
“Selamat pagi, bagaimana pertarungan semalam, siapa yang menang?” Sambut Jean menyambut keduanya diambang tangga. Tersenyum menggoda, saat melihat menuruni anak tangga dengan jemari saling bertaut.
“Oma, berhenti menggoda, Luna,” ujar Kai menarik tangan gadis itu agar lebih mendekat padanya.
Seusai sarapan, Luna memberangkatkan Kai hingga ke pintu mobil. Tidak lupa suaminya mengecup keningnya penuh sayang. “Baik-baik di rumah, aku akan cepat pulang,” ujar Kai masuk ke dalam mobil. Hingga mobil keluar gerbang, Kai masih memperhatikan Luna yang masih berdiri di tempatnya, menatap mobilnya hingga menghilang di persimpangan rumah.
“Lun, pukul 11 temani Oma, ikut arisan bersama teman-teman Oma, ya,” pinta Jean saat Luna berniat baik ke kamarnya.
“Iya, Oma”
***
Arisan yang dimaksud Jean, adalah berkumpul dengan beberapa wanita berpakaian modis, penuh perhiasan di tubuh mereka dan mulai mengumbar segala kekayaan yang mereka miliki.
“Siapa dia?” tanya seseorang di antara mereka, menunjuk pada Luna dengan penuh rasa ingin tahu.
“Kenalkan, ini adalah mantuku, istrinya Kaisar, cucuku,” sahut Jean penuh bangga. Melihat tatapan semua orang di sana, merasa takjub melihat kecantikan Luna. Dia tampil bak putri, cantik dan anggun sekali dengan barang-barang yang dibelikan Jean buatnya kemarin.
Namun, ternyata tidak semua wanita yang hadir di sana ikut senang akan pernikahan Kai. Seorang wanita bernama Siska terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Luna.
“Wah, gak jadi nih, besanan dengan keluarga Tortura,” goda mbak Meli tersenyum mengejek.
“Iya juga ya. Padahal putri jeng Siska sudah ngebet banget sama Kai,” sambar yang lain, disambut gelak tawa dari wanita yang lain. Wajah jeng Siska semakin merah padam menahan malu sekaligus emosi yang tertahan.
“Sudah, dong. Jangan digodai lagi jeng Siska nya. Siapa pun yang dipilih Kai, yang penting bisa membuat cucuku bahagia,” tukas Jean.
Ucapan Jean menutup kicauan para anggota arisan. Semuanya kembali fokus pada arisan dan berbagai ulasan seputar dunia showbiz mereka. Namun, sesekali tanpa sengaja saat Luna menoleh ke arah jeng Siska, wanita itu tengah menatapnya, menyelidik lewat penampilan Luna.
Rangkaian acara itu berupa makan siang bersama, dengan menu yang super mewah dan pastinya asing bagi Luna.
__ADS_1
“Maaf, Bu Jean. Kai kenal Luna dimana? Setahu saya, tidak ada gadis yang secara resmi diberitakan dekat dengan Kai'kan?” tampaknya jeng Siska belum puas akan berita pernikahan Kai. Ada sesuatu yang janggal menurutnya.
Bagaimana tidak, keluarga terpandang, salah satu orang terkaya di negeri ini, menikah diam-diam, tanpa ada undangan dan juga perhelatan akbar.
“Oh, Luna ini adalah cucu dari sahabat suamiku. Bisa di bilang, mereka memang sejak kecil sudah dijodohkan, hanya saja aku yang lupa, hingga perlu membuat kencan buta untuk Kai selama ini,” terang Jean penuh sabar. Dia tahu, rasa penasaran para sahabatnya ini lebih buas dari pada predator.
“Oh, begitu,” sahut jeng Siska mangut-mangut. Pantas saja, tidak ada berita kedekatan Kai dan Luna yang mencuat.
“Kenapa, jeng? Belum bisa terima?” celetuk Meli. Entah punya masalah apa di antara kedua wanita itu, pastinya mereka saat ini punya masalah pribadi, hingga ingin saling menjatuhkan.
“Eh, tapi kenapa tidak ada pesta, Bu Jean?” kali ini wanita bertubuh lebih berisi dari yang lain angkat bicara.
“Menantu keluarga Tortura ini sangat sederhana, dia meminta acara pernikahan dilangsungkan secara tertutup, sederhana agar terasa lebih sakral,” ujarnya membelai rambut panjang Luna.
“Dari tadi, kita semua dengar Bu Jean yang jawab, kita juga ingin dengar dong suara menantu keluarga Tortura,” celetuk Meli.
“Ayo, Luna perkenalkan dirimu, “ pinta Jean menepuk punggung tangan gadis itu. Sekilas ditatapnya wajah Jean, mencari kepastian, apa dia benar-benar harus melakukan hal itu, dan saat melihat kepala wanita itu mengangguk, Luna tahu, keberaniannya diperlukan saat ini.
“Terima kasih sudah menerima saya ikut dalam acara arisan ini. Perkenalkan, nama saya Luna Wijaya Tortura. Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan tante semuanya,” ucapnya dengan ketenangan yang dibuat-buat.
Usahanya tidak sia-sia. Sikap ramah dan tidak ada rasa sombong karena sudah menjadi keluarga Tortura membuat hampir semua wanita di sana menerima kehadirannya.
Acara terus berlanjut hingga pukul empat sore. Janji Jean yang hanya tiga jam, kini akan masuk ke-angka lima, dan masih belum selesai.
Getaran ponsel dalam tas tangannya terasa. Buru-buru diliriknya di bawah meja. Pesan dari Ben.
[Ada apa dengan mu? Kenapa tidak mengangkat teleponku? Apa semua baik-baik saja? Di mana kau?]
Luna melirik kiri kanan sebelum membalas pesan itu.
__ADS_1
[Saat ini aku sedang bersama Oma, disalah satu hotel besar. Nanti aku kabari.]
Wajar kalau Ben panik, lebih 20 kali panggil tidak terjawab dari pria itu. Lalu matanya juga terbelalak melihat panggilan lainnya yang tidak kalah banyak. 25 panggilan dari Kai, dan ada tiga pesan.
[Kau sudah makan? Kau sedang apa? Aku merindukanmu, sangat.]
[Kenapa kau tidak menjawab teleponku? Apa kau baik-baik saja?]
[Jawab aku, Sayang, jangan membuat ku panik. Kau ada di mana? Aku telepon ke rumah, mereka bilang kau sedang keluar dengan Oma. Kirim lokasimu, Lun.]
Baru akan membalas pesan itu, kembali ponsel Luna bergetar. My Husband tertulis pada layar. Seingatnya dia tidak menyimpan nomor Kai dengan nama itu. Dia bahkan tidak ingat siapa nama pria itu dalam kontaknya.
Dalam ponselnya memang hanya ada beberapa nomor keluarga Tortura. Untuk menjaga keamanan rahasianya, Luna memang tidak menyimpan nomor Ben di sana. Bahkan setiap mereka melakukan panggilan, Luna akan segera menghapus riwayat panggilan pada ponselnya, pun dengan pesan masuk dan keluar.
“Oma, aku permisi angkat telepon dari Kai,” bisiknya menunjukkan layar ponselnya.
“Di sini saja'lah, Lun. Kita juga ingin tahu, semesra apa sih pengantin baru kita ini."
Melihat semua mata tertuju padanya seolah menyetujui ucapan jeng Siska, akhirnya Lun menjawab di depan mereka.
“Halo, Kai,” ucapnya setelah berdehem, membersihkan tenggorokannya.
“Sepiker in, kita mau dengar,” timpal Meli antusias, disambut anggukan dari ibu-ibu yang lain. Ragu-ragu Luna terpaksa mengikuti kemauan mereka.
Luna menekan tombol pada layar ponselnya dan meletakkan di atas meja.
“Halo, Sayang. Thanks God, akhirnya kau mengangkat teleponmu. Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku. Kau di mana?” Kai terus saja nyerocos di seberang sana.
Melihat senyum di wajah para anggota arisan itu, membuat Luna serba salah mau jawab apa. Ada malu dan juga enggan mengganjal di tenggorokannya.
__ADS_1