
Luna bergegas mendatangi tempat yang dikatakan met di mana saat ini Din sedang menyiksa emeral terkait dengan niat gadis itu yang sudah mencelakai dirinya.
Bersama Matilda dia mengikuti langkah yang uring-uringan karena dipaksa menunjukkan. Nggak tahu bahwa dia akan mendapat masalah karena akan hal itu.
"Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Pekik Luna merasa ngeri kala melihat Lyn yang akan mencambuk Emerald yang kedua tangannya terikat.
"Kau? Mengapa kau di sini seharusnya kau beristirahat," ucap Lyn yang memandang Luna, di situ terlihat sangat ketakutan melihat ke arah tubuh Emerald.
"Sayang, pergilah. Nanti aku akan menyusulmu pintarnya dengan begitu lembut namun Luna tidak menjawab dia mengabaikan perintah itu dan kita berdiri dengan duduknya yang gemetar.
Goyang kembali bagaimana anak buah Albert yang mengejarnya dan ingin menghabisi nyawanya dia sempat tertangkap dan disiksa, walau pada akhirnya dia berhasil kabur. Dan melihat Emerald saat ini yang disiksa membuatnya tidak tega dan merasa kesedihan yang luar biasa.
"Lepaskan dia, aku mohon,"ucap Luna dengan nada bergetar. Lyn yang melihat hal itu tentu saja menjadi panik dia tidak tahu bahwa niatnya untuk menghukum pelaku kejahatan itu justru membuat Luna ketakutan setengah mati.
"Kau beruntung Karena istriku memiliki belas kasih kalau tidak aku pasti akan membuatmu mati saat ini juga!" Bentak Lyn membuang cambuknya ke tanah, lalu membawa Luna pergi dari sana.
"Sudah jangan menangis Lagi aku jadi merasa bersalah karena membuatmu menangis seperti ini. Lihat saja, aku akan menghukum Mate karena sudah membawamu ke tempat itu," ucap Lyn di tengah perjalanan mereka menuju istana.
"Aku pernah ditangkap dan disiksa oleh seseorang yang dulu katanya mencintaiku ketika aku melihatnya bersalah dengan mataku aku melihatmu membunuh seseorang dan untuk menutup mulutku dia mencoba menghabisiku juga aku ditangkap oleh anak buahnya lalu disiksa beberapa hari Namun beruntung aku bisa kabur dari sana," terang Luna yang akhirnya membuat dan mengerti mengapa wajah gadis itu begitu pucat ketika melihat dirinya menyiksa Emerald.
"Sudah, Sayang. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi. Aku ada di sini tidak akan selalu menjagamu dengan erat. Berapa pelayan yang melewati mereka tidak membuat Lyn malu, dia justru mengeratkan pelukannya.
***
__ADS_1
2 bulan menikmati kebahagiaan bersama kini Luna merasa hidupnya begitu sempurna berada di sisi lain dia bahkan tidak ingin kembali lagi ke dunia asalnya.
Tujuan hidup lu hanya satu memberikan keturunan kepada Lin dan merupakan semua rasa dendam yang ada di dalam hatinya.
Namun kenyataan yang tidak semudah yang dia pikirkan. Lepas dari sengatan racun, tidak membuat orang yang ingin menyakiti Lyn berdiam diri. Mereka selalu mencari jalan untuk menyakiti pria itu dan tidak akan berhenti sebelum pria itu mati.
Keduanya sedang menikmati keindahan di bukit berbunga yang sudah mereka daki dengan mengendarai kuda.
Tali kukang kuda diikat di dekat pohon membiarkan kuda itu makan di tepi aliran sungai sedangkan mereka berjalan menapaki bukit itu dengan itu yang gembira dan penuh kebahagiaan.
Baik Line ataupun Luna sama-sama baru merasakan kebahagiaan ketika mereka bersama. Dan sangat mencintai Luna itu sudah pasti dan ingin selalu bersama gadis itu.
Masih berjalan bergandengan tangan membuat Line tidak siaga hingga akhirnya satu anak panah yang sebenarnya ditujukan kepada dirinya mengenai Luna karena gadis itu yang pertama melihat anak panah melesat mendorong tubuh Lyn menjauh hingga akhirnya dia sendiri yang terkena anak panah itu.
