Angel Of Death

Angel Of Death
Hidup Bahagia Bersama mu


__ADS_3

Albert yang sudah setengah mabuk mulai menarik tubuh Luna secara paksa. Pria itu sudah menggila ingin mencumbu tubuh molek gadis itu. Dorongan minuman di klub serta obat yang diberikan Ben padanya, membuat pria tua bangka itu sudah diujung tanduk, butuh pelepasan saat ini juga.


Tubuh Luna bergetar, gemuruh di dadanya mewakili rasa takutnya. Sekali tadi, Luna sudah menolak, menghentakkan pergelangan tangannya dari cengkeraman Albert. Bekas memar di kulit putihnya menjadi saksi betapa tenaga pria itu sangat kuat.


Albert tidak mau tahu, kembali ditariknya tangan Luna, mengajak gadis itu ikut bersamanya, kembali ke kamar hotel yang memang bersebelahan dengan klub hotel.


“Anda sudah sangat mabuk, Om, aku gak mau melakukannya dengan pria mabuk,” rintih Luna memohon, dia juga sudah melirik ke arah Ben, memohon agar pria itu menolongnya, tapi lagi-lagi Ben hanya bersikap pasif.


“Diam, tutup mulutmu! Aku sudah membayarmu mahal. Kau harus jadi milikku malam ini. Sudah dua hari kau menolak menghangatkan ranjangku!”


Luna hanya menangis pasrah, tidak ada siapa pun yang bisa menolongnya. Kalau dalam keadaan mabuk seperti ini, dia yakin, Albert akan bersikap kasar padanya. Ini kali pertama buatnya, dia tidak ingin menjadi trauma.


Di saat genting ini, Luna meratapi hidupnya. Apa salah dan dosanya, hingga menjalani hidup senaas ini? Kalau untuk menderita, mengapa dia harus dilahirkan ke dunia ini?


“Ayo!” sentakan Albert semakin kasar, bahkan pria itu sudah menyeret Luna. Satu tangan Luna menggapai tangan Ben, memohon bantuan pria itu.


“Ben, tolong aku!” isak Luna mencoba menghentikan langkahnya, tapi sia-sia.


Pria itu bergeming, hanya memandangi Luna yang sudah diseret menjauh darinya. Satu wanita yang ada di dekatnya sudah menempel di depan tubuh Ben, membuat pandangan dan pikiran pria itu semakin jauh dari Luna.


Air mata terus saja keluar dari mata indah Luna. Menangis meratapi akhir hidupnya. Mereka sudah tiba di kamar pria itu, membuka paksa pintu kamar, dan langsung menarik Luna masuk ke dalam. Gadis itu sempat membuat perlawanan, menahan di depan pintu dengan satu tangan mencengkeram hendel pintu.


Namun, tenaga pria tentu saja lebih kuat darinya, terlebih Albert sudah mabuk dan juga memakai barang haram itu. Kesadarannya sudah hilang. Luna mengutuk keras perbuatan Ben. Kalau saja pria itu tidak mencari perhatian pada Albert, dengan menyuguhi morfin, yang tentu saja disambut Albert dengan gembira, tentu pria yang ada di hadapannya ini tidak akan seperti orang kesurupan!

__ADS_1


“Buka!” perintah pertama Albert pada Luna, meminta gadis itu melepas pakaiannya.


“Om, aku mohon, jangan begini.” Luna masih berharap ada keajaiban malam ini. Berharap pria itu jatuh tertidur hingga melupakan niatnya yang ingin menggagahi Luna.


“Tutup mulutmu! Aku bilang buka, atau aku akan memukulmu!” Luna sungguh takut akan ancaman Albert, tapi dia masih tidak sudi untuk mempertontonkan tubuhnya.


“Jadi kau mau menantang ku? Hah!?” tanpa aba-aba, Albert sudah mendekat, merobek pakaian Luna dengan satu sentakan.


“Lepaskan gaun itu, Luna. Kau lebih indah tanpa gaun itu” lanjut Albert menatap tajam pada Luna yang masih menahan gaunnya di dada agar tidak merosot jatuh. Namun, saat pria itu mengangkat tangan ini memukulnya, sembari mendengar pria itu menyalak padanya, membuat Luna ciut.


