
"Mulai sekarang namamu adalah Aluna star!" belum selesai rasa terkejut Luna akan kehadiran pria itu di hadapannya, kalimat pria menyeramkan dan bisa dikategorikan buruk rupa itu justru membuat wajada Luna pucat bak mayat yang rohnya lepas dari tubuhnya.
Namun, Luna yang pemberani tentu saja tidak terima atas kalimat dan lebih tepatnya perintah dari pria itu. "Namaku adalah Luna shining!" Serunya membantah dengan penuh tegas.
Yang tidak dia duga sebuah tamparan kini mendarat di pipinya, seperti yang tadi diterima oleh pelayan itu. Sontak Luna terperanjat, menatap tangan pria itu yang masih terayun di udara setelah melepas tamparan itu. Bahkan dia sempat mendengar salah satu pelayan yang ada di sana mengeluarkan suara teriakan tertahan karena tidak menyangka bahwa pria menyeramkan itu akan tega memukul Luna.
"Coba saja kau membantah! Aku akan membunuhmu! Kalian semua yang ada di sini juga harus bisa menyimpan rahasia bahwa gadis in, mulai detik ini bernama Aluna Star!" ulangnya menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu, lalu berakhir pada Luna yang saat itu sedang mengusap pipinya yang sakit sambil terdiam.
Tatapan Luna tentu memberontak dan hal itu membuat pria itu menjadi ketakutan. Bagaimana mungkin dia bisa membawa gadis itu ke hadapan raja, kalau belum bisa ditundukkan serta diberi perintah. Raja Mark tentu saja akan marah padanya, sama saja hal itu akan membuat tali untuk leher mereka ketika Lyn akhirnya mengetahui kebohongan mereka yang membawa pengantin gadungan pengganti calon istrinya yang sudah meninggal.
Tatapan itu kembali memprovokasi pria itu untuk melakukan tindakan otoriternya. Kembali tangannya terangkat dan akan melayang ke pipi Luna, kalau saja teriakan salah satu pelayan itu tidak keluar.
"Nona, kami mohon turuti saja apa maunya," ucap wanita yang merasa kasihan kepada Luna.
"Bagus! Sebaiknya kau nasehati dia. Kau tahu Apa akibatnya bagi gadis yang cukup bodoh tak menuruti kemauanku. Katakan padanya untuk mengikuti setiap apa yang aku perintahkan. Namanya saat ini adalah Aluna star! Jangan sekali-sekali mencoba membuka mulutnya dan mengungkapkan identitasnya terlebih di hadapan Raja Mark, apalagi pria brengsek itu!"
Namun sepertinya pria itu mengerti untuk menaklukkan Luna dia memerlukan tumbal. Saat itu dia kembali teringat kepada Matilda yang tadi sempat berteriak menghentikan tangannya untuk menampar Luna untuk kedua kali, jadi hal itu dilakukan Wolf untuk memancing Luna agar tunduk terhadap perintahnya.
Wolf menarik tangan Matilda, lalu memukul wajah gadis itu berkali-kali dengan penuh amarah. Sebenarnya amarah itu layak ditujukannya pada Luna namun, dia tidak tentu saja tidak berani melakukannya pada gadis itu, jadi memilih Matilda sebagai penggantinya, sekaligus contoh kepada Luna bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menentangnya.
__ADS_1
"Hentikan!" jerit Luna.
Melihat lawannya sudah menyerah, Wolf memanfaatkan keadaan ingin melihat seberapa taatnya Luna atas perintahnya. "Katakan siapa namamu?!" seru Wolf ingin mengetahui ketaatan Luna.
"Namaku, Aluna Star!" Serunya menegakkan tubuh di dalam bak mandi.
Tentu saja hal itu membuat seringai muncul di bibir Wolf. Dia menang, tugasnya sudah selesai pastinya Raja Mark akan menghadiahkannya banyak harta dan juga wanita.
Wolf kembali menyeringai saat melihat tubuh molek Luna yang berbayang dari bak mandi walaupun gadis itu sudah menyilangkan tangannya di dada.
