Angel Of Death

Angel Of Death
Pelampiasan Amarah


__ADS_3

Prosesi pemberangkatan para prajurit ke medan perang sudah dimulai sejak yang lalu dan Luna ada di sana berdiri di samping Vanessa melihat rangkaian kegiatan untuk memberangkatkan mereka.


Para ketua yang memiliki ilmu tinggi memberkati setiap pedang dan senjata yang mereka gunakan nantinya berharap bahwa kemenangan akan mereka peroleh.


Tiba giliran untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga luna.


Vanessa tidak bisa menghentikan esok tangisnya ketika memberangkatkan Lyn. Wanita itu terus menangis tersedu di pelukan Lin.


Sudahlah ibu doakan saja biar perang ini cepat selesai dan kita mendapatkan kemenangan dan aku akan kembali pasti segera Aku akan kembali ucapnya dengan mengelus punggung ibunya namun pandangannya melirik ke arah Luna yang tepat berdiri di samping mereka.


Vanessa yang sadar bahwa putranya itu butuh waktu juga untuk mengucapkan salam perpisahannya kepada Luna akhirnya mengalah meraih pelukan mereka agar Lin bisa berbicara dengan Luna.


Di bawah tatapan banyak orang tentu saja Luna merasa risih terlihat gadis itu sangat gugup. Lin yang sadar akan hal itu segera menarik tangan Luna keluar dari Allah dia tidak ingin momen berharga mereka kali ini disaksikan oleh banyak orang Biarlah hanya ada mereka berdua saja yang bicara dari hati ke hati.


Jaga dirimu aku sudah menempatkan beberapa pengawal untuk mengikutimu bahkan menjagamu dari jauh aku tidak ingin kau terluka seperti dulu tunggulah aku pulang ucapin membelai dengan lembut di gadis itu.


Aneh rasanya mengapa Luna merasakan kesedihan yang luar biasa Dia seolah tidak rela melepaskan kepergian pria itu untuk berperang. Bagaimana kalau Lyn nanti mati dia tidak kembali lantas Bagaimana nasibnya kalau ditandainya dia bisa kembali ke dunia manusia tentu saja itu tidak masalah jika dia berpisah dengan dia tapi bagaimana kalau dia sendiri tidak bisa lagi kembali ke dunia asalnya?


Selama Lin berbicara Luna memilih untuk diam dia ingin merekam dan menyimpan suara pria itu di dalam hatinya benci yang awalnya dia rasakan sedikit demi sedikit memudar kini dia harus mengakui bahwa dia tidak ingin berpisah dari pria itu tapi ini adalah perintah raja dia tidak mungkin egois dengan meminta Lyn untuk tidak pergi.


Sebenarnya Line menunggu sepatah dua patah kata yang akan diucapkan Luna kepadanya setidaknya sebagai penguat sekaligus jimat saat dia berperang nanti. Namun gadis itu tetap memilih diam akhirnya Lin pun memutuskan untuk bergabung bersama yang lain di aula karena waktu keberangkatan mereka memang sudah tiba.


Line sudah memutar tubuhnya pegangan tangan mereka masih erat menyatu namun saat dia melangkah tangannya menggantung di udara karena Luna yang yang tidak mau bergerak dari sana.

__ADS_1


"Ada apa apa kamu ingin mengatakan sesuatu kepadaku tanya Lin yang kembali berhadapan dengan Luna.


Namun, gadis itu tetap diam. "Ada apa ada yang ku katakan?" Ulang Lyn menatap Luna.


Tidak satupun kalimat yang keluar dari bibir Luna namun air mata sudah membasahi pipinya. Line shader mungkin begitu berat untuk mengatakan sesuatu kepadanya ada rasa malu yang hinggap di hati gadis itu namun dia tidak bisa memungkiri bahwa saat ini Luna pasti sediakan kepergiannya.


Line yang lebih bijaksana menarik tubuh gadis itu menghapuskan rasa egonya dan rasa malu menyelamatkannya dari keterpurukan dalam hatinya.


