Angel Of Death

Angel Of Death
Aku Pulang


__ADS_3

"Apakah penghangat ruangannya sudah cukup,Nona?" tanya Matilda kembali menghangatkan ruangan itu.


Sudah terima kasih kau boleh beristirahat Matilda jawab Luna yang kini sudah berada di atas ranjang berselimut dengan selimut tebal dan juga lembut.


Suara hujan di luar sana seolah mengajaknya untuk merajut mimpi namun, suara petir yang menggelegar tiba-tiba menciutkan nyalinya. Dia takut, tapi tidak mungkin dia meminta Matilda untuk tidur bersamanya di kamar itu. Jadi, dia memutuskan untuk memberanikan diri tidur di ruangan sebesar itu sendiri.


Sepertinya dia sudah terlalu lama terlelap, dan kini terbangun karena suara petir yang tiba-tiba menggelegar, membuatnya terbangun. Luna menggeliat, menyadari kalau tubuhnya ditimpa oleh tangan besar, dan merasakan kehangatan yang luar biasa tidak ada rasa dingin yang membuatnya meringkuk seperti tadi.


Luna mencoba membuka mata dia yakin bahwa rasa hangat itu disebabkan oleh sebuah pelukan tubuhnya saat ini sedang dipeluk oleh seseorang seketika jantungnya berhenti berdetak dia takut ada penyusup yang masuk ke dalam kamarnya dan mencoba untuk memperkosanya.


Namun, ketika mendongakkan wajahnya samar dengan lampu dan penerangan seadanya Luna melihat wajah Lyn yang saat itu sedang memejamkan matanya yang tengah memeluknya dengan erat.


Luna semakin berusaha untuk menarik diri memberikan jarak diantara mereka berdua agar dia bisa lebih mengamati wajah pria itu. Dia tidak ingin salah, merasakan kegembiraan yang meliputi hatinya namun, seketika dia terbangun dan Lyn tidak ada di sana menyadari bahwa itu hanyalah mimpi.


Tidak ingin merasakan hal itu, Luna pun mencoba untuk mengulurkan tangannya menyentuh wajah pria itu, merasakan bahwa kehadiran pria itu nyata adanya dan ketika melakukan itu dia mendapati bahwa itu adalah Lyn nyata bukan mimpi.


Pria itu seolah tahu sedang diamati, tapi tidak juga sedang bangun. Masih dengan mata terpejam dan mengeratkan pelukannya terhadap Luna.


Luna terbuai dengan pelukan yang begitu menenangkan. Dia pun kembali terlelap dalam tidurnya.


"Selamat pagi cantik kau sudah bangun?" sapa Lyn dengan suaranya yang begitu khas. Luna mengerjapkan matanya. Dia sedang tidak bermimpi, pria itu nyata, dan ada saat dia bangun pagi ini. Dia pikir tadi malam dia sedang menikmati mimpi indahnya.


Bergegas Luna bangkit, membulatkan bola matanya ingin memastikan sekali lagi.

__ADS_1


"Kau nyata? Kau ada di sini?" pekiknya.


Lyn tersenyum, mengangguk dan kembali menarik tangan gadis itu untuk kembali berbaring di pelukannya.


"Aku pulang, dan aku sangat merindukanmu. Aku ingin sepanjang hari ini kita hanya berpelukan di ranjang ini," bisik Lyn mencium puncak kepala gadis itu lalu meletakkan dagunya di puncak kepala gadis itu.


"Kapan kau pulang?" tanya Luna dengan pipi bersemu merah. Dia sangat gembira karena suaminya itu sudah pulang. Tiba-tiba Luna ingat kalau Lyn selama ini sudah ingkar janji, katanya akan pergi ke selama enam bulan, tapi ternyata jauh lebih lama lagi, dan baru kembali lagi saat ini.


"Ada apa?" tanya Lyn mengerutkan keningnya. Tadi gadis itu diam saja ketika dipeluk, lalu kenapa sekarang justru mengerucutkan bibirnya?


"Kenapa kau baru pulang sekarang? Bukan kah kau bilang hanya enam bulan?"


"Apa kau merindukanku?" Serang Luna.


"Aku minta maaf, tapi ternyata ada pengkhianat di antara kami, yang ditugaskan ingin menghabisi ku dan beberapa prajurit setiaku. Kami terperangkap untuk beberapa lamanya, dan setelah mendapatkan kesempatan, kami meloloskan diri, dan mulai menghabisi para pengkhianat itu, yang aku yakini adalah utusan Mark!"


