
"Apa kamu menyukai sarapanmu? Bagaimana dengan rasa kopi dan juga selai yang kau makan tadi? Aku melihat kau begitu menyukainya," ucap Lyn setelah mereka selesai sarapan.
Terlihat wajah Luna yang kini berbinar benar kata orang kalau perut sudah kenyang tentu saja hati pun senang.
"Kau benar, aku sangat menyukainya. Terasa sangat segar, berbeda dengan di tempatku. Apa kalian memproduksinya sendiri?" tanya Luna penasaran. Dia yakin kalau di tanah kekuasaan Lyn ini, mereka mempunyai tempat penyimpanan dan juga produksi makanan yang mereka olah sendiri setelah memetik dari alam sekitar.
"Kalau begitu ayo, aku akan menunjukkan kepadamu tempat penyimpanan kami," ajak Lyn yang berusaha untuk menenangkan hati Luna.
Ajakan itu bukanlah ajakan pergi shopping ke mall seperti yang biasa Albert tawarkan kepadanya, membeli apapun yang dia suka. Namun, malah hanya menuju tempat penyimpanan yang Luna tebak seperti gudang, tapi dia sudah sangat senang. Artinya dia bisa jalan-jalan dan melihat setidaknya beberapa tempat di istana yang sangat luas ini.
"Aku akan sangat berterima kasih, kalau kau mau mengajakku ke sana," jawab Luna segera merapikan gaunnya lalu berdiri dari duduknya siap melangkah ke manapun Lyn membawanya.
"Inilah tempat ruang penyimpanan kami," ucapnya sambil membuka kunci ruangan dan mendorong pintu yang begitu tebal sehingga terbuka.
Semangat Luna terpacu kembali. Jantungnya bergetar halus, ia bisa mencium bau biji kopi, rempah teh dan banyak jenis makanan lainnya lagi. Ia melonjak masuk ke dalam diikuti oleh Lyn yang menatapnya dengan penuh senyum. Dia merasa tingkah Luna begitu polos hanya dengan masuk ke dalam ruang penyimpanan, sudah bisa membuatnya gembira.
Aluna Star adalah putri bangsawan, sepupu dari Raja seberang yang sudah ditaklukkan oleh OcalypsoDream. Dia tentu saja sudah terbiasa menikmati hal-hal mewah seperti ini tapi entah mengapa reaksi Luna menunjukkan dia seolah baru pertama kali melihat hal tempat penyimpanan besar seperti ini.
Saat Luna bermaksud membenamkan tangannya ke dalam karung yang mengeluarkan aroma sedap dari kopi hitam, Lyn mendadak menghalangi, yang berdiri diantara Luna dan kopi incarannya.
"Sepertinya kau sangat mencintai kopi, kalau melihat reaksimu yang seperti anak kecil diberikan mainan yang begitu dia sukai," ucap Lyn mengamati mimik wajahnya, dan dia akui kini dia tertarik mengetahui kesukaan Luna lebih banyak lagi.
Dia pikir mulai sekarang dia harus lebih peka dan bisa melihat apa saja yang gadis itu sukai sehingga memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri dengan Luna.
__ADS_1
"Ya," jawab Luna singkat lalu beringsut selangkah demi selangkah dengan tak sabar tapi Lyn tetap menghalangi dengan tubuhnya.
"Minggir 'lah, Lyn!"protes Luna dan pria itu hanya bisa tertawa lembut sambil meraih pinggang Luna dengan tangan yang besar dan hampir menggenggamnya.
Luna berdiri kaku saat aroma tertentu yang lebih memikat daripada aroma kopi menyerbu Indra penciumannya. Aroma kulit pria itu yang sangat maskulin, pesona kekuatan dan daya tarik seksual serta rasa percaya diri dan kebugaran, semua aroma itu bercampur dengan satu di dalam penciumannya serta pikirannya.
"Ah, Sayang. Ada harga yang harus kau bayar untuk ini semua. Hatiku berdetak kencang untuk mu," gumam Lyn menatap Luna dengan pandangan saya.
"Benarkah? Tapi kau tidak punya hati!" Ucapnya seolah tengah sedang berbicara ke arah dinding yang menjulang tinggi karena perbedaan tingginya dengan pria itu sangat mencolok ketika saling berhadapan.