"Luna, Sayang.... Bangun, aku mohon... Kenapa begini?" Teriakan lain menggema di bukit itu darah mengalir deras dari tubuh Luna bergegas dan menaikkan itu bergaris itu ke atas kuda lalu dengan kecepatan tinggi membawanya kembali ke istana.
Sudah dua kali lilin meninju dinding kamarnya ketika tidak satu dari tabib yang mengurus Luna keluar memberikan keterangan mengenai keadaan Luna saat ini.
Vanessa yang keluar dari kamar itu bahkan memakai kaget melihat tangan putranya yang berdarah namun pria itu tidak merasakan kesakitan sama sekali.
Apa yang kau lakukan Kau harus kuat ini seumur demi istrimu kalau kamu melakukan tindakan bodoh dengan melukai dirimu sendiri orang yang sudah mencelakai Luna teriak Vanessa disela isak tangisnya.
Wanita itu tidak habis pikir mengapa cobaan dan juga dari itu tidak henti-hentinya menerjang rumah tangga anaknya. Mengapa mereka ingin melukai Luna?
__ADS_1
"Ibu, bagaimana keadaan Luna? Apakah dia sudah siuman?" tanya Lyn dengan tidak sabar.
"Tabib sudah memeriksanya kau harus bersabar, Nak," ucap Vanessa
Tidak lama berselang, tabib itu keluar menemui Lin dan kedua orang tuanya menjelaskan keadaan Luna yang serius.
"Saya minta maaf kali ini racun yang mengenai tubuhnya lebih berbahaya dari yang pertama dan tidak pernah seorang pun terkena racun ini jadi saya minta maaf saya tidak tahu, Tuan, obat apa yang harus kita berikan kepada tuan putri," jawab tabib itu dengan penuh rasa takut.
Dia adalah kepala tabib dari 10 orang tadi banyak yang dipanggil oleh Line untuk mengobati Luna.
Kalau menurut keinginannya dia ingin sekali memukul tabib itu bahkan membakar kesepuluh tapi itu hidup-hidup tapi untuk saat ini dia harus fokus menyelamatkan istrinya jadi, dia memutuskan untuk pergi mencari pria yang dulu pernah ditemui sekaligus memberikan tanaman penawar racun saat Luna terluka kalau itu.
"Ibu aku minta jaga laluna Aku akan segera kembali dengan membawa obat yang bisa menyembuhkan jangan sampai ada orang lain lagi yang menyakitinya," pinta Lyn dengan suara menahan amarah di dada.
Kali ini dia tidak membawa met orang yang paling dipercayai dia meninggalkan mayat untuk menjaga dan melindungi Luna saat dia tidak ada.
Dia hanya membawa anak buahnya yang lain untuk menemaninya naik ke langit lapisan ketiga menangani pria tua itu.
Butuh 2 hari untuk bisa menemukan tempat itu 3 hari lebih cepat dari kali pertama dia mencarinya. Dia ingat perkataan sang ketua sekaligus tabib ajaib itu bahwa setiap orang yang sangat terdesak membutuhkan pertolongan maka barang itu akan bisa segera menemukan tempat itu.
Kemungkinan kali ini dia jauh lebih membutuhkan pertolongan tauhid itu saya nggak bisa segera menemukan tempat yang tidak semua orang bisa temui.
"Mau apa lagi kau datang ke tempat ini?" Suara pria tua berjenggot putih panjang itu mengagetkan Lyn. Lagi-lagi dia muncul dari belakang pria itu sama seperti dulu pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Aku ingin kau melihat keadaan istriku semua takbir yang aku minta tidak bisa menyembuhkannya. Datang tadi yang dulu kau tunjukkan padaku mengatakan bahwa tidak ada harapan untuk istriku dan aku tidak akan bisa menerima hal itu," ucapnya dengan suara bergetar.
"Terima saja takdirmu, kalau memang gadis itu harus pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Mungkin itu yang terbaik bagimu," ucapkan Kakek.