
Sengatan dari sentuhan itu justru membuat Luna mendongak dan kini pandangannya jatuh pada bibir bawah pria itu. Untuk sesaat Luna sempat berpikir gila, ingin menjilatinya namun, pikiran itu dengan cepat dihalau dan dengan sebuah gerakan yang cepat, pria itu tampaknya bisa membaca pikiran Luna, karena kini sudah mendekat dan ingin mencium gadis bibirnya.
Tentu saja Luna menggeram dan hal itu membuat Lyn tersenyum dan menurunkan kepalanya.
Ternyata pria itu tidak ingin menciumnya. Dia menutupi seluruh tubuh Luna karena ternyata ada orang yang berniat jahat kepada gadis itu. Terbukti ketika sudah mendorong tubuh Lyn, dengan sekuat tenaga menjauh darinya, Luna baru menyadari bahwa ada satu anak panah tertancap di batang pohon tepat di atas kepalanya.
"Dia sudah pergi!" seru si pandai besi memberikan pernyataan yang membuat Lyn bisa bernapas dengan lega.
Lyn mengumpat kesal dan penuh amarah ketika menyadari bahwa di tanahnya sendiri pun ada yang berniat untuk menyakiti istrinya. Dia sadar dan bisa menebak siapa yang menyuruh orang itu untuk memanah Luna. Mereka menginginkan gadis itu mati agar bisa menyalahkan Lyn akan hal itu.
Bola mata Luna masih membulat, melihat anak panah itu yang tertancap dengan sempurna di pohon tempat dia berdiri tadi dan reaksi gadis itu mengundang senyum di wajah Lyn.
"Siapa yang sudah kau buat kesal hingga ingin berniat membunuhmu ketika tiba di tanahku sendiri?" tanya Lyn mencoba mencairkan suasana. Dia tahu saat ini wajah pucat gadis Itu tampak ketakutan karena baru menyadari bahwa ada seseorang yang ingin menghabisinya.
"Kenapa mereka ingin membunuhku? Bisa saja anak panah tadi melesat ke arahmu, jawab Luna setelah berhasil menguasai dirinya.
"Tidak akan ada yang berani membunuhku," jawab Lyn penuh percaya diri. Hanya orang gila dan bosan hidup yang mencoba untuk membunuhnya di tanahnya sendiri.
"Benarkah? Tapi mengapa dari yang aku dengar kekasihmu yang terakhir justru ingin sekali menghabisimu?" Tanya Luna memprovokasi.
Lyn tampak memuja di bawah kulitnya yang seperti tembaga dan hal itu mengundang tawa yang begitu keras dari si pandai besi yang ternyata adalah prajuritnya.
"Brengsek!"umpatnya pada siapa saja yang sudah menceritakan masalahnya dengan Emerald dan hal itu ditebak pastilah teman baiknya, Mate. Hanya mereka berdua yang mengetahui bahwa malam terakhir dia bersama Emerald, gadis itu tidak terima dengan perpisahan dan mencoba untuk membunuhnya.
__ADS_1
Dan kali ini, entah untuk beberapa kalinya si pandai besi, yang ternyata bernama Bigmon, terbahak mendengar ucapan Luna. Dia baru mendengar hal itu yang diyakini pasti benar adanya, kalau sudah Mate yang buka suara.
"Sekarang, lepaskan aku!" Bentak Luna yang mendorong tubuh Lyn lebih jauh hingga dia bisa bebas dari arah pohon itu. Siapa tahu ada lagi yang akan memanahnya.
"Walaupun kau terus-menerus menolakku kurasa kau mungkin akan membutuhkanku istriku," ucap Lyn mencoba berkata lembut yang Luna tahu masih dibuat-buat.
"Aku rasa tidak!" bantah Luna cepat.
"Baiklah kalau begitu. Kau boleh pergi kemanapun yang kau suka tanpa aku," ucapkan Lyn yang yakin bahwa sebentar lagi gadis itu akan mengubah pendiriannya, terlebih setelah apa yang sudah diucapkan wanita itu mengenai dirinya yang merasa lapar dan lelah membutuhkan tempat tidur dan juga makanan.
Luna ingin sekali membantah dan mematahkan kesombongan pria itu namun, bunyi perutnya kembali menyadarkannya bahwa ini bukanlah rumahnya dia tidak bisa bergerak sesuka hatinya untuk mendapatkan makanan jadi dia membutuhkan pria itu untuk menuntunnya dan memberikan perlindungan serta semua kebutuhannya.
Luna menggerutu di dalam hatinya sambil mengikuti langkah Lyn pergi dari tempat itu, dan tentu saja diiringi oleh tawa Bigmon, tapi sebisa mungkin Luna menahan diri untuk tidak melayangkan pandangan benci pada Bigmon.
"Apa?" tanya Lyn yang masih bisa menangkap jelas perkataan wanita itu.
"Tidak ada, aku hanya lelah sekali, ingin tidur, tapi sebelumnya sebaiknya aku mengisi perut ku!"
***
Makan malam penyambutan Luna di dalam istana itu akhirnya dilaksanakan. Gadis itu yang terlalu berlebihan menganggap bahwa dirinya tidak diperdulikan oleh keluarga Lyn, nyatanya Vanessa, sang ibu mertua menyempatkan dirinya untuk menyiapkan semua acara ini, mulai dari memperhatikan koki menyiapkan menu makan malam serta undangan yang hadir malam itu.
Namun, ternyata penyambutan itu tidak membuat Lyn senang. Luna yang duduk di sampingnya yang menunjukkan sikap tidak pedulian akan sekitarnya malah makan dengan penuh semangat di depannya para sepupunya berusaha untuk mencari perhatian kepada istrinya yang tentu saja membuatnya tidak senang.
__ADS_1
Dia tidak mungkin membuat kegaduhan di tempat itu dengan membentak atau memukuli setiap pria yang memandang penuh nafsu kepada istrinya. Akhirnya dia melampiaskan dengan menenggak minuman beralkohol yang cukup banyak hingga hampir membuat Mate ketakutan bahwa sahabatnya itu akan mabuk di saat malam pertamanya nanti.
"Bisakah kau tidak se-menyedihkan ini?" bisik Mate yang mendekatkan dirinya pada Lyn, yang saat itu masih menatap tajam ke depan, melihat sepupunya, Scot yang ingin sekali menggoda Luna.
"Apa?" bentak Lyn masih dengan suara yang direndahkan.
"Hentikan minuman itu kalau kau tidak mau dijadikan bulan-bulanan. Itu hanya Scot, sepupu yang pesolek, yang tidak punya keberanian hanya untuk melihat darah!" ujar Mate yang ikut menatap jijik pada Scot.
"Tapi dia istriku!"
"Lalu? Apakah itu terlalu berat buatmu? Dulu kau bilang kau tidak akan peduli pada istrimu begitu pernikahan yang tidak kau inginkan itu selesai. Kau bahkan sudah bersumpah, itu hanya untuk mematuhi keputusan raja dan itu dengan keadaan terpaksa tanpa melibatkan perasaan ataupun keinginanmu Lantas sekarang mengapa kau tiba-tiba berubah? Mengapa kau marah, Lyn? Atau lebih tepatnya cemburu?" tanya Mate yang ingin memerangkap Lyn dengan ucapannya sendiri.
"Hentikan omong kosongmu itu! Mana mungkin aku memiliki perasaan cemburu kepada orang lain. Aku hanya tidak ingin dia menjadikanku suami yang istrinya tidak setia!" umpat Lyn menggenggam erat garpunya sebagai perwujudan amarah yang tidak terbantahkan.
"Aku yakin suami yang demikian adalah jika sang suami peduli, tapi kau 'kan tidak peduli. Lantas apa yang membuatmu berharap bahwa istrimu akan peduli akan apa yang kau pikirkan?" tanya Mate memburu, tapi Lyn hanya bisa diam. Apa yang dikatakan temannya itu benar.
"Jadi apa maumu? Apa yang harus aku lakukan agar membuatmu lebih tenang? Malam ini kau tampak sangat menyedihkan!" ucap Mate merasa tergelitik.
"Aku ingin kau menyingkirkan Adam, jangan pernah masukkan lagi dia ke dalam kastil ini. Aku tidak ingin dia menebar pesona kepada istriku!"
Mate ingin memperpanjang pembahasan itu, tapi tidak jadi ketika melihat Luna yang sudah menyelesaikan makan malamnya mencondongkan tubuhnya ke arah Lyn yang membuat pria itu dengan sigap memberi perhatian.
"Aku sudah sangat kenyang. Bisakah aku meninggalkan tempat ini dan beristirahat? Aku ingin sekali tidur dan bermimpi indah malam ini," bisik Luna yang merasa enggan kalau harus meninggalkan meja makan malam itu karena di sana masih berada kedua mertuanya.
__ADS_1
"Baiklah. Ayo, kita pergi dari sini!" bisiknya dengan binar di mata. Mate tidak perlu bertindak, karena dia bisa memutus kontak Scot pada istrinya, dengan membawa pergi Luna dari sana.