
Mata Luna semakin membelalak kala mendengar Lyn bicara, yang membahas mengenai rencananya ingin memiliki anak bersama Luna dan hal itu tentu saja mengguncang nalar dan juga perasaan Luna, seolah pria itu memang menginginkannya.
Dia mengumpulkan kewarasan yang masih tersisa dan mencari senjata yang paling efektif untuk menjauhkan dirinya dari pria itu. Tampaknya Lyn akan tetap berusaha untuk mendekatinya sebelum Luna berhasil mematahkan perasaan pria itu.
Luna berpikir mungkin ego yang besar dan juga harga diri ke laki-lakinya bisa dia sentil, hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk membenci Luna.
"Terserah kamu berkata apa, aku hanya akan memikirkan Scott saja," jawabnya dengan cuek, mengalihkan pandangan pada objek lain, seolah pembicaraan itu sangat membosankan. Padahal di hatinya, dia juga merasa jijik ketika harus menyeret nama Scott di dalam pembicaraan mereka.
"Jadi begitu, kau akan tetap akan memikirkan pria lain walaupun kau sudah menikah denganku?" tantang Lyn. Pria itu mengusap rahangnya, seakan tidak percaya dengan kata yang baru dia dengar. Sambil memandangi kecantikan yang ada di depan matanya, tubuh wanita itu separuh terbalut kain transparan, dengan rambut yang berkilau keemasan jatuh di sekeliling wajah cantik yang belum pernah dia lihat.
Wajahnya berbentuk hati, rahangnya mulus tapi kuat, bibirnya penuh dan berwarna seperti buah ceri yang menggoda serta mata indahnya berwarna hijau.
Wanita ini adalah gairah yang bisa bernapas dan ia sendiri tampaknya tak menyadari betapa cantiknya dirinya atau ia memang tidak peduli sama sekali dengan pesona yang bisa ditimbulkan pada pria lain.
Seketika Lyn mencengkram begitu kuat, matanya memicing menatap wanita berkulit halus dan berbau indah yang ada di hadapannya ini. Begitu banyak wanita yang pernah ditiduri tapi tidak ada semenarik yang satu ini. Pinggangnya yang begitu ramping dan pinggul yang yang sempurna membuat hasrat Lyn terus membara.
Lyn bukanlah orang yang percaya mengenai magic yang belum pernah dia lihat namun, dia tiba-tiba teringat dengan ucapan Mate perihal permintaan ketika bintang jatuh beberapa saat lalu. Dia mencoba mengingat apa yang sahabatnya itu katakan.
Mate memohon agar Lyn menemui seorang wanita dengan akal dan kebijaksanaan. Seorang wanita yang sangat cerdas, cantik dan memukau banyak orang namun, sulit untuk ditaklukkannya sebagai hukuman padanya karena sudah banyak merayu gadis.
"Apa kau bisa berhitung?" tanya Lyn yang sepertinya sudah terpengaruh dengan perkataan Mate kala itu.
"Berhitung? Aku seorang sarjana dan nilaiku lebih dari cukup untuk mengajarkan banyak orang tentang berhitung," jawab Luna merasa tergelitik. Dia bingung dengan pertanyaan yang diajukan pria itu. Apa hubungannya dengan pertengkaran mereka saat ini?
__ADS_1
"Kau bisa menulis dan membaca?" kembali Lyn mempertanyakan hal konyol.
"Aku bisa menguasai tiga bahasa dengan sempurna dan entah mengapa sepertinya aku mengerti dengan bahasa kalian," sahut Luna dengan tegas.
Lyn terdiam sesaat. Dua pertanyaan itu akhirnya terjawab dan itu membuat Lyn semakin yakin bahwa permintaan yang disampaikan Mate saat bintang jatuh itu sudah terkabul.
Lyn tidak bisa menyangkal akan hal itu lagi. Wanita ini seperti Dewi Venus yang jatuh ke negeri mereka. Pria itu punya firasat bahwa dunianya tidak akan pernah sama lagi.
"Aku menginginkanmu!" ucap Lyn dengan suara serak. "Aku akan bercinta dan memberimu sensasi yang belum pernah kau rasakan di belahan galaksi manapun. Aku akan membawamu melampaui surga, membuatmu tidak ingin kembali menginjakkan kaki mu ke tanah!" ucap Lyn yang matanya sudah terbakar kabut asmara. Jadi, maukah kau ku bawa ke sana?" tanya Lyn mempertegas, walau entah mengapa hatinya sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan Luna.
