Angel Of Death

Angel Of Death
Merebut Hatimu


__ADS_3

Sebulan berjalan, pernikahan itu tampak sempurna bagi Kai. Walau di dalam kamar itu, mereka akan tidur terpisah demi kenyamanan Luna, tapi di luar ruangan mereka akan tampak mesra.


Penuh rasa tidak sabar, Luna akan mondar-mandir di depan rumah, menunggu Kai pulang, lalu keduanya menghabiskan waktu bersama. Banyak hal yang mereka lakukan hingga tidak ada kata bosan bagi Luna selama berada di sisi Kaisar.


“Sekak!”


Luna tersenyum penuh kemenangan kala berhasil mengalahkan pria yang juga menatapnya dengan penuh senyum di bibir.


“Benar adanya, suatu saat guru akan dikalahkan oleh muridnya sendiri,” ucap Kai. Hanya dua Minggu mengajari Luna bermain catur, kini gadis itu sudah bisa mengalahkannya.


“Ayo main lagi," Ajak Luna penuh semangat. Mulai menyusun bidak catur berwarna putih miliknya.


“Kurang seru, ah, kalau tidak taruhan,” pancing Kai tersenyum nakal ke arah Luna. Dia ingin mendapatkan sesuatu dari gadis itu. Bagaimana pun dia juga pria normal, yang sudah begitu dahaga akan pelepasan. Bisa saja dengan permainan ini, Kai bisa mendapatkan haknya yang sudah ditunda istrinya selama satu bulan ini.


“Taruhan? Apa? Aku tidak punya uang,” sahut Luna menunduk.


Mendengar ucapan istrinya, Kai jadi teringat sesuatu. “Ke mari,” ucapnya melangka lebih dulu ke meja kerjanya. Luna menurut, duduk di pangkuan pria itu saat Kai menepuk pahanya.


Dari dalam laci hitam itu, Kai mengeluarkan satu buah amplop coklat. Harusnya sejak dua hari lalu, Kai menyerahkannya pada Luna, tapi karena kesibukan hingga membuatnya lupa.


“Ini milikmu, Sayang. Harusnya aku memberikannya dari dua hari lalu, tapi maaf, aku sampai lupa.” Kai mendorong amplop itu ke depan Luna, dan menutup dengan mencium lengan telanjang gadis itu.


“Apa ini?” Luna membolak-balik amplop, mencari catatan yang menerangkan isi amplop, tapi nyatanya tidak ada.


“Buka 'lah, sobek saja."

__ADS_1


Mata Luna takjub. Sebagian isi amplop itu ada yang dia kenal. Ada dua kartu berwarna hitam, kartu yang bentuk sama, tapi Luna tahu itu ATM, karena Ben juga memilikinya. Ada yang berwarna gold dan, dua berwarna biru, begitu pun buku tabungan, dan beberapa kertas yang berisi kepemilikan atas namanya.


“Ini apa, Kai?”


“Aku sudah buka tabungan di tiga bank berbeda. Ini kartu kredit yang bisa kau pakai membeli apa pun, tanpa limit," terangnya, lalu mencubit gemas pipi istrinya.


Luna memberanikan diri membuka salah satu buku tabungan itu, mulutnya melongo, melihat angka nol yang begitu banyak mengikuti angka di depannya. Itu baru satu. Luna masih ingin memuaskan rasa penasarannya. Dia buka buku kedua dan ketiga, jumlahnya sama. Tangannya bahkan sampai bergetar. Dia tidak tahu pasti berapa jumlahnya karena angka nol yang bertebaran di sana, tapi Luna yakin jumlahnya sangat banyak.


“Kenapa banyak sekali?” Luna menoleh menatap Kai yang juga sejak tadi mengamatinya. Luna jadi malu, mengubah sikap antusiasnya. Dia tidak ingin reaksinya membuat Kai sadar kalau itu 'lah tujuannya berada di sini.


“Kau pantas mendapatkannya. Lagi pula, kau adalah istri Kaisar Tortura, pria miliarder yang duitnya tidak berseri.” Godanya tertawa sumbang. Luna hanya membalas dengan mengerucutkan bibirnya.


Sial bagi gadis itu, karena ulahnya itu memancing sikap kelaki-lakian Kai. Pria itu menarik tengkuk Luna, mel*mat bibir ranum itu. Menggoda Luna untuk ikut berpartisipasi. Serangan itu di sambut Luna dengan suka cita, lidahnya ikut menari-nari di dalam mulut Kai, membelai, dan saling melilit.