"Sebenarnya kau tidak pantas untuk pria itu. Kau lebih pantas untuk menjadi milikku. Aku tidak rela dia mendapatkan sesuatu yang lebih sempurna. Kau jauh lebih molek dan lebih cantik dari Aluna Star," ucapnya dengan mata yang terus saja memperhatikan lekuk tubuh Luna.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Matilda yang mengabaikan rasa sakit di pipinya. Bahkan Luna tahu kalau pipi gadis itu masih berdenyut atas pukulan berulang kali yang dia terima dari Wolf.
"Aku baik. Terima kasih karena sudah membelaku tadi. Maafkan aku, karena diriku kau sudah mendapatkan hukuman dari pria gila itu. Katakan kepadaku, Matilda sebenarnya ini di mana dan mengapa aku bisa ada di sini?"
Luna masih menatap penampilan Matilda dan beserta dua pelayan lainnya yang tadi membantunya untuk mandi.
"Apa Anda tidak tahu dari mana asal mu?" tanya Matilda mengerutkan kening. Dia pikir Wolf mengambilnya dari suku bangsa lainnya yang bertetangga dengan mereka.
__ADS_1
Matilda adalah putri dari kepala pelayan di istana. Dia mengetahui tentang rencana Raja Mark yang juga disampaikan kepada ibunya. Namun, sang Ibu sudah memperingatkan Matilda untuk mengurus Luna dengan baik tanpa terlalu banyak bicara jadi tentu saja gadis itu sudah tahu bahwa Luna bukanlah Alun Star yang akan dinikahkan dengan Lyn.
Matilda tidak langsung menjawab pertanyaan Luna. Dia membantu gadis itu keluar dari bak mandi dan menyampirkan handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
"Jawab aku, Matilda, di mana aku?" Luna mau ulang pertanyaannya saat mendekati pelayan itu yang memang tidak berniat untuk menjelaskan keberadaan Luna saat ini.
"Anda berada di negeri OcalypsoDream, tempat para malaikat dan makhluk tidak biasa lainnya hidup," jawab Matilda akhirnya menjelaskan pada Luna.
Luna merasakan jantungnya berhenti berdetak. Apakah ia benar-benar sudah gila? Bagaimana mungkin dia bisa berada di negeri gaib seperti ini? Walaupun dia percaya akan mitologi dan juga hal magic lainnya atau bahkan dunia lain dari bumi tempatnya tinggal namun, tidak pernah terpikirkan oleh Luna bahwa dia bisa melintasi waktu berpindah dari tempat tinggalnya bersama manusia sejenis dengannya kini terlempar ke peradaban dan juga negeri makhluk yang bahkan manusia normal pun menganggap keberadaan mereka masih dipertanyakan.
Dia berusaha untuk menguatkan diri, menanyakan pertanyaan berikutnya. Pertanyaan itu mungkin akan menakutkan yang sejak awal ingin dia utarakan saat siuman di tempat itu. Ia menyadari bahwa terkadang lebih baik untuk tidak terlalu bertanya karena jawabannya bisa saja sangat menyakitkan.
"Apakah aku sudah mati?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja karena secara waras dia mengerti bahwa kematian lah yang bisa membawanya melintasi dimensi ke tempat tinggal para malaikat.
Dia percaya bahwa ada malaikat pencabut nyawa yang diutus untuk mengambil roh manusia dari tubuhnya dan kalau sampai dia berada di negeri ini artinya bisa saja dia sudah meninggal di dunia para manusia.
"Tentu saja Anda masih hidup. Anda punya fisik dan juga roh," terang Matilda mulai mengeringkan rambut Luna dengan kain lembut.
"Astaga ini tidak masuk akal!" Jeritnya dalam hati. Dia menarik napas dalam-dalam dengan pelan dan menyuruh dirinya sendiri untuk tidak mulai menjerit ketakutan dan histeris.
__ADS_1
"Lantas, mengapa mereka memintaku untuk menggantikan Aluna Star, Matilda? Apa yang terjadi dengan gadis itu?"