Mendengar penjelasan itu tentu saja Luna terperanjat. Dia tidak menyangka kalau Lyn hampir saja terbunuh di medan perang, bukan karena musuh melainkan dari orang mereka sendiri, yang sudah dibeli untuk berkhianat.


"Kau... Apakah kau terluka?" tanya Luna mencoba menyelidik setiap jengkal kulit Lyn dengan matanya.


Lyn hanya tersenyum, lalu menggeleng. Setelahnya dia menarik gadis itu kembali, jatuh di atas tubuhnya. Lalu mendaratkan ciuman, menghi*sap bibir ranum gadis itu yang sangat dia rindukan.


Tadi malam begitu tiba, Luna bukan mencari ayah ibunya, langsung bergegas menuju kamar ingin melihat istrinya. Ketika melihat tubuh Luna meringkuk di atas ranjang mereka, senyum mengembang di bibir Lyn.

__ADS_1


Tidak ingin membuang waktu, Lyn bergegas masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya sebelum bergabung dengan Luna di atas ranjang. Keinginan untuk memeluk dan menciumi bibir gadis itu sudah sangat menggoda.


Setelah berada di samping Luna yang tidur dengan pulasnya, Lyn mendaratkan satu ciuman lembut di bibir gadis itu. Namun, karena dia melihat gadis itu merasa terganggu, akhirnya Lyn memutuskan berbaring di samping Luna dan menarik gadis itu merapat dalam dekapannya.


"Aku tidak terluka, dan aku tahu itu karena doamu. Sudahlah, gak usah bahas mengenai hal itu, yang terpenting aku sudah di sini, bersamamu, memeluk dan menciummu," jawab Lyn setelah melepas ciuman mereka.


Ciuman itu kembali berlanjut, kini Luna tidak ingin malu-malu, dia ikut serta berpartisipasi dalam ciuman itu. Dia membalas belaian lidah Lyn yang membelai lembut lidahnya. Mencercap merasakan rasa nikmat gadis itu. Era*ngan nikmat keluar dari bibir Luna, tidak kuasa menahan gejolak yang membelenggunya.


Dia terbakar dan anehnya dia justru semakin ingin dibakar oleh gairah yang saat ini dirasakannya.


Lyn sudah melucuti satu persatu pakaian Luna, gaun tidur satin itu dilempar ke sembarang tempat di dekat ranjang.


Seolah tidak ingin memberi waktu untuk Luna jika gadis itu ingin membatalkan cumbuan Lyn, pria itu sudah menjelajahi tubuh sintal gadis itu. Mulai mencium, menjilati leher serta tulang selangka gadis itu yang tampak menonjol.


Puas dengan tempat itu yang kini sudah banyak ditinggalkan bekas merah, Lyn meluncur ke tempat dua mainan kesukaannya. Mulai menyentuh, mere*mas dengan lembut hingga membuat Luna terpekik kaget. Tubuh gadis itu semakin terbakar kala pria itu memasukkan ujung dadanya ke dalam mulutnya. Membelai dengan lidah dan tepat saat Lyn menghi*sap, kembali tubuh Luna terbakar.


Lyn kini melabeli kedua puncak nikmat itu sebagai miliknya, membuat Luna beberapa kali tersentak oleh rasa nikmat. Napasnya yang terengah menandakan tenaganya terkuras.


"Lyn, aku... Aku..." bisiknya tertahan, sesuatu dari dalam tubuhnya seolah ingin keluar. Lyn tahu kalau gadis itu akan menemukan jalannya, dia sudah hampir sampai.


Lyn ingin memberikan yang terbaik bagi Luna, dia ingin wanita itu puas akan pelayanannya. Lyn menurunkan tangannya, ingin menyentuh milik Luna yang dia yakini sudah sangat basah, siap untuk menunggunya datang.


"Lyn..." kembali suara Luna sayup terdengar di telinga Lyn yang justru semakin membakar gairah pria itu. Lyn semakin mempercepat gerakan tangannya di bawah sana, dan bibirnya yang tidak hentinya menghisap bagian puncak yang tampak sudah sedikit mengeras akibat ulahnya.

__ADS_1


Seketika tubuh Luna bergetar hebat, dan dengan era*Ngan halus dia memanggil nama Lyn.


__ADS_2