Angel Of Death

Angel Of Death
Serangan


__ADS_3

Emerald yang baru saja melakukan perjalanan cukup jauh dan lama ke negeri lain, tidak percaya ketika kembali dan mendengar bahwa Lyn sudah menikah.


Kabar Itu dia dapatkan dari teman-temannya yang seolah menyampaikan padanya dengan olokan.


"Tidak mungkin kau tidak mengetahuinya. Kami pikir kau justru tidak ingin pulang ke tempat ini karena patah hati setelah mengetahui bahwa pria yang paling kau cintai kini sudah menikah dengan wanita lain. Bahkan dia lebih memilih menikahi wanita gila ketimbang dirimu," ucap Ruby sang adik ketika tiba di tempat mereka dan Emerald mencoba untuk mencari tahu kebenaran yang diucapkan teman-temannya itu.


"Dasar bodoh! Mana mungkin aku akan menanyakan hal itu, dengan kemarahan seperti ini, kalau dari awal sudah mengetahui tentang pernikahannya!" Jawabnya ketus ingin sekali dia melampiaskan amarahnya kepada ruby


Ini semua salah ayah dan ibunya yang mengajaknya pergi ke negeri Utara tempat keluarga mereka mengadakan acara pertunangan anak dari bibinya. Emerald sudah menolak dan meminta agar lebih saja yang ikut dengan kedua orang tuanya namun, Ruby yang menggunakan alasan sedang tidak enak badan akhirnya lolos dan suka tidak suka harus pergi bersama kedua orang tuanya.


Dan kini setelah melihat sendiri istri dari kekasihnya itu, amarahnya semakin meledak ia akan menyingkirkan sang musuh dan mengakhiri deritanya. Memonyongkan bibirnya ketika bersiap melepas sebuah senjata negri itu yang amunisinya mirip anak panah kecil, yang sudah diarahkannya kepada Luna yang masih berbicara dengan Vanessa


Dia menarik napas panjang dan mulai meniupkan alat itu sehingga sebuah anak panah yang kecil tertembak keluar dari ujung benda yang berbentuk tabung dan melesat menuju Luna.


Emerald tersenyum, saat anak panah itu terbang dan membenamkan dirinya di leher Luna yang berwarna putih pucat. Karena anak panah itu sangat kecil seukuran lebah, maka Luna tidak sadar akan bahaya yang mengancam. Rasa sakit yang tiba-tiba datang seolah hanya gigitan nyamuk yang dia rasakan pada awalnya.


Dia tersenyum puas melihat Luna menepuk luka kecil di lehernya itu seolah mengusir serangga.

__ADS_1


Emerald memicingkan matanya dia bisa melihat pada lawannya, anak panah itu di leher Luna saat ia berbicara kepada Vanessa dan setelahnya dengan senyum mengembang dia meninggalkan tempat itu merasa bahwa misinya sudah berhasil.


Vanessa memperhatikan gerakan Luna yang sejak tadi menepuk lehernya yang terasa gatal, seakan mendapatkan sengatan gigitan dari serangga . "Apakah ada nyamuk siang begini?" gumamnya mulai menggaruk lehernya yang gatal.


"Di sini memang banyak nyamuk, itulah mengapa kita memasang kelambu, dan meletakkan daun mint di tempat tidur selama musim ini. Sedikit daun mint sepertinya mampu mengusir mereka. Aku akan membawa beberapa lembar di kantongku, tidak akan pernah lupa membawa satu atau dua helai di gaun tidurku," ucap Vanessa menjelaskan kepada menantunya cara bertahan dari serangan nyamuk berbahaya.


Lalu bergegas mengambil beberapa helai lain yang dia bawa dan memberikannya kepada Luna.


"Ibu, bolehkah aku bertanya?" tanya Luna menimbang. Apakah dia pantas untuk menanyakan hal itu namun, dia perlu tahu agar bisa menerka apa tujuan wolf memintanya untuk menikah dengan Luna. Walaupun dia tidak menyukai pria itu tapi dia juga tidak ingin menjadi racun yang bisa menghancurkan pria itu, dijadikan alat dan penyambung tangan untuk menghabisi Lyn.


"Katakanlah," jawabannya dengan senyum lembut penuh keibuannya


"Sebenarnya, mengapa aku dan Lyn harus menikah? Apakah dia memang tidak bisa menolak pernikahan ini?" tanya Luna akhirnya membuka unek-uneknya.