"Jangan menangis lagi. aku hanya sebentar Aku pasti akan kembali segera untuk menemui,"ucapkan memeluk dan mencium puncak kepala gadis itu namun isaknya semakin terdengar dan kini sesungguhkan.


Lin membiarkan gadis itu menangis memuaskan rasa sedihnya Lalu setelah tidak terdengar lagi tangisan Line mengurai pelukan lalu menatap mata indah yang tadi bersimbah air mata dihapusnya jejak air mata Luna dengan jemarinya lalu menangkap kedua pipi garis itu dengan tangannya dan mendaratkan sebuah ciuman yang begitu dalam sebagai ciuman perpisahan di antara mereka.


Rombongan itu sudah berangkat Mereka pergi berperang untuk mengemban tugas.


Di dalam hatinya dia mengucapkan sebuah doa untuk keselamatan dan juga agar Lin segera kembali.


***


Waktu terus berlalu musim berganti sudah 6 bulan Lyn pergi. Tidak ada kabar berita yang dia dapatkan dia masih sabar menanti.


Ternyata perpisahan justru membuatnya menyadari perasaannya kini dia tidak ingin lagi berpisah dari pria itu dan berharap bahwa Lin akan segera kembali.


Sepanjang hari Luna menghabiskan waktunya bersama Vanessa dan Matilda sembari menanti kedatangan Lyn.

__ADS_1


Dia merasakan kebosanan ternyata pertikaian kecil dengan Line justru membuatnya merindukan pria itu.


Aku bawakan susu almond untukmu dari pagi Anda belum makan apapun dan ini bubur yang aku buat dengan rempah khas negeri ini anda pasti menyukainya," ucap Matilda.


Terima kasih Matilda maaf karena aku sudah merepotkanmu ucap Luna menerima nampan itu namun ketika melihat pipi Matilda yang mau merah membuat Luna tidak jadi menyentuh sendok bahkan kini dia bangkit dan melihat pipi wanita yang sudah dianggapnya sahabat itu.


"Apa yang terjadi? Mengapa ada luka di pipi mu, ini seperti luka bekas cakar siapa yang melakukannya padamu?" Tanya Luna.


"Sudahlah nona Aku tidak apa-apa ini hanya tergores jawab Matilda tidak ingin memperpanjang masalah ini dia tidak mau Luna mendapat masalah hanya karena dirinya.


"Katakan siapa yang sudah melukaimu Apa kau tidak tahu bahwa kau sangat berarti bagiku kalau dia menyukaimu artinya dia tidak menghargaiku sebagai Tuan Putri di istana ini!" Seru Luna yang memaksa Matilda untuk bicara.


Berulang kali didesak akhirnya mati udah buka suara dia menceritakan kejadian di dapur beberapa saat lalu.


Carlota dan dua orang temannya mencari masalah dengan dirinya seolah tidak terima bahwa dia yang bukan berasal dari negeri itu justru dijadikan pelayan pribadi untuk Luna.


Dengan amarah yang menggelegar Luna mendatangi dapur mencari carlota dan orang-orang yang sudah mencelakai Matilda.


Lagi pula dia sedang tidak punya pekerjaan kebosanannya membuat dirinya semakin berubah dia perlu tempat untuk melampiaskan rasa kesal dan juga amarahnya yang sebenarnya ditujukan kepada Lin karena tidak kunjung pulang.


Awalnya pria itu mengatakan hanya pergi 6 bulan namun ini sudah hampir setahun dan tidak ada kabar berita darinya.


"Apa yang sudah kau lakukan kepadamu tidak Raung Luna ketika sudah bertemu dan berhadapan dengan carlota.

__ADS_1


Mungkin inilah saatnya dia mengajarkan tata krama serta sopan santun kepada pelayan itu. Dia ingat karena saya adalah pelayan pertamanya setelah tiba di tempat ini dan dia juga melakukan hal yang sama kepada dirinya. Pelayan itu seolah menganggap dirinya tidak berhak untuk dilayani.


"A-aku... Aku tidak melakukan apapun," jawab Carlota yang pucat pasi, baru kali ini dia melihat amarah Luna, begitu mirip ketika Lyn marah.


__ADS_2