
Bagaimana mungkin bila tatapan mata seseorang lelaki bisa berubah secepat kilat, dari lembut dan penuh kasih, berubah menjadi dari panas, penuh amarah. Wajah Lyn begitu merah menahan amarah kala mendengar jawaban menyakitkan dari Luna.
"Sekali lagi kau menyebut nama itu, aku akan mencekik lehermu dengan tanganku sendiri dan percayalah aku tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kemudian!" cercal nya dengan wajah serius.
Luna memejamkan mata, dia menyadari bahwa dia salah tapi dia harus membentengi dirinya untuk bisa bertahan.
Lyn akhirnya pergi meninggalkannya dengan luka yang mendalam yang ditorehkan istrinya hari itu. Luna hanya bisa menatap kepergian suaminya memandangi punggung tegak yang sempat disentuhnya tadi, kini sudah semakin menjauh.
Luna memutuskan untuk mengubur dirinya di dalam bak mandi menghabiskan waktu 30 menit untuk mandi air panas yang uapnya membentuk kepulan, lalu meneteskan sabun alami serta ekstrak bunga mawar yang sangat menenangkan pikirannya.
"Apa tadi aku terlalu kejam?" Batinnya seolah rasa bersalah dalam hati tidak mau pergi terus mengikuti hingga membuatnya kesal pada dirinya sendiri.
Akhirnya setelah tubuhnya rileks, Luna memutuskan untuk keluar dari bak mandi, melakukan semuanya sendiri tidak seperti dalam dongeng dan film yang dia tonton di mana ratu akan dilayani oleh beberapa pelayan.
Memikirkan Matilda mungkin menjadi salah satu cara untuk mengajak dan berbicara Lyn. Luna tidak bisa memungkiri bahwa dirinya begitu khawatir dan rasa bersalah itu terus saja menusuk hatinya. Tidak bisa menunda lagi, dia ingin berbicara dengan Lyn.
Entah mengapa sejak perbincangan ringan di antara mereka saat sarapan membuat Luna sedikit bisa menilai sisi positif dari pria itu.
Setelah mandi, sorenya dia berencana untuk mencari Vanessa mengajaknya mengobrol dan saat menyusuri koridor istana itu dia menemukan Ibu mertuanya sedang duduk di taman yang begitu indah sendiri. Namun, tidak jauh dari tempat duduknya ya berdiri tiga orang pelayan yang siap untuk melayaninya.
"Ibu, apa kau menikmati keindahan sore ini dengan duduk di taman bunga?" sapa Luna memberikan senyuman terbaiknya pada wanita itu.
Vanessa membalas, lalu mengangguk dan dengan gerakan tangannya meminta Luna untuk duduk di sampingnya yang langsung dituruti oleh wanita itu.
__ADS_1
"Bagaimana harimu? Apa kau betah di istana ini? Apa kau memerlukan sesuatu?" tanya Vanessa dengan begitu penuh kasih.
Luna ingin sekali melaporkan ketidakdisiplinan Carlota dan bentuk tidak menghargai pelayanan itu terhadap dirinya, tapi kembali diurungkan oleh Luna. Dia tidak ingin masalah receh itu menjadi beban pikiran mertuanya yang sedang tidak sehat ini.
"Semuanya baik Ibu.bSejauh ini aku merasa nyaman di sini," jawabnya sedikit berbohong hanya untuk menyenangkan hati wanita itu.
"Kau harus lebih banyak bersabar. Mungkin dia terlalu arogan dan penuh rasa percaya diri, tapi begitulah dia. Ada yang bilang wajah dan tubuh ini adalah titisan dari leluhur kami yang juga pejuang di negeri ini namun, menurut sejarah sangat berbeda dengan sifat leluhur yang melegenda itu. Keduanya sangat bertolak belakang tapi bagaimanapun, aku bangga memiliki anak seperti Lyn," ucap Vanessa menatap mata menantunya.
"Ibu benar dia memang pria yang sombong."
"Tampak kau sudah mulai mengenal karakter Lyn. Aku senang kamu yang menjadi istrinya," lanjut Vanessa kembali mengibarkan senyumnya.
"Aku tahu semuanya tentang Lyn, setidaknya cukup baik untuk mengetahui karakter pria itu," jawab lagi.
"Memangnya apa yang kau dengar?" Bujuk Vanessa ingin menjadi lebih dalam isi pikiran menantunya terhadap putra kesayangan yaitu.
Vanessa memberikan pandangan matanya berkilau senang karena Luna sudah mau terbuka. "Begitukah kata mereka?"