"Aku pikir kau sudah tahu mengenai rencana perjodohan kalian itu dan alasan yang disertakan oleh kedua raja itu. Dulu leluhur kami begitu sangat perkasa, seorang sosok pahlawan yang mampu menyatukan beberapa negeri di bawah kepemimpinan raja Auriga. Namun, ketika Raja itu sudah melenyapkan kekasih hatinya untuk selamanya, Deathlyn berbalik untuk melawan Raja Auriga bersama-sama dengan raja itu. Melenyapkan hidupnya lalu generasi berikutnya membuat pertikaian dan juga bersumpah tidak akan tunduk kepada raja yang menjadi keturunan Auriga." Vanness diam sesaat, menarik napas sebelum melanjutkan ceritanya.


"Raja terakhir yang memang lebih pengecut dari semua raja pernah memimpin di OcalypsoDream. Begitu ketakutan bahwa keluarga Goldmark akan membalaskan dendam atas kematian Deathlyn Eagle, sehingga membuat satu perjanjian dengan keluarga kami pada keturunan laki-laki berikutnya akan dijodohkan dengan putri bangsawan yang menjadi pilihan Raja itu sendiri dengan alasan sebagai pemersatu kerajaan itu dengan kerajaan OcalypsoDream."

__ADS_1


Luna pun akhirnya mengerti kini alasan mengapa mereka harus menikah. Hanya saja mengapa dia harus menggantikan Aluna Star dan kemana gadis itu masih belum terpecahkan, tapi tentu saja dia tidak mungkin mengatakannya kepada Vanessa hal itu, sama saja dengan membuka rahasianya sendiri dan nyawanya sebagai taruhan.


Luna kembali mengusap lehernya dan mengerjapkan matanya kuat-kuat. Setelah lama berbicara dengan ibu mertuanya, dan seolah tenaga yang terkuras habis kelelahan, pandangannya mengabur serta rasa sakit di kepalanya yang tiba-tiba saja menghantam.


"Aku sangat gembira bahwa kaulah gadis yang dinikahkan dengan putraku. Firasatku mengatakan bahwa kebahagiaan Lyn hanya berada bersamamu dan Ibu berharap kau pun akan mau berusaha untuk membuka hatimu dan mencoba hubungan yang baru dengan Lyn. Apapun yang kau dengar hal buruk tentang anakku, percayalah setelah bersama denganmu baru aku melihat ada kilatan cinta yang diberikan Lyn kepada seorang gadis, yang sebelumnya tidak pernah memberikan tatapan memuja seperti kepadamu," ucapannya tersenyum puas, mengakhiri rasa senangnya karena memiliki menantu secantik dan sepintar Luna.


Wajah Luna memerah. Senang, tapi temperatur panas itu membuat kepalanya semakin sakit. Dia hanya bisa mendengarkan sembari sesekali tersenyum setiap Vanessa memberikan topik baru untuk mereka bahas karena Luna sama sekali tidak bisa memasukkannya ke dalam kepalanya lagi.


Sakit itu semakin membakar tubuhnya dia sendiri tidak tahu mengapa tiba-tiba saja dia merasa tidak enak badan, padahal tadi pagi dia sangat sehat.


Kembali Luna mengerjapkan pandangan matanya yang mengabur. Perutnya juga sakit dan mulutnya mulai kering ia mencoba menelan namun terasa sangat sakit.


"Luna, ada apa denganmu, Sayang? Mengapa ibu lihat wajahmu berubah jadi pucat? Apa kau sakit?" tanya Vanessa yang memegang kening serta memeriksa leher dan juga suhu tubuh Luna.


"Astaga badanmu panas sekali," pekik Vanessa yang berubah menjadi panik.


"Ibu kepalaku sangat sakit dan mengapa tiba-tiba aku bisa menggigil seperti ini?" ucapnya tertatih hampir tidak bisa mengeluarkan suara lagi.

__ADS_1


Namun, keadaan semakin memburuk, pandangannya mengabur dan dia masih bisa mendengar Vanessa memanggil namun, lama-kelamaan telinganya seolah tertutup dengan suara teriakan wanita itu yang mencoba memanggil namanya dan seketika itu, tubuh Luna pun ambruk jatuh ke lantai tepat saat Vanessa berteriak memanggil nama Lyn.


__ADS_2