
Hari ini, Lyn ingin sekali menghilang terhembus di bawah angin jauh dari negeri OcalypsoDream, bahkan kalau bisa tidak akan pernah kembali lagi.
Namun, kenyataannya itu hanya ada sebatas di angan saja. buktinya dia kini sudah bersiap dengan pakaian rapinya dibantu oleh dua pelayan untuk segera menghadiri pernikahan dengan Aluna Star.
Sementara di dalam kastil yang begitu tinggi, bangunannya masih terkesan sangat kuno dihiasi dengan ukiran dan juga pahatan patung para dewa dan orang-orang yang dipercaya memiliki berkat bagi negeri itu, Luna berdiri tegak di hadapan pendeta memenuhi perannya dalam sandiwara ini.
Tanpa memandang ke arah Luna, seorang pria sudah berdiri tepat di hadapannya. Dia merasa cuek tidak peduli dengan gadis itu, jelas sekali bahwa pernikahan itu sama sekali tidak dia inginkan namun, tidak punya pilihan lain selain menjalankannya.
Sementara di bangku jemaat lainnya, raja dan juga beberapa anggotanya menyambut gembira pernikahan itu, begitupun dengan Vanessa, ibu Lyn, yang pada awalnya tidak terlalu mendukung pernikahan ini. Namun, ketika melihat calon menantunya yang begitu cantik bersinar bak rembulan di malam hari membuat wanita itu begitu antusias menyambut kedatangan Luna menjadi anggota keluarga mereka.
Pendeta sudah memberikan instruksi agar keduanya saling berhadapan karena akan menerima pemberkatan pernikahan.
"Aku Aluna Star," ucap Luna dengan lantang, yang membawa semua mata orang yang ada dalam ruangan itu tertuju kepadanya. Bahkan pendeta itu pun memucat dan terlihat mencengkram kitabnya dengan sangat kuat sampai buku jarinya seolah akan mematah pada sampul buku itu.
"Ternyata dia tahu kalau aku bukanlah Aluna Star!" batin Luna menoleh ke arah sang pendeta. "Apa sesungguhnya yang terjadi di sini?"
Lalu dia memberanikan diri untuk menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya, yang dengan ogah-ogahan menengok ke arahnya juga. Luna menilai bahwa pria itu begitu tegap dan begitu tinggi bahkan ketika mereka berdiri berdampingan seperti ini tinggi Luna hanya sebatas ketiak pria itu.
Luna mengangkat wajahnya dan menatap wajah calon suaminya saat ia menyadari bahwa ia tidak sedang berlutut seperti dirinya. Terlihat jelas tidak ingin mengikuti instruksi dari pendeta. Dengan perasaan galau, Luna mendongakkan kepalanya dan berusaha menelan ribuan protes yang menggumpal di tenggorokannya. Dia tidak seharusnya berada di sini, mengapa dia menjadi tumbal dari rencana orang-orang jahat di negeri ini!
"Sungguh aku tidak bisa menikah dengan monster sepertinya!" jerit Luna di dalam hati.
__ADS_1
Pandangan Luna beralih dari wajah lelaki itu dan menyapu kepada hadirin di ruangan mencari seseorang yang bisa menyelamatkannya dari hal mengerikan ini. Namun, orang yang pertama ditemui adalah Wolf yang duduk di barisan paling depan sangat dekat dengan dirinya.
Tatapan mematikan dari Wolf tentu saja sebagai peringatan kepadanya bahwa dia tidak akan bisa lari kemanapun selain menjalankan apa yang sudah diperintahkan pria itu.
Luna mencoba untuk mengalihkan pandangannya kepada pria yang berada di sampingnya itu, menyeret tatapannya ke bagian tengah tubuh mempelai pria lalu ke atas dan ke arah wajahnya yang tampan.
Dipandangi intens seperti itu dari seorang gadis, pria itu tampaknya tidak senang dan juga merasa risih. Ia kembali melawan tatapan gadis itu, mengangkat sebelah alisnya sambil memandang dengan tatapan mematikan dan berhasil membuat Luna sedikit takut.
Luna terselamatkan dari tatapan mempelainya saat ia mendengar keributan yang terjadi dan bisa ditebak kegaduhan suara itu berasal dari Wolf yang tampaknya tidak terima atas kedatangan prajurit yang akan menyampaikan perintah dari seseorang yang tampaknya sudah mereka tunggu kehadirannya.