Perlahan Luna melepas gaun malamnya, kini jatuh di ujung kaki. Mata Albert terbelalak, dengan senyum menyeringai bak serigala kala melihat tubuh indah Luna yang hanya berbalut pakaian dalam senada.


“Berlutut!” hardiknya. Luna pun tidak punya pilihan lain. Air mata mengiring tubuhnya yang jatuh berlutut di lantai.


“Ayo, Lun,, hisap! Manjakan dia!” seru pria itu dengan sorot mata mengkilap dipenuhi napsu.


Luna masih bergeming, sungguh jijik melakukan itu. Kalau dulu dia membantu Ben dengan tangannya, pria tua itu meminta Luna menggunakan mulutnya.


“Ayo, jangan buat aku marah!” Albert sudah menjambak rambut Luna agar mulut wanita itu mendekat ke alat vitalnya.


Sekuat tenang, Luna masih berusaha menahan wajahnya agar tidak mendekati milik pria itu. Memejamkan mata, berharap mimpi buruk ini akan segera berakhir, dengan buang muka ke samping. Tepat saat itu, terdengar suara benda jatuh terjerembap ke lantai.


Bruk!

__ADS_1


Perlahan Luna membuka mata. Wajah Albert tepat ada di hadapannya, sudah tergeletak pingsan. Luna terpekik kaget atas apa yang terjadi pada Albert. Namun, seolah kehebohan belum cukup sampai di situ, Luna harus sport jantung kala melihat sosok pria yang menjulang tinggi di hadapannya. Keduanya saling adu pandang, bertemu dalam satu garis lurus.


Satu menit.. dua menit berlalu,


“Ka-u?” pekik Luna tertahan. Dia tadi memang berharap mimpi buruknya ini segera berakhir, tapi bertemu dengan pria ini, bukankah lebih buruk lagi? Horor!


“Bangun!” suara itu tegas, kasar dan tentu saja tidak bersahabat. Berbeda dengan nada suara yang Luna ingat, nada suara yang kerap kali memanggil namanya dalam mimpi selama satu tahun terakhir ini.


Tidak mengindahkan perkataannya, Kaisar menarik lengan Luna, memaksa gadis itu untuk bangkit. Matanya mengunci wajah gadis itu, mengamati wanita yang sudah lama dia nantikan untuk bertemu.


Setelah Tom memberi kabar kalau pesawat yang membawa Luna mendarat di Bali, Kai penuh dendam langsung meluncur ke sana. Dua hari memantau pergerakan Luna dan juga Albert. Tom sudah menawarkan ikut menemani, tapi Kai menolak. Dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri dengan mantan istrinya. Bukan, Luna Wijaya masih istrinya hingga saat ini!


“Kau tetap di sini. Jangan sampai siapa pun tahu aku pergi ke Bali menemui wanita itu, tidak juga Oma!” perintah Kai sebelum berangkat yang dimengerti oleh Tom.


Kai bahkan ada di Klub malam itu. Dia terus mengamati Luna bersama dua pria yang menemaninya. kai hanya bisa melihat jelas wajah Albert dan menduga, kalau Albert 'lah teman Luna selama ini di las Vegas.


Saat Kai pergi ke toilet, mereka masih ada di meja di sudut ruangan itu. Namun, saat kembali, Luna sudah menghilang beserta kedua pria itu.


Kai yang sudah mengetahui kamar Luna segera memeriksa. Namun, melihat tidak adanya cahaya dari dalam kamar, Kai menebak gadis itu tidak ada di sana. Bergegas Kai mendatangi kamar Albert, dan beruntung, pintu kamar itu terbuka, hingga Kai bisa masuk dengan leluasa.


“Sakit,” rintihnya jujur.


Pegangan Kai memang sangat kuat hingga membuat memar pada lengan Luna. Pria itu awalnya tidak berniat melepaskan pegangannya, tapi saat melihat mata indah itu mengeluarkan air mata, entah mengapa dia kalah. Dengan kasar menghempaskan lengan gadis itu.

__ADS_1


“Sakit katamu? Ini belum seberapa dari yang kau perbuat padaku, dasar pe*lacur!”


__ADS_2