Si gadis polos yang saat berciuman selalu kehabisan napas itu yang memutuskan ciuman panas yang membakar mereka itu.


“Ini apa?” Luna kembali menuntaskan semua harta yang sudah masuk untuk nya.


“Ini beberapa properti yang baru ku pindahkan atas namamu. Ada beberapa rumah, vila, mobil mewah, tanah dan juga apartemen. Aku akan menambahkannya lagi. Aku juga akan membagi saham perusahaan atas namamu,” terang Kai memeluk pinggang ramping Luna. Rasanya suhu tubuh gadis itu selalu bisa membangkitkan miliknya di bawah sana.


“Saham?” yang ini Luna tidak mengerti.


“Iya. Intinya beberapa perusahaan juga akan aku buat atas namamu, hingga setiap bulan, akan ada dana masuk ke rekening mu, hasil keuntungan tiap bulan,” jelas Kai menikmati kebingungan istrinya.


“ Banyak sekali...”

__ADS_1


“Tidak hanya itu. Perlu kau ingat, walau kau sudah punya pendapatan sendiri dari perusahaan mu, aku sebagai suami akan tetap memberikan bulananmu. Aku ingin uang ku kau gunakan memenuhi semua kebutuhanmu, itu tanggung jawabku!”


Sekali lagi Luna menatap takjub pria itu. Hanya dalam sebulan sudah begitu mempercayainya. Menghujaninya dengan banyak uang. Bahkan setiap bulannya Luna sudah mendapatkan penghasilan dari perusahaan atas namanya.


Tanpa malu, Luna menangkup wajah Kai, dia ingin mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan dan juga kasih sayang pria itu padanya. Luna mematuk bibir pria itu, mengul*m nya, menghisap dan menciumi dengan penuh semangat. Dia terbakar.


Kai mengangkat tubuh Luna, membuat gadis itu duduk mengangkang di atas miliknya. Luna terus beraksi, terus membelai lidah Kai, tidak peduli kalau nanti dia mati karena kehabisan napas.


“Apa aku bisa mendapatkannya malam ini, Sayang?” bisik Kai parau menatap mata Luna dengan tatapan penuh kabut gairah.


Tubuh Luna kaku. Dia bingung harus apa. Wajah Ben tergambar, dan janji mereka untuk bersama, membuat Luna menggeleng lemah. Ada guratan kecewa di wajah Kai. Namun, dia tidak mengatakan apa pun pada Luna. Dia tidak mengumpat marah, justru membawa kepala gadis itu ke dadanya. Napas Kai memburu, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.


Kai sadar, dia harus lebih bersabar. Memberi waktu pada Luna untuk bisa menerima dirinya.


Malam sudah semakin larut, Kai menggendong Luna yang menggantung di lehernya. Membawa gadis itu ke ranjang.


Dua orang pelayan yang tanpa sengaja berpapasan di ruang tengah, menundukkan wajahnya sembari mengulum senyum. Mereka melihat bagaimana Kai sangat mencintai nyonya muda mereka. Tawa Kai sudah sering terdengar di rumah itu.


Berkat kehadiran Luna, rumah itu kini layak disebut rumah. Perawakannya yang supel dan ramah, membuat para pelayan menyukainya.


“Temani aku tidur malam ini,” ucap Luna manja. Dia tidak ingin jauh dari Kai malam ini. Pria itu menurutinya lagi, walaupun hal itu sangat menyiksa baginya.


Istrinya terlalu egois, menginginkan Kai memeluknya, tapi tidak ingin memberikan lebih pada pria itu.


“Terima kasih untuk semuanya,” ucap Luna mengecup tipis bibir Kai, lalu kembali terhempas di bantalnya.

__ADS_1


“Kau tidak perlu mengucap terima kasih, karena apa yang menjadi milikku, adalah milikmu juga.”


“Mmm... bolehkah aku bertanya satu hal?” tanya Luna mendongak, menatap wajah Kai. Pencahayaan temaram dari lampu tidur membuat wajah Kai semakin terlihat tampan, Luna sudah tergoda. Dia hanya naif, mencoba bertahan demi cintanya pada Ben.


__ADS_2