"Apa yang dia lakukan sudah menghina Raja Mark! Apa maksudnya tidak datang sendiri ke sini?" tanya Wolf dengan amarah yang tidak terbendung.
"Dia sudah menghina pernikahan ini dengan tak menghadirinya!" ucap Wolf kembali memprovokasi amarah Raja Mark yang sudah memerah wajahnya, ini benar-benar penghinaan yang dilakukan Lyn terhadap pemimpin negeri itu.
Sedikit banyak Luna sudah mengerti akan kegaduhan yang terjadi. Dia pun tidak kalah terkejutnya lalu menoleh ke arah pria yang ada di sampingnya. "Lantas, kau siapa?" tanya Luna membulatkan mata.
"Mate Lunox, kepala pengawal Lyn. Aku diberi kuasa untuk datang menikahi mu!"
"Omong kosong beraninya ia tidak datang sendiri menghadap ku!" umpat Raja Mark.
Wajah Luna berubah berseri ketika menyadari bahwa orang yang ada di sampingnya bukanlah calon suaminya dan dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan itu bibirnya menyunggingkan senyum. Setidaknya dia bisa mengulur waktu untuk mencari cara membatalkan pernikahan itu.
__ADS_1
"Apakah aku seburuk itu?" tanya Mate dengan senyum mengejek ketika memergoki rasa lega yang dipancarkan wajah Luna.
"Kau ingin tahu aku hampir saja menikahi seekor kuda liar!" jawab Luna enteng.
Bukan marah atas jawaban Luna, justru membuat pria itu tertawa dan hal itu menular pada Luna hingga membuatnya tersenyum.
"Kalau begitu kau tidak beruntung, Nona, karena Lyn sama sekali tidak seperti kuda tapi jika aku yang berada di sampingnya aku akan terlihat seperti kuda, bukan maksudku seperti tuyul atau lebih parah seperti kadal yang begitu kecil," jawabnya tergelitik.
"Lalu ke mana dia calon suamiku yang begitu tampak sempurna itu?" kembali Luna bertanya dengan kalimat sarkas yang kembali berhasil membuat Mate tertawa.
Raja memutuskan untuk menunda pernikahan itu. Bagaimanapun pernikahan yang sudah ditetapkan oleh leluhur mereka harus tetap terjadi. Ini semua demi kebaikan dua negeri, mau tidak mau mereka harus sabar menunggu kedatangan sang calon mempelai pria.
Luna dilingkupi perasaan terdesak, gelisah dan juga tersiksa. Bagaimanapun dia sangat enggan untuk melanjutkan pernikahan itu, walau pun sebisa mungkin dia mengulur waktu agar pernikahan itu tidak terjadi tapi pada akhirnya dia harus menerima takdirnya, tetap menikah dengan pria yang dilukiskan seperti monster.
Dia sungguh tidak sabar karena menunggu pria yang akan menikahinya. Seperti bom Waktu yang membuat jantungnya terus berdetak tidak normal. Kalaupun harus terjadi, biarlah terjadi. Sekarang dia akan siap menghadapinya saat ini juga, karena dengan menunggu membuatnya segalanya lebih terasa buruk.
Di negeri itu, menikah tanpa adanya mempelai pria sudah lumrah, tetap dianggap sah hanya dengan diwakilkan oleh benda milik pria itu untuk diberkati bersama pendeta. Jadi, ada tidak adanya Lyn di sampingnya, Luna masih bisa meneruskan acara pernikahan itu.
Namun, teriakan dan juga kegaduhan yang ditimbulkan Wolf yang mencoba mencari cara agar Raja bisa menjatuhi hukuman kepada Lyn dihadapan semua orang yang dianggap sebagai pemberontak membuat Luna bergerak maju ke arah Wolf dan berbisik kepadanya agar melanjutkan pernikahan itu.
"Lanjutkan saja pernikahan ini, walaupun dia tidak ada. Memangnya kenapa kalau dia tidak datang? Aku tidak peduli sama sekali. Bukankah yang terpenting bahwa kami sudah disahkan menjadi suami istri?
__ADS_1