Angel Of Death

Angel Of Death
Bertukar Nyawa


__ADS_3

Entah apa yang sudah dia perbuat hingga pria sehebat Kai bisa jatuh cinta padanya. Bahkan mereka pun baru saja bertemu. Apa benar pepatah yang mengatakan cinta pada pandangan pertama?


Seandainya saja setengah perhatian dan kelembutan Kai dimiliki Ben, pasti dia akan menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini.


Setengah jam berlalu, sosok pria yang mampu membuat hampir semua orang dalam ruangan itu histeris pun muncul. Pria bertubuh atletik itu berjalan membelah ruangan menuju tempat Luna berada. Tatapan setajam elang hanya diarahkannya pada Luna seorang.


“Wah, Kai, makin cakep aja," celetuk Meli tidak bisa menahan lidahnya.


“Duh, kamu kok bisa seganteng ini sih?” sambut yang lain.


“Cakep banget!"


“Hai, Kai, lama tidak bertemu,” ucap Meli mendekat, ingin mendapatkan perhatian dari pria yang selalu jadi tokoh fantasinya saat bermain dengan sang suami.


Tidak satu pun kicauan wanita-wanita sosialita itu yang digubris Kai, dia tetap berjalan hingga tiba di depan Luna. Spontan gadis itu pun bangkit dan kini berdiri berhadapan dengan mata saling menatap. Tanpa suara, tanpa kata apa pun Kai mengulurkan tangannya, meminta Luna meletakkan di atasnya.


Genggaman tangan Kai menunjukkan betapa dia tidak ingin kehilangan wanita itu. Keduanya berjalan menuju pintu keluar.


“Kalian mau ke mana? Acaranya belum selesai,” ucap Jean menoleh pada pasangan itu. Tersenyum melihat reaksi Kai yang sangat frontal mempertontonkan perasaan cintanya yang besar pada istrinya.


“Iya, benar, tinggal 'lah dulu,” timpal Meli masih setia berharap.


“Iya, Kai, gabung bareng kita, ya.”


“Iya, nih. Udah lama gak ketemu.”


“Iya, benar.”

__ADS_1


Kembali tidak satu pun permintaan mereka di tanggapi Kai. Pria itu berhenti, hanya untuk menjawab perkataan Jean.


“Kalau Oma masih di sini, biar pulang dengan sopir saja. Aku akan membawa Luna pulang bersamaku,” ucap Kai tegas, berlalu meninggalkan erangan kekecewaan dari para wanita sosialita yang harus akan belaian itu.


Sepanjang jalan mulai dari ruangan itu hingga turun ke lantai dua, Kai terus menggenggam tangan Luna. “Bagaimana acara arisan yang tidak berfaedah itu? Aku tebak, kau pasti tidak suka ada di sana?” Kai menoleh ke samping, menatap mata Luna sembari tersenyum.


Begitu Kai tahu Luna pergi dengan Jean, Kai sudah menebak, kalau Omanya pasti membawa Luna ikut arisan. Mengingat bagaimana sifat dan sikap para wanita yang katanya beretika itu bersikap, Kai yakin mereka akan membuat Luna tidak nyaman.


“Aku memang gak nyaman di sana. Mereka mengajakku bicara hanya untuk menginterogasi ku mengenai dirimu. Alasan mu memilihku menjadi istri, seperti itu,” sahut Luna berwajah masam. Jujur memang dia kesal melihat sikap mereka tadi, memandangnya rendah dan menganggap dirinya tidak pantas untuk menjadi istri Kai, si makhluk sempurna.


“Lantas, ada jawabmu?” tanya Kai penasaran. Pria itu sudah berulang kali mengatakan perasaannya pada Luna, tapi tak sekalipun gadis itu membalasnya.


“Semua pertanyaan mereka sudah dijawab oleh Oma. Aku cuma diam aja."


“Kenapa cemberut? Apa ada yang menyinggung mu?”


Luna membuang muka, mengalihkan pandangannya ke tempat yang mereka masuki. Asyik bercerita, Luna bahkan tidak sadar kalau Kai membawanya ke sebuah tempat ngopi.


“Ngopi dulu, yuk."


Tempat yang dipilih Kai sangat minim pelanggan, bukan tanpa sebab, dia memang tidak suka keramaian. Kai sudah menarik kursi, mempersilahkan Luna duduk.


