
Dunia Luna jungkir balik hanya dalam kurun waktu yang tidak bisa dia ingat. Dia terbangun dan mendapati dirinya berada di kamar, di rumah orang tuanya. Dia mengenali kamar itu sebagai kamar tidurnya sejak kecil hingga remaja.
"Aduh, sakit..." keluhnya memijit keningnya, berusaha menghirup napas panjang.
Merasa sudah lebih baik, Luna menurunkan kakinya. Menapaki lantai kamar lalu berjalan ke luar. Sisa ingatan yang dia punya, adalah pertengkaran kemarin malam bersama ayahnya.
Gadis itu meminta izin untuk kuliah di luar kota, tapi kenyataannya, ayahnya tidak setuju, karena merasa khawatir akan keadaan putri semata wayangnya itu. Anak kesayangan tidak mungkin dibiarkan ke hidup jauh dari mereka.
Lagi pula kampus di kota kelahirannya ini juga tidak kalah bagus.
"Akhirnya kau bangun, Nak," sapa ibunya menoleh ke arah langkah yang terdengar mendekati meja makan yang ada di dapur. Ibunya tersenyum, lalu kembali melihat adonan yang tadi sedang dia kerjakan.
"Kau ingin sarapan?" tanya Noni, masih dengan suara lembutnya. Kadang Luna merasa heran, mengapa sikap lembut ibunya tidak menurun padanya, justru sikap pembangkang itu dia dapatkan dari sang ayah.
"Mana ayah?" tanya nya dengan malas.
"Dia menunggumu bangun tadi, tapi kau tidak kunjung keluar kamar, jadi dia mutuskan untuk berangkat kerja," tukas ibunya memberi penjelasan.
"Untuk apa?" susul Luna. Dia masih mencoba mengingat sisa pertengkaran semalam, tapi kenapa tidak bisa ingat? Justru yang melayang memenuhi ingatannya hanya sesosok wajah pria yang begitu tampan, tapi tidak dia kenal. Dia yakin, pria yang berada dalam mimpinya itu belum pernah dia lihat sekalipun, mereka belum pernah bertemu sama sekali.
"Tentu saja untuk bicara dengan mu. Ibu mohon Lun, dengarkan permintaan ayahmu. Dia melakukannya karena tidak bisa jauh darimu. Hanya kau anak kami, mana mungkin sanggup berpisah jauh darimu. Dengar, Nak. Di kota ini juga kita punya kampus yang bagus. Pilihlah kampus bagus yang ada di kota ini.
Tanpa kata, Luna hanya mengangguk. Dia memang tidak punya pilihan, selamanya dia akan tinggal di kota ini saja.
__ADS_1
***
Luna bergegas turun dari lantai tiga, tempat dia mendaftar di kampusnya. Setelah melihat jurusan dan juga fakultasnya ternya tempatnya bagus, dan Luna suka.
Luna tidak yakin, tapi tampaknya dia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Anehnya saat dia menoleh, tidak ada siapapun di belakangnya.
"Kenapa Kau bilang seperti itu?" Luna mengangkat.
"Karena aku selalu melihatmu murung, sejak pertama kali bertemu. Apa kau tidak terima dengan perjodohan ini?" ulang Kai yang ingin meyakinkan gadis itu agar tidak melakukan hal yang tidak dia sukai.
Kembali raut wajah sedih terlukis di sana. Setiap membicarakan pernikahan mereka maka Luna akan merasa hancur. Ingin sekali dia mengatakan isi hatinya.
"Benar, aku tidak menginginkannya. Aku hanya ingin menikah dengan Ben, aku hanya mencintai pria itu. Hati dan tubuhku hanya ingin kupersembahkan untuk Ben seorang!"
Namun, semua itu hanya berani dia katakan di dalam hatinya dan Luna mengutuk ketidakberaniannya.
"Begitu ya, aku tahu mungkin ini terlalu cepat buatmu atau mungkin kau belum ingin menikah tapi Oma susah dibujuk jika sudah ada maunya," sambar Kai yang merasa sedikit sedih dengan kejujuran gadis itu.
Luna menunduk lesu, benar tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari pernikahan ini.