"Tidak, terima kasih!"
***
Mate sama sekali tidak menjawab apapun. Hanya tawa yang sedari tadi terdengar pecah di sekeliling mereka. Dia bisa melihat bagaimana stresnya sahabatnya itu menghadapi istrinya.
Sementara di kamarnya, Luna duduk dalam gelap di ujung tempat tidurnya untuk waktu yang cukup lama setelah Lyn. Masih sempat terdengar olehnya, mendengar teriakan Lyn yang membahana seolah tingginya bisa menyentuh bulan.
"Kau adalah kutukan bagiku!" umpat suaminya ketika sesaat sebelum pergi dari sana.
Luna hanya tertarik dengan pemikiran bagaimana dia bisa masuk ke negeri ini dan berharap dia bisa pulang segera. Namun, tidak satupun jalan yang bisa ditemukan.
Tidak mungkin dia mencari Wolf untuk menanyakan bagaimana dia bisa kembali ke dunianya karena itu pasti mustahil. Pria gila itu tidak akan membiarkan dirinya pergi walaupun Luna sudah memenuhi permintaannya untuk menikah dengan Lyn.
__ADS_1
Bosan dengan keadaan dirinya yang sendiri di kamar, Luna memutuskan untuk berjalan mengelilingi istana keluarga Goldmark.
Seorang pelayan menyapanya, yang ternyata berniat untuk memanggilnya.
"Nyonya besar meminta Anda untuk menemuinya," ucap Carlota, pelayan pribadinya.
Luna hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah pelayan itu menuju tempat mertuanya. Selama tinggal di istana itu, dia baru tiga kali berbicara dengan mertuanya. Pertama kala penyambutan kedatangannya, lalu kedua untuk membawanya pada tukang jahit yang akan membuatkan pakaian untuknya, dan ketiga pada jamuan kebesaran saat keluarga besar Goldmark berkunjung.
"Apakah ibu mengatakan untuk apa dia memanggilku?" tanya Luna kepada Carlota. Pelayan pribadinya itu sedikit angkuh, dan seperti tidak tulus melayaninya. Dia benar-benar merindukan Matilda, entah bagaimana kabar wanita itu saat ini.
"Aku tidak tahu Nona. Sebaiknya Anda menanyakan langsung kepada beliau," jawabnya ketus. Ingin sekali Luna menarik rambut panjang yang disanggul rapi itu agar gadis itu tahu menempatkan diri di hadapan Luna.
Entah apa salahnya, sepertinya selama di sini dia tidak pernah menyinggung siapapun. Kalaupun gadis itu tidak menyukainya dengan alasan yang dia tidak mengerti, seharusnya dia sadar bahwa bagaimanapun orang yang tidak dia sukai ini adalah majikannya.
"Akhirnya kau datang. Kemarilah," ucapan Vanessa menepuk tempat di sebelahnya. Wanita itu tetap saja cantik, seperti terakhir kali Luna lihat. Cantik dan anggun, hanya saja sepertinya wanita itu tidak memiliki kesehatan yang baik sehingga lebih banyak beristirahat di kamarnya.
"Ibu memanggilku? Bagaimana keadaan ibu? Wajah Ibu begitu pucat," tanya Luna dengan tulus. Hanya wanita itu yang menganggapnya manusia di tempat ini, memperlakukannya selayaknya seorang putri.
Kalaupun pernikahan ini bukanlah pernikahan yang diinginkannya namun, memiliki mertua seperti Vanessa adalah impiannya.
"Ibu baik," jawabnya mengukir senyum. "Aku ingin bicara secara pribadi dengan mu." Lanjutnya memberikan kode kepada para pelayan untuk meninggalkan mereka berdua. semua sudah berlalu hanya tinggal Carlota yang tetap berdiri di tempatnya.
"Kau bisa meninggalkan nona-mu untuk sesaat bersamaku. Tunggulah di luar bersama pelayan lainnya," ucap Vanessa yang membuat Carlota tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah dari nyonya besarnya.
__ADS_1
"Aku mendengar gunjingan para pelayan, terlebih yang bertugas di sekitar kamar kalian. Mereka bergunjing, mengenai hubungan kalian yang tampaknya tidak baik. Apakah kau sama sekali tidak bisa menerima Lyn sebagai suamimu? Apakah kau sangat menyesal menikah dengan putraku?"