna segera mengangkat jarinya sambil melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak suka padamu dan aku harap kau biasakan hal itu. Kedua, aku tidak ingin menikah denganmu tapi aku tidak punya pilihan lain dan aku yakin kau pun sama seperti kau."
"Kau menginkan pria lain?" desak Lyn dengan nada berubah menjadi geraman tidak suka.
__ADS_1
"Ketiga," ucap Luna melanjutkan kalimatnya tanpa menjawab pertanyaan sanggahan dari Lyn tadi. "Bagiku caramu yang sok jantan dan juga berusaha terlihat mempesona itu tidak menarik. Maaf kau bukan tipeku!"
Tidak ada hal yang paling menghancurkan harga diri seorang pria ketika orang yang disukainya justru menghinanya hingga jatuh ke dasar bumi.