"Aku mungkin bukan pria yang sempurna atau mungkin aku bukan jenis pria yang kau suka tapi aku janji aku akan berusaha jadi yang terbaik buatmu," ucap Kai duduk menyerong, menatap wajah Luna. Gadis itu masih membisu, air matanya merebak dicengkeramnya sisi gaun, agar tidak menetes di pipinya.
"Lun, kau menangis?" spontan Kai menangkup dagu Luna tak kala mata pria itu menangkap tetes bening yang sudah meluncur di pipi mulusnya. Luna hanya terkesiap, sembari menarik diri, semakin besar'lah rasa bersalah di hati Kai.
__ADS_1
"Kau begitu tertekan akan pernikahan ini, apa kau sudah memiliki kekasih? Jika memang kau sudah punya tambatan hati, aku akan bicara pada Oma, jangan takut aku akan membatalkan rencana pernikahan ini."
Pikiran Luna melayang pada Ben kala mendengar ucapan Kai. Dia ingat apa yang dikatakan Ben, kalau sampai Kai membatalkan pernikahan mereka maka Ben akan menghukumnya, tidak sampai di situ saja, pria itu juga akan menjualnya pada pria tua bangka yang sudah lama menginginkannya dan terburuk dari semua itu band akan meninggalkannya.
Sumpah demi apapun, Luna tidak bisa kehilangan Ben. Napasnya adalah Ben, dia bisa mati jika pria itu meninggalkannya.
"Jl, bukan begitu. Aku sedih hanya karena... Sedih karena... Aku ingat pada orang tuaku," ucapnya mencari alibi
"Oh, aku pikir karena sudah ada kekasih pilihan dalam hidupmu. Jangan bersedih, mereka akan bahagia menyaksikanmu kalau berbahagia dengan pernikahan ini. Lun, jujur satu hal yang paling kubenci yang tidak bisa aku maafkan dalam hidup ini adalah penghianatan disertai kebohongan. Apapun kesalahanmu pasti bisa aku maafkan tapi tidak dengan kebohongan," ucap Kai lembut.
Untuk sesaat Luna tertegun, betapa tulusnya perasaan Kai padanya. Itu bisa dirasakannya tapi Luna juga tidak bisa menutup mata dia tidak mencintai pria itu dan ironisnya Luna sudah menipunya mentah-mentah.
"Kenapa kau mau dijodohkan denganku? Bukankah dengan tampang dan juga keadaan finansialmu kau bisa mendapatkan wanita manapun?"
Entah mengapa Luna menanyakan hal itu. Apa urusannya? Bukankah dia tidak peduli dengan perasaan pria itu?
"Aku tidak malu mengakuinya. Pertama kali Oma meminta untuk menemuimu, aku jelas menolak. Ini adalah perjodohan yang dirancangnya untuk kesekian kalinya. Namun, entah mengapa saat itu aku tidak mengerti tapi kini aku paham, mungkin memang kita berjodoh. Maksudku kita memang ditakdirkan untuk bersama."
Ada jeda setelah kalimat pengakuan Kai, lalu dia tersenyum menatap wajah Luna, hingga menimbulkan getar hebat sampai ke dasar hati gadis itu.
"Kau mungkin menganggapku bodoh tapi tidak mengapa. Aku jatuh cinta padamu saat pertama kali bertemu denganmu. Awalnya aku tidak yakin apakah itu benar cinta tapi berjalannya waktu aku yakin kalau memang mencintaimu pada pandangan pertama." Kai menarik tangan Luna menggenggam dengan erat. Mata keduanya saling menatap, untuk sesaat Luna tersesat dalam halusnya ucapan Kaisar.
"Menikahlah denganku, Lun," lanjutnya mengeluarkan cincin dari saku celananya. Cincin yang kini berada di atas telapak tangan Kaisar disodorkan ke hadapan Luna dan sekali lagi Luna kehilangan lidahnya.
__ADS_1
Namun, dengan cepat dia mengingat ucapan Ben lagi untuk memikat pria itu, menikah dengannya dan mewujudkan rencana mereka lalu setelahnya pergi jauh dari pria yang ada di hadapannya ini.
"Aku bersedia."