"Benar Bu, itulah yang aku dengar dan tolong jangan menyangkal hal itu, karena tanpa mendapatkan penjelasan tentang kebenaran itu, aku bisa menebak dari cara dan perilakunya."
Vanessa tertawanya dia mengakui bahwa Luna sangat cerdas dan bisa menyembahnya putranya. "Bagaimana kalau kau tanyakan saja padanya tapi coba pikirkan baik-baik Aluna. Apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang tidak begitu mengenalmu? Bukan kah semua orang punya kelebihan masing-masing?"
"Benar juga," jawab Luna setuju, berharap Vanessa tak pernah mengetahui masalahnya yang berwarna. Dia memang punya segudang kelemahan, tapi tidak dengan kelebihan.
__ADS_1
"Sejujurnya Ibu aku merasa tidak percaya akan diriku sendiri merasa begitu banyak kekurangan," jawabnya menunduk.
"Apakah kau pernah bercermin?" susul Vanessa.
"Tentu saja, Ibu. Dan saat itulah aku semakin tidak percaya diri," tukasnya semakin malu karena sudah menghakimi Lyn.
"Jangan bodoh, kau cantik, sempurna. Seperti itulah Lin kurasa lanjut Vanessa iya pernah bilang bahwa ia tahu bahwa ia tampan hanya dari cara wanita memperebutkannya bahkan jika para wanita tidak begitu hebatnya ia pasti hanya akan mengira dirinya cukup rapi dan bersih," tukasnya.
"Cukup rapi dan bersih?" Ujar Luna tak percaya atas kalimat pilihan Vanessa untuk menggambarkan putranya.
"Dia itu tidak bercela dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia membuat para dewa Yunani terlihat tidak sempurna jika berdiri di hadapannya. Dia bahkan gambaran kesempurnaan yang diinginkan para kaum Hawa untuk menjadi teman tidur mereka. Seharusnya dia segera menghentikan pesonanya itu agar dia bisa menghentikan pertikaian diantara kaum hawa. Dia..." tiba-tiba Luna menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menutupi kebodohannya karena ternyata secara tidak langsung dia sudah memunculkan di depan ibunya.
Luna tersedak dan menutup mulutnya dengan kedua tangan, yang menyadari kalimatnya itu seolah memperjelas tanggapan dari Vanessa, dan terbukti wanita itu hanya tertawa begitu keras tanpa air mata membayang di matanya.
"Syukurlah, ternyata kau menyadari kelebihannya. Dia sempat khawatir bahwa dia tidak terlalu menarik untuk dirimu. Katanya kau terlalu cuek dan membentengi dirimu untuk tidak bisa disentuh olehnya," jawab Vanessa yang berhasil mempermalukan Luna. Bagaimana tidak, Ibu mertuanya itu sampai tahu mengenai urusan panjangnya dengan suaminya.
Luna memutuskan akan memberikan pelajaran pada Lyn nanti, agar pria itu bisa menjaga mulutnya dan berucap pada tempatnya dan melihat orang yang diajaknya bicara.
Melihat kecemasan di wajah Luna, Vanessa dengan menenangkan gadis itu lalu berkata, "Jangan khawatir ini akan menjadi rahasia kecil diantara kita saja. Oke, Sayang. Aku minta maaf karena tidak berada di sini mu untuk memberikan sambutan yang pantas saat kau menikah di kapel, dan dari yang kudengar hal itu sangat kacau," ucapnya membelai rambut Luna
Luna merasa ini sekali menghambur ke dalam pelukan seorang ibu. Hatinya yang membeku seolah kini mulai menghangat. Vanessa tampaknya tahu apa yang diinginkan garis itu saat ini dia menarik tubuh Luna dan membawa ke dalam pelukannya.
Sudah lama tidak merasakan pelukan hangat seorang ibu dan Luna sudah sangat merindukan ibunya. Dia sangat terima kasih karena sosok ibunya ada dalam diri Vanessa. Setidaknya ada orang tempatnya mengadu di dunia yang asing ini.
__ADS_1
Dibalik rembulan, bunga-bunga yang indah sesosok bayangan memicingkan mata dan menggenggam tanaman yang ada di sekitarnya. Lalu menyembunyikan tubuhnya pada pohon itu, agar dia bisa melihat dengan tajam ke arah Luna.
"Jangan pikir aku akan tinggal diam membiarkanmu hidup lebih lama lagi!" umpat gadis itu dengan tegas.