Sembari menunggu pesanan, Kai masih penasaran, apa saja yang terjadi di sana, hingga membuat Luna cemberut. “Siapa yang membuatmu kesal? Katakan padaku, aku akan membuat perhitungan dengannya!”


“Lupakan,” sahutnya cuek. Bersama Kai, Luna bisa menjadi dirinya sendiri, cuek ketika tidak ingin peduli, merajuk ketika tidak sesuai dengan keinginannya. Pria itu akan dengan sabar membujuknya.


Secangkir kopi capuccino untuk Kai, dan milk tea bagi Luna, dan tidak lupa satu slice cheese cake yang dipesan Kai untuk gadis itu, karena saat ditanya mau pesan apa, Luna hanya diam mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Dia masih kesal dengan kenyataan bahwa anak jeng Siska sempat dekat dengan Kai. Dari ujung rambut hingga batas pinggang pria itu yang tampak saat ini di mata Luna, gadis itu mengakui, pesona pria itu memang sangat kuat. Dia bagai patung dewa Yunani yang dipahat sempurna.


Kekesalan Luna semakin bertambah, saat pelayan yang mengantar pesanan mereka melirik Kai, dengan mengulum senyum. Saat Kai mengucapkan terima kasih, gadis itu membalas dengan senyum menggoda, bahkan parahnya, tanpa tahu malunya gadis itu menyentuh kelingking Kai tepat saat meletakkan cangkirnya.


Semua itu tidak luput dari pengamatan Luna.


Hufffh... Luna melempar tatapan jengah ke arah lain.


“Ada apa, Sayang? Apa yang membuatmu begitu kesal?” Kai memilih untuk pindah ke samping Luna. Menyentuh jemari gadis itu. Perhatiannya tertarik melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Senyum mengembang terlukis di wajah Kai. Hatinya menghangat, merasa bangga memiliki gadis cantik yang kini sudah menawan hatinya.


“Kalau kau hanya diam, aku tidak akan tahu apa yang membuat mu kesal? Apakah aku berbuat salah?” Tanyanya dengan suara lembut.


Seorang gadis bernama Luna sudah mengubah seorang Kaisar Tortura. Pria dingin itu, yang selalu mengerutkan kening dan tidak peduli pada apa pun, kini bertekuk lutut di hadapan seorang gadis mungil.


“Kenapa kau memilih menikah denganku, sementara kau sudah dijodohkan dengan putri jeng Siska?” Salak Luna, lepas kendali. Tingkahnya itu sama saja menunjukkan kecemburuannya yang tidak dia sadari.


“Hah?” Kai spontan menarik tubuhnya menjauh sedikit dari wajah Luna. Tidak menyangka kalau hal yang membuat gadis itu kesal adalah masalah perjodohan yang diatur neneknya dulu dengan Kayla, putri Siska.


Melihat tatapan tidak mengerti Kai, Luna semakin kesal. Dia menebak, kalau pria itu akan pura-pura tidak mengerti, mengulur waktu untuk bisa mendapatkan alasan.


“Jadi kau kesal karena di sana mereka membahas rencana perjodohan itu?” akhirnya Kai mengerti. Melihat wajah Luna yang kesal, pecahlah tawanya. Begitu gemas melihat reaksi cemburu istrinya.


Kai menangkup wajah gadis itu, memaksa untuk melihat matanya. “Aku memang pernah ingin dijodohkan oleh Oma dengan Kayla, tapi saat kami bertemu, aku sudah tidak menginginkannya. Aku juga sudah memberitahukan pada Oma, lalu setelahnya, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,” terang Kai.


Penjelasan Kai tampak tidak berarti bagi Luna. Namun, dalam hatinya ada satu ruang yang mulai sejuk setelah sejak tadi terasa sesak.


“Percayalah padaku. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Hanya ada kau dalam hati dan hidupku. Kau ingat yang dulu aku katakan, aku benci dengan kebohongan, maka aku tidak akan mungkin membohongimu,” ucap Kai mendekatkan kepala Luna dan mencium kening gadis itu.

__ADS_1


“Tapi kenapa aku? Banyak gadis yang lebih segalanya dari padaku?” Luna tampaknya lupa kalau kini hatinya sudah mulai peduli pada Kai.


“Jangan ragukan cintaku. Walau di luar sana banyak wanita yang lebih cantik, lebih sempurna darimu, tapi selama bukan kau, aku tidak akan mau. Hatiku yang memilihmu, jangan ragukan itu.


__ADS_2