Dengan tinggi Luna yang hanya 160 dia harus mendongak ketika berbicara kepada Lyn yang mungkin saja memiliki tinggi 185 Senti meter.
"Benar," jawab Lyn setuju. Dia mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan wanita itu.
Luna benar-benar gugup. Mereka hanya berdua di ruangan sebesar itu dengan banyak bahan makanan. Namun, Luna tidak bisa bersikap sewajarnya. Dia memutar otak untuk mencari bahan pembicaraan agar keduanya tidak merasa kikuk.
"Kopi ini terlihat begitu wangi," ucapnya mengambil beberapa biji kopi yang ada di sampingnya dan menyodorkan ke depan Lyn.
"Itu kualitas kopi yang paling bagus di tempat ini. Kalau kau menginginkannya ada harga yang harus kau bayar," tukasnya menaikkan sebelah alisnya bak rentenir yang ingin memberi pinjaman.
Luna mengerutkan kening. Benarkah dia harus membayar untuk kesenangan ini? Bukankah dia seorang ratu, bisa meminta dan mengambil apapun? Dan ini hanya kopi. Di negaranya orang bebas untuk mendapatkan kopi hanya dengan membayar beberapa sen.
"Apa yang harus aku bayar dan dengan apa, aku tidak memiliki uang satu sen pun," jawab Luna.
__ADS_1
"Hal ini mudah saja, terlebih untuk hari ini tapi untuk hari saja, lain waktu belum tentu. Hari ini kau cukup bayar hanya dengan sebuah ciuman kecil," lanjut Lyn yang merasa mendapat kesempatan untuk melakukan pendekatan kepada istrinya.
"Oh begitu? Jadi jika aku ingin mendapatkan kopi ini maka aku harus membayarnya dengan sebuah ciuman?" tegas Luna memperjelas. Dia sudah bisa menebak ke arah mana tujuan Lyn.
Dia memiringkan kepalanya lalu balik menatap Lyn. Mata Luna terhenti beberapa senti di bawah mata Lyn, lalu turun ke arah bibirnya yang sempurna.
"Bibir seorang lelaki seharusnya tidak begitu sempurna dan menggiurkan seperti ini!" batinnya frustrasi.
Per sekian detik Luna seketika lupa akan kopinya, melainkan ingin mencicipi bibir lelaki ini dan kini lutut keparat nya mulai bergetar lagi. Kenapa tubuhnya selalu tidak mendengar perintahnya? Dia sudah memberi perintah untuk bergerak menjauh dari pria itu namun, tetap saja dia berdiri tegak di depan Lyn.
"Silakan," pinta Lyn, yang terdengar seperti sebuah tantangan menguji nyali. Apakah gadis itu akan berani melakukan apa yang dia minta.
Dan lagi-lagi Luna mengutuk keadaan itu. Sial baginya karena pria itu tahu bahwa saat ini Luna ingin sekali menciumnya.
"Aku tahu kau sangat tidak ingin melakukannya tapi itu adalah penawaran terbaik kalau kau menginginkan kopimu!"
"Lantas kalau aku tidak mau?" tantang Luna ingin tahu, seberapa berbahayanya pria itu.
"Maka kau tidak akan mendapatkan apapun." Lyn mengangkat bahu seolah tidak ada ruginya kalau kesepakatan mereka dibatalkan. "Ini hanya permintaan yang sangat kecil. Aku tahu kalau kau bukan lah gadis pemberani, jadi kalau kau memilih mundur, maka aku bisa memakluminya," goda Lyn semakin memprovokasi perasaan gadis itu.
"Aku rasa tadi bukan ini maksudmu. Kau hanya ingin menunjukkan padaku ruang penyimpanan makanan kalian, lalu dengan mengetahui rasa ketertarikan ku pada kopi, Kau melakukannya sebagai senjata untuk berbuat curang terhadapku!" Luna melipat tangan di dada sehingga membuat bagian dada dari gaunnya semakin melekat dan membentuk bayangan ***********.
Efeknya sangat berat bagi Lyn karena diyakini sudah susah berkonsentrasi. Rasanya ingin sekali tangannya terulur ke depan untuk menyentuh kedua benda itu yang begitu menggoda, bahkan sudah sering masuk ke dalam mimpinya. Rasanya semakin lama dia tidak menyentuh gadis itu maka akan semakin cepat dia menjadi gila.
__ADS_1