Angel Of Death

Angel Of Death
Negri Antah-berantah


__ADS_3

Insting Luna ternyata benar. Kegelisahan hatinya yang menduga bahwa ada orang lain yang sedang memantaunya ternyata benar. Di luar pintu rumahnya, seorang pria yang tidak beraga, lebih tepatnya sesosok makhluk yang tak mampu dideteksi alat canggih manapun di dunia manusia, mendekati tempat tinggal gadis itu. Dia mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Luna dengan tegas dan lantang.


Gadis itu yang mulai ketakutan kembali teringat kepada Albert. Sampai kapan dia harus hidup dalam ketakutan? Berapa lama lagi dia harus bersembunyi dari kejaran pria itu?


Dia sudah jauh dari Albert. "Ya, sudah aman," ucapnya sekali lagi. Dia harus meyakinkan hatinya akan hal itu tapi mengapa ia merasa rapuh. Selama beberapa hari terakhir, ia selalu merasa ada seseorang yang mengawasinya. Bagaimanapun kerasnya dia menguatkan hatinya dan meyakinkan diri bahwa orang-orang yang ingin menyakitinya sudah tidak ada, setidaknya mereka tidak tahu keberadaannya saat ini, tetap saja Luna masih dilanda rasa tak tenang yang aneh.


Perasaannya berkata akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi dalam hidupnya, terlebih lingkungan sekitarnya yang sangat tertutup dan juga orang-orang yang percaya karena hal gaib dan takhayul, membuatnya seolah merasa dihantui bahkan sempat terpikir bahwa Albert akan menyantetnya.


Luna menarik napas dalam, menghirup udara musim semi yang bertiup lembut melalui jendela di belakangnya, kemudian tersentak dan membalikkan badan secepat kilat. Ia menatap tirai yang berkibar-kibar seingatnya dia sudah menutup jendela itu. Dia sangat yakin akan hal itu, dia selalu waspada tidak mungkin ada orang yang datang, namun kenyataan bahwa jendela memang belum tertutup membuatnya segera berlari mendekati dan segera mengunci jendela itu.


Setelah mengecek semua dan memastikan pintu dan jendela sudah terkunci, Luna berlari menuju kamarnya. Semua ketakutan itu hanya perasaannya saja, tidak ada wajah yang mengintip dari luar jendela. Lagi pula tidak terdengar lolongan anak anjing dan alarm yang berbunyi yang artinya tidak ada orang yang mendekat dan yang perlu dikhawatirkan.


"Aku harus melupakan albert dan tidak akan pernah lagi menjalin hubungan dengan pria yang begitu tampan karena hanya akan mencelakai ku.. Sekali lagi aku bersumpah, tidak akan mau berhubungan lagi dengan pria yang tampan. Aku benci!"


Karena mendengar hal itulah, penyusup itu memutuskan untuk memilih Luna untuk dibawanya menghadap raja Mark.


***

__ADS_1


Luna sama sekali tidak tahu bagaimana ia bisa berpindah tempat dalam persekian detik. Yang dia ingat tadi dia masih berbaring di atas tempat tidurnya, kini tanah yang dia pijak lenyap dan dia seolah terbawa arus, tersedot ke dalam sebuah lubang kecil yang menjadi pemisah antara dunianya dan dunia antah berantah tempatnya kini berada.


Sebagai manusia yang punya akhlak dan sadar betul bahwa dia masih waras, Luna berpikir ini hanyalah sebuah mimpi. "Ini tidak nyata, aku pasti sedang bermimpi," gumamnya dengan nada yang menyelipkan rasa takut.


Namun, semakin diam menjelaskan kepada dirinya sendiri bahwa itu adalah mimpi, semuanya semakin tampak tidak masuk akal. Hal pertama yang menyadarkannya adalah tadi dia berbaring di ranjang. Dia sangat yakin saat itu dia sedang memeluk Marshmello, lalu setelahnya mungkin saja dia terjatuh dalam tidurnya.


Luna menatap sekelilingnya dengan penuh bimbang. Ruangan yang temaram dengan lukisan orang-orang yang berbusana aneh yang berbicara seperti bahasa yang dia kenal tapi, ini lebih versi dari orang zaman dulu.


"Sepertinya aku memang sudah menjadi gila ketakutanku terhadap Albert membuatku berhalusinasi," batinnya terus fokus memandangi sekitarnya.


Langkah itu semakin dekat keranjangnya, yang dihias dengan tirai yang begitu indah bak tempat tidur para dewi Yunani kuno yang pernah dia baca di buku mitologi Yunani.


"Nona, saya tahu Anda sudah bangun," ucap suara itu yang terdengar seperti seorang perempuan.


Merasakan dirinya tidak sedang dalam bahaya lagi, Luna membuka mata, terbuka lebar dan melihat seorang wanita pendek dengan rambut coklat dan pipi yang merah dia terlihat gugup saat beradu pandang dengan Luna, terbukti dengan *******-***** kedua tangannya sambil berdiri di ujung tempat tidur.


"Siapa kau?" Luna bertanya dengan lemas, tidak ingin melihat keseluruhan kamar lagi karena dia sekali lagi akan merasa seperti dalam sebuah mimpi yang tidak dia ciptakan.

__ADS_1


Terdengar gumam yang samar dari bibir wanita itu, tapi masih bisa ditangkap oleh Luna. Tampaknya gadis itu mendengus kesal karena pertanyaan Luna yang menanyakan perihal siapa dirinya. "Bukankah harusnya aku yang bertanya siapa dirinya yang tiba-tiba saja berada di kamar ini dan harus melayaninya?" ucap wanita itu.


Usai berkata begitu, wanita itu menaruh sepiring makanan yang tampak berbau aneh di atas meja terdekat dan memaksa Luna bangun dengan cara menempuh-numpuk bantal di belakang punggungnya seolah ingin merapikan ranjang dan kode itu meminta Luna segera bangkit dari sana.


"Namaku Marine, aku dikirim untuk mengurus Nona. Makanlah atau Anda tidak akan cukup kuat untuk menikahi dia ," ucapnya membuka tirai kamar belum mempersilahkan cahaya sang matahari menyewa masuk ke dalam kamar itu.


Bersamaan dengan itu dan setelah melihat sekeliling dinding batu yang dihiasi permadani warna-warni bergambar sekali lagi Luna pingsan tidak sadarkan diri setelah berhasil melihat keluar jendela kamar yang dibuka oleh pelayan itu. Sadarlah dia bahwa benar adanya saat ini dia tidak bermimpi dan dia jauh dari rumahnya.


Luna sadarkan diri lagi dan mendapati sekelompok pelayan wanita membawa pakaian dalam dan juga gaun pengantin yang sangat indah, walaupun bagi Luna itu masih terkesan sangat kuno desainnya. Namun, dia tidak menampik bahwa bahan dari kain itu begitu lembut, sutra asli yang mungkin di dunianya akan sangat mahal sekali harganya.


Para pelayan itu sudah memandikannya di dalam air wangi di depan tungku api yang sangat besar. Air itu juga sudah ditaburi kelopak bunga mawar yang begitu banyak sehingga aroma mawar menyeruak hampir ke seluruh ruangan. Luna mengamati setiap senti ruangan tempat ia berada.


Bagaimana mungkin sebuah mimpi bisa begitu jelas? Dia masih bisa mendengar para pelayan wanita itu berbincang sambil memandikannya.


Pengamatan Luna terpotong oleh suara dari pintu suara-suara terkesiap yang seketika membisu menari pandangannya ke arah pintu, Luna menebak bahwa para pelayan itu ketakutan ketika melihat sosok yang akan muncul dari balik pintu tersebut dan tepat seperti para pelayan itu, Luna juga menarik napas dan menahannya karena rasa terkejut yang juga dialami.


"Maaf tuan, ini bukan tempat Anda," ucap salah seorang wanita yang menghalau kedatangan pria buruk rupa yang mencoba untuk mendekati Luna. Namun, suara tamparan keras di pipi wanita itu membuat semua orang di ruangan itu seketika ketakutan dan menutup mulutnya tidak terkecuali dengan Luna.

__ADS_1